Wed, 11 Feb 2026
Esai / Amanda Mayna Windiyani / Dec 29, 2025

Bahasa Petjoek di Era Hindia Belanda

Di era modern seperti sekarang ini, tentunya wajar jika terjadi fenomena percampuran bahasa yang disebabkan oleh digitalisasi. Contoh sehari-hari yang sering kita dengar yaitu bahasa Jaksel. Bahasa yang muncul dari percampuran antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.

Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bahasa Jaksel digunakan oleh kalangan menengah ke atas atau kalangan atas, anggapan tersebut muncul karena tidak semua orang lancar berbahasa Inggris dan orang-orang yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dianggap keren dan gaul.

Nah, percampuran bahasa seperti itu juga pernah terjadi di era kolonial Belanda, bahasa tersebut bernama bahasa Petjoek. Bahasa itu juga menjadi penanda status sosial orang-orang pada zaman kolonial.

Bahasa Petjoek lahir dari pengaruh kebudayaan Indis di Hindia Belanda, namun kebudayaan Indis tidak serta merta menyebar dengan mudah ke seluruh Nusantara. Bahasa Petjoek ini berkembang dan banyak digunakan di Jawa Timur seperti Surabaya dan Malang Raya. 

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fatimah & Niwandhon tahun 2018, bahasa Petjoek adalah bahasa yang lahir dari percampuran bahasa Jawa dan bahasa Belanda. Bahasa Petjoek juga memiliki nama lain yaitu bahasa liplap. Namun, karena “level” bahasa Belanda lebih tinggi, makanya bahasa Petjoek lebih banyak menggunakan kosa kata dalam bahasa Belanda.

Tak hanya bahasa Jawa dan Belanda, bahasa Petjoek juga mengambil sedikit unsur bahasa Melayu Rendah. Selain itu, peran Nyai (Istri tidak sah dari pria Belanda) juga menjadi penyebab lahirnya bahasa Petjoek.

Hal ini disebabkan karena anak-anak yang lahir dari pernikahan Belanda dan Jawa menggunakan bahasa Jawa atau Melayu Rendah dengan ibu mereka karena tidak semua Nyai mendapatkan kesempatan untuk belajar bahasa Belanda. Dalam buku Het Petjoeh de taal van de straat, disebutkan bahwa bahasa Petjoek sering digunakan di jalanan oleh anak-anak yang memiliki darah campuran Indo-Belanda. Mereka menggunakan bahasa Petjoek untuk memamerkan darah biru mereka. 

Penelitian dari Bulan tahun 2018 menyebutkan bahwa orang-orang Belanda menganggap bahasa Petjoek sebagai “broken dutch” karena tidak sesuai dengan struktur kalimat maupun tata bahasa dalam bahasa Belanda.

Apalagi di dalam penelitian Fatimah & Niwandhon tahun 2018 mengatakan jika mulai banyak anak-anak Eropa yang mulai berbahasa Petjoek karena berkomunikasi dengan temannya. Dalam De Indische Courant tanggal 17 Juni 1930, para orang tua berinisiatif untuk mendatangkan guru dari Eropa untuk mengajarkan anak-anak mereka bahasa Belanda dan bahasa Eropa lainnya. 

Dalam kajiannya, Bulan (2018) mengidentifikasi beberapa struktur bahasa Petjoek yang tidak sesuai dengan struktur kalimat bahasa Belanda. Contohnya seperti “Naar waar?” yang artinya “Ke mana?” sedangkan dalam bahasa Belanda yang benar adalah “Waar ga je naartoe?”.

Contoh selanjutnya seperti penghapusan kopula “zijn” yang bersifat wajib dalam bahasa Belanda.Misalnya dalam kalimat bahasa Petjoek, yaitu “Jij verkouden, Nenek? Ja, Nenek ziek”. Dalam bahasa Belanda, kalimat yang benar adalah “Ben jij verkoud, Nenek? Ja, Nenek is ziek”. Selain itu, bahasa Indonesia dan Jawa juga sering menggunakan sufiks, “Coba jij breng(-ken)” yang artinya “Coba kamu bawa(-kan)”.

Kalimat tersebut juga menggunakan kata “coba” sebagai penanda kalimat imperatif. Dalam bahasