Wed, 11 Feb 2026

Setelah Pukul Delapan Lewat

Aku sering bertanya-tanya: bagaimana jika waktu tidak berjalan lurus? Bagaimana jika dosa-dosa kita bukan ditulis di belakang, tapi menempel di depan dada, seperti nomor undian?

Aku tidak pernah hafal tanggalnya. Tapi aku ingat malam itu dingin, bukan karena cuaca, tapi karena jalanan terlalu lengang. Kota kecil ini sedang menyimpan napasnya, menunggu sesuatu. Dan sesuatu itu... datang lewat kami.

Helmi, Dedi, dan aku. Tiga anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah kejuruan, atau sibuk merakit mimpi kecil tentang masa depan. Tapi malam itu, kami lebih tertarik menjadi hantu jalanan. Mengitari tikungan, menyapu aspal dengan suara knalpot yang meraung bak anjing lapar.

“Cari satu aja. Yang sendirian. Yang gampang,” kata Dedi.

Helmi tertawa. Anak itu selalu menjadi yang paling mudah tertawa. Bahkan ketika memegang sabit kecil yang ia bawa di balik jaket. Ia menyebutnya “taring langit”.

Aku? Aku tidak tertawa. Tapi aku juga tidak menghentikan mereka. Karena dalam komplotan seperti ini, diam bisa dianggap pengkhianatan.

Jam delapan lewat sedikit. Langit belum sepenuhnya gelap, tapi suara azan isya terdengar lirih dari arah masjid kecil di tikungan Benteng Raya. Dan di sana, di jalanan kosong yang seharusnya suci oleh keheningan, kami melihatnya.

Seorang pria tua. Jaket kebesaran menggantung di bahunya. Helm miring, motor ringkih, dan kresek putih yang dipeluknya seperti memuat satu-satunya kemewahan hari itu. Ia melaju lambat, tidak karena lemah, tapi karena tahu tak ada yang mengejarnya—setidaknya belum.

“Yang itu saja,” kata Helmi. Nadanya ringan, nyaris seperti menawarkan permen. Tapi malam tak pernah manis bagi orang seperti Pak tua itu. Sabitnya meluncur, menciptakan luka yang sunyi. 

Aku, yang separuh jiwanya masih bertanya, ikut juga. Ragu bukan alasan untuk selamat. Beliau jatuh. Bangkit. Matanya menatap kami, tapi tidak dengan dendam. Justru seolah ingin memaafkan sebelum sempat tahu siapa kami.

Dan justru itu yang membuatku menghantamkan balok ke punggungnya. Karena dalam diamnya, ada yang lebih keras dari amarah. Ia roboh. Kami tertawa. Tapi aku tahu... yang jatuh malam itu bukan hanya beliau. Ada bagian dari diriku yang ikut patah. Dan tak pernah bisa berdiri lagi.

Dua hari setelahnya, aku melihatnya di media massa daring. Judul berita itu dingin, netral, mungkin tak ingin terlibat perasaan: “Petugas kebersihan ditemukan tewas akibat pengeroyokan geng motor. Pelaku masih dicari.” Tak ada nama pelaku. Tak ada deskripsi wajah. Hanya satu kalimat yang membuat layar ponsel terasa seperti belati: “Sempat salat maghrib sebelum pulang.”

Aku diam cukup lama. Mencoba menarik napas, tapi dada terasa seperti dicekik oleh tangan yang tak kelihatan. Kalimat itu—sederhana, ringkas, tenang—tapi menyayat perlahan. 

Aku tak tahu kenapa justru itu yang membuatku lemas. Mungkin karena itu berarti beliau benar-benar bersih. Tidak salah tempat. Tidak salah waktu. Beliau hanya... pulang.

Dan aku? Aku menghalangi pulangnya. Lucunya, komentar yang muncul di bawah berita lebih sibuk menyalahkan “anak-anak zaman sekarang”, “kurangnya didikan agama”, “HP dan medsos”. Tak ada yang menyebut namaku, tentu. 

Tapi rasanya setiap kata itu diarahkan ke mataku. Dan aku tak bisa menatap balik. Karena aku tahu, aku salah. Dan tahu bahwa benar atau salah—keduanya kini tak punya rumah di dalam diriku.

Ada yang sempat melapor malam itu. Seorang ibu dari gang belakang, jendela rumahnya setengah terbuka. Ia mendengar suara bentakan, lalu jeritan—pendek, nyaris seperti helaan napas yang tertahan. Mungkin itu jeritan terakhir seseorang yang tidak sempat meminta tolong. Ia menelepon. Polisi menjawab, “Tunggu saja patroli lewat.” Seakan-akan nyawa bisa menunggu dan darah bisa diberi isyarat untuk tidak mengalir dulu. 

Tapi patroli tak pernah lewat. Yang lewat hanya waktu, dan ketidakpedulian. Tubuh Pak Solihin baru ditemukan pukul sebelas malam. Oleh seorang pengendara, yang awalnya mengira beliau tertidur. Helmnya masih terpasang rapi, kresek putih di tangannya remuk, ayam geprek di dalamnya hancur bercampur debu jalan.

Dan berita? Ringkas, hambar. Laporan polisi menyebut: dugaan penganiayaan. Bukan pembunuhan. Pasalnya ringan. Katanya, karena tidak ada niat. Karena ini “bukan serangan terencana”. 

Tapi batinku memberontak. Jika seseorang dipukul hingga tak bangun lagi, bukankah itu cukup? Jika nyawa melayang karena sabit dan balok, apa bedanya dengan pisau dan peluru?

Aku ingin bertanya pada hukum, sejak kapan luka dihitung berdasarkan niat, bukan akibat? Tapi yang menjawab hanya sunyi. Dan sunyi... tidak pernah diproses secara hukum.

Aku tidak menyerahkan diri. Bukan karena takut. Tapi karena aku tahu, di negeri ini, menyerahkan diri tidak berarti akan diadili dengan adil. 

Penjara tidak selalu dihuni oleh mereka yang bersalah. Dan kebebasan—jika memang itu namanya—sering kali hanya berarti berjalan tanpa borgol, tapi tetap dikurung oleh rasa bersalah.

Aku pergi ke kota sebelah. Menumpang di kamar sempit milik sepupu jauh yang tak pernah banyak bertanya. Kupakai alasan paling umum: “Cari kerja.” Ia tak percaya, aku tahu. 

Namun ia juga tidak menolak. Mungkin karena kami sama-sama tahu, ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan tanpa mengulang seluruh masa lalu.

Aku hidup seperti bayangan di tempat baru ini. Tidak mencolok, tidak menghilang. Setiap malam, aku duduk di pojok kasur, membayangkan ulang kejadian itu. Menulis catatan di kepala, lalu menghapusnya sendiri. 

Kebenaran, kupelajari, adalah barang mewah. Mahal, rapuh, dan jarang dipakai. Kebohongan lebih praktis di dunia kami dan lebih ringan. Yang paling menyedihkan—lebih diterima.

Kadang aku bertanya, apakah masih ada cara untuk kembali. Tapi aku tahu bahwa yang kutinggalkan bukan tempat. Yang hilang dariku... adalah arah.

Setiap malam, suara motor masih melintas di bawah jendela. Bukan kami, tentunya. Geng lain, wajah baru, niat lama. Kota ini seperti mesin penggiling yang terus menyala. Menggiling masa remaja menjadi serpihan-serpihan bising tanpa arah. Menghancurkan batas antara keberanian dan kebrutalan.

Aku kadang melihat berita. Kadang tidak. Tapi aku selalu membuka ulang satu foto Pak Solihin. Foto yang kuambil diam-diam dari laman berita daring lokal. Wajahnya biasa. Sangat biasa. Terlalu biasa untuk mati seperti itu.

Wajah seperti bapakku. Seperti tetanggaku yang selalu meminjam obeng. Seperti siapa pun yang hanya ingin pulang dari kerja dan makan malam bersama keluarganya.

Tapi malam tak memberi izin. Malam, rupanya, tak bisa membedakan siapa yang berdosa dan siapa yang hanya ingin hidup tenang. Dan kota ini? Tak pernah benar-benar bersedih. Ia terus bergerak. Tubuh yang jatuh kemarin hanyalah jeda kecil dalam sirkulasi rutin.

Aku pernah datang ke masjid itu—tempat terakhir beliau shalat, beberapa menit sebelum dunia memutuskan untuk tidak lagi memberinya waktu. Aku tidak masuk, hanya duduk di serambi. Angin sore menyinggung tengkukku, dan entah kenapa, rasanya seperti sentuhan yang menyalahkan.

Seorang bapak tua duduk di sudut, membaca Al-Qur’an. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya melihatku sekilas. Tapi tatapan itu cukup. Ia seperti tahu ada luka yang tak bisa dibasuh air wudhu.

Sejak malam itu, aku sering bermimpi. Di tikungan itu juga, aku berdiri—tak bisa bergerak. Aku seakan tertanam dalam aspal. Orang-orang lewat, tapi tak satupun melihatku. 

Lalu Pak Solihin muncul. Duduk di pinggir jalan. Tersenyum. Di tangannya, sebungkus ayam geprek. Ia makan dengan tangan kanan, pelan. Mungkinkah ia tahu itu akan jadi makan malam terakhirnya? Tangannya gemetar. Tapi matanya... tidak.

Aku bangun dengan keringat dingin. Tapi tidak pernah berteriak. Karena rasa bersalah itu tidak datang dengan dentuman. Ia datang perlahan, dan justru itu yang membuatnya tinggal lebih lama…

Dua minggu lalu, Helmi ditangkap. Bukan karena kasus kami. Tapi karena ia memukul orang lain, di jalan protokol, disorot CCTV, dan akhirnya viral. Ia bahkan tertawa saat difoto. 

Wajah yang sama—sombong, tanpa bayang dosa. Polisi bilang, “Pelaku lama.” Seolah semua bisa dirangkum dalam satu label, lalu dikunci dengan komentar basa-basi.

Tapi nama Pak Solihin tidak disebut, tak sekali pun. Tubuhnya seolah sudah terlalu tua untuk diperjuangkan. Yang sudah dikubur, ikut terkubur dari catatan hukum.

Aku membayangkan tumpukan kertas di kantor polisi. Laporan-laporan yang menunggu tanda tangan atau amplop. Dan kasus ini... hanyut. Tak hilang dan tidak juga pernah ditemukan. 

Entah siapa yang harus bicara duluan: uang, atau korban. Tapi yang pasti, korban tak punya suara. Dan uang? Ia bicara dengan dialek yang hanya dimengerti segelintir orang.

Aku, yang dulu menyangka keberanian bisa ditegakkan dengan kekerasan, kini tahu: keadilan itu bukan urusan benar atau salah. Tapi siapa yang cukup penting untuk diperjuangkan.

Aku pernah mencoba menulis surat pengakuan. Tapi entah harus ditujukan ke mana. Polisi? Sibuk dengan acara seremoni. Media? Sibuk mencari hal yang lebih mengundang klik. Keluarga korban? Mungkin sudah terlalu lelah untuk mendengar nama yang justru memperpanjang luka.

Jadi aku menulis di tempat lain. Di kepala. Di detik-detik kosong antara tidur dan terjaga. Aku menulis di suara-suara yang tak pernah keluar dari mulutku.

“Saya ikut. Tapi saya tahu, ikut bukan berarti tak bersalah. Saya memukul. Saya melihat beliau jatuh. Dan saya… bangga.” 

Ya, malam itu, saya bangga. Bukan karena berhasil. Tapi karena merasa hidup. Dan saat hidup terasa kosong, bahkan rasa bersalah pun bisa terasa seperti pencapaian.

Kini, aku tak yakin surat itu akan berguna. Karena surat tak pernah bisa menghidupkan kembali yang telah hilang. 

Ia hanya tanda: bahwa yang menulisnya masih bernafas, meski jiwanya tak lagi utuh. Dan entah sampai kapan aku harus menyimpan surat yang tak bisa dikirim ini—selain membacakannya, diam-diam, dalam hati yang pelan-pelan menjadi sunyi.

