Wed, 11 Feb 2026
Ceritakanaja / Raihan Devi / Dec 29, 2025

Kabut Desa dan Cerita yang Tidak Kami Duga

Pagi itu kami mulai berkumpul dan berencana untuk melakukan survei ke Desa Ngadas, desa tertinggi di Jawa Timur. Dengan niat yang cukup kuat dan persiapan seperlunya, kami berangkat dengan harapan sederhana: semoga perjalanan berjalan lancar dan semuanya baik-baik saja. Kami belum sepenuhnya membayangkan bagaimana medan yang akan dihadapi, tetapi sejak awal kami tahu perjalanan ini tidak akan mudah.

Perjalanan ini kami jalani bersama dalam satu tim yang berjumlah empat belas orang. Anggota perempuan terdiri atas Devi (aku), Ulya, Qolby, Nisa, Nisrina, Rara, Risma, Khotim, dan Bilqis. Sementara itu, lima teman laki-laki kami adalah Bagas, Arman, Bastian, Albana, dan Sakhowi.

Sejak awal, kami sepakat untuk saling menjaga satu sama lain. Kekompakan itu tidak selalu ditunjukkan dengan tawa dan candaan berlebihan, tetapi lebih pada sikap saling menunggu, memperhatikan, dan memastikan tidak ada yang benar-benar berjalan sendirian.

Kami memulai perjalanan sekitar pukul setengah sembilan pagi. Jas hujan dan perlengkapan lain sudah kami siapkan sejak awal. Semakin jauh perjalanan ditempuh, jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Udara terasa semakin dingin, dan kabut perlahan turun menutupi pandangan.

Dalam kondisi seperti itu, kami lebih banyak diam dan fokus. Sesekali ada obrolan ringan, sekadar untuk memastikan semua masih dalam keadaan baik dan tetap bersama.

Medan perjalanan benar-benar memacu adrenalin. Jalan yang sempit, licin, dan berkelok membuat kami harus ekstra hati-hati. Rasanya seperti berada di adegan film aksi, tetapi ini nyata dan tidak bisa diulang.

Meski begitu, tidak ada satu pun dari kami yang berniat mundur. Justru di tengah kondisi seperti itu, rasa kebersamaan semakin terasa. Kami saling menjaga jarak dan memastikan tidak ada yang tertinggal terlalu jauh.

Di tengah perjalanan, salah satu teman laki-laki kami sempat tertinggal cukup jauh dari rombongan. Kami baru menyadarinya setelah berhenti dan saling memastikan keadaan. Ternyata ia mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Kondisinya tidak sepenuhnya baik, bahkan celananya sampai robek.

Namun, yang paling membekas bagiku adalah sikapnya. Ia tetap berusaha tenang dan meyakinkan kami bahwa perjalanan masih bisa dilanjutkan. Dari momen itu aku belajar bahwa ketegaran bukan berarti tidak merasa sakit, melainkan tentang memilih tetap kuat agar orang lain tidak ikut khawatir.

Perjalanan kami terasa lebih aman karena didampingi oleh tiga orang dari pihak Kecamatan Poncokusumo. Kehadiran mereka sangat membantu, terutama dalam menunjukkan arah dan menjembatani kami dengan pihak desa.

Berkat pendampingan tersebut, kami akhirnya sampai di Desa Ngadas dan dipertemukan dengan Kepala Desa, Pak Kasun, Pak RT, serta perangkat desa lainnya. Dalam satu kali survei, kami bahkan berhasil mendapatkan posko.

Meskipun posko tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi kami, kami menerimanya dengan lapang dada. Dari sini aku mulai memahami bahwa KKM bukan tentang kenyamanan, melainkan tentang kesiapan beradaptasi dengan kondisi nyata di lapangan.

Sekitar pukul setengah sebelas siang, kami akhirnya tiba di Desa Ngadas. Rasa lelah yang sejak tadi tertahan perlahan terbayar. Kabut tipis menyelimuti desa, udara terasa segar, dan suasananya sangat tenang. Desa ini terasa seperti dunia yang berbeda dari hiruk pikuk kota. Kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama para perangkat desa sebagai kenang-kenangan atas pertemuan pertama yang hangat.

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika kami makan bakso di sana. Makan bakso di tengah kabut dan udara dingin terasa sangat nikmat. Suasananya sederhana, tetapi hangat. Kami duduk bersama, menikmati makanan, dan berbincang ringan. Momen kecil itu justru menjadi kenangan yang sulit dilupakan karena terjadi di tempat yang tidak biasa.

Kami juga berkunjung ke rumah warga, termasuk rumah ibu pemilik posko. Sambutan yang kami terima begitu ramah dan tulus. Adik-adik di sana juga sangat sopan dan menyenangkan. Kami berbincang sejenak, melihat lingkungan sekitar, dan merasakan langsung kehidupan masyarakat setempat. Bahkan, kami sempat membuat konten sederhana dengan latar belakang desa yang berkabut. Pemandangannya begitu indah hingga terasa seperti berada di luar negeri.

Hal yang paling membekas bagiku dari Desa Ngadas adalah nilai toleransi yang hidup di dalamnya. Desa adat ini dihuni oleh empat agama sekaligus, namun masyarakatnya hidup berdampingan dengan damai tanpa konflik. Perbedaan tidak menjadi sumber jarak, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari sini aku belajar bahwa toleransi bukan sekadar konsep, tetapi sikap hidup yang dijalani dengan sederhana dan konsisten.

Pengalaman survei ini menjadi pengalaman baru bagiku. Bukan hanya karena medan perjalanan yang menantang, tetapi karena kami menjalaninya bersama. Kami berangkat bersama dan pulang bersama dalam keadaan, alhamdulillah, baik.

Secara pribadi, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-temanku karena mau berjuang bersama, mau saling menunggu, dan mau menghadapi rasa lelah tanpa saling meninggalkan. Di tengah dingin, kabut, dan jalan yang tidak mudah, kebersamaan kalian membuat semuanya terasa lebih ringan.

Desa Ngadas, dengan kabutnya yang tebal dan masyarakatnya yang hangat, akan selalu menjadi bagian dari ingatanku sebagai tempat yang mengajarkanku tentang niat, kebersamaan, dan arti perjuangan yang sesungguhnya.

Pengalaman ini menjadi pengingat bagiku bahwa proses seringkali lebih bermakna daripada hasil. Di balik rasa lelah dan medan yang sulit, aku belajar tentang arti kerja sama, kesabaran, dan rasa syukur. Survei ini bukan sekadar tugas akademik, tetapi bekal pengalaman hidup yang akan selalu kuingat.

 
 
Penulis: Raihan Devi, mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang, penulis pemula yang tertarik pada refleksi cerita, bahasa, dan budaya.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.