Kadang aku lewat di jalanan kecil dekat taman kota. Di sana, anak-anak muda duduk berkerumun. Wajah mereka masih segar, tapi matanya sudah gelap oleh kebanggaan semu. 

Mereka tertawa keras, mencoret-coret bodi motor dengan cat semprot perak, seperti seniman yang sedang merayakan kerusakan. Obrolan mereka ringan, tapi menyentak: siapa yang “takluk” malam sebelumnya, siapa yang “dibikin tiarap,” siapa yang berani membawa sajam paling tajam.

Aku hanya berdiri tak jauh. Ingin bicara. Ingin sekali mendekat dan berkata, “Kalian akan menyesal. 

Suatu malam akan datang ketika suara tawa itu berubah menjadi gema yang tak kalian pahami. Dan kalian akan mulai melihat wajah-wajah korban di mimpi kalian sendiri.”

Tapi mulutku tak bergerak. Karena aku tahu, tidak ada yang mau mendengar. Tidak di zaman ini. Zaman di mana nasihat terdengar seperti gangguan, dan kesadaran dianggap kelemahan. 

Dunia sekarang... tidak butuh peringatan. Ia hanya butuh dua peran: penonton dan pelaku. Dan pelaku—mereka yang berani merusak sesuatu lebih dulu—selalu dapat sorotan lebih terang.

Mereka ingin dikenal. Sama seperti aku dulu. Dikenal, walau karena luka orang lain. Di antara dentuman knalpot dan lampu strobo, mereka tidak sadar bahwa kehormatan yang mereka kejar hanyalah ilusi yang rapuh. Seperti buih di atas air got—berkilau sebentar, lalu hilang diam-diam.

Aku melangkah lagi. Meninggalkan mereka. Tapi bayangan mereka tetap tertinggal. Karena mungkin, yang kutinggalkan itu bukan mereka—melainkan diriku sendiri, di usia yang sama, dengan kegagalan yang mirip... hanya belum jatuh cukup dalam untuk merasa perihnya.

Aku tidak tahu akhir cerita ini. Mungkin suatu pagi akan datang ketika pintu kamarku diketuk, dan aku harus berjalan ke kantor polisi tanpa perlu banyak kata. Mungkin juga aku akan terus hidup begini—dalam perantara antara yang nyata dan yang telah kubunuh. 

Mungkin surat ini dibaca oleh seseorang yang peduli. Mungkin malah dibuang, tanpa sempat membuka lipatannya. Aku tak bisa menebak. Tapi setidaknya, aku ingin menyisakan jejak.

Bahwa aku pernah ada. Bahwa ada seseorang yang mati karena tanganku.
Bahwa negara ini, pelan dan diam, menyaksikan tapi tidak segera bertindak. Dan dalam diamnya, sesuatu ikut mati bersama kami.

Aku tak lagi berharap pengampunan. Aku bahkan tak yakin layak memintanya. Tapi setiap luka butuh pengakuan. Dan inilah milikku—sebuah luka yang tak sembuh, karena tak pernah benar-benar dibuka.

Dan ketika malam kembali turun dengan suara knalpot yang tak berubah,
ketika ayam geprek masih dibungkus di warung kecil itu, dan motor-motor masih berlalu seperti biasa, mungkin hanya satu hal yang benar-benar berbeda:

Aku, yang kini tahu, tidak semua luka bisa diobati oleh waktu. Beberapa... tidak pernah tertutup. Tidak karena parah, tapi karena dunia lebih suka menutup mata. Dan aku, tak lagi punya tempat untuk berpaling. Hanya jalan kosong, dan suara yang tinggal di kepala.

 
 
Penulis: Muhammad Eko Oktaviansyah, berdomisili di Bengkulu dan menjadikan menulis sebagai cara untuk memahami dan menyuarakan hidup. Ia mencintai sastra, khususnya cerpen dan novel bertema sosial, kemanusiaan, dan lingkungan. Bagi penulis, cerita adalah ruang bagi suara-suara yang sering terpinggirkan.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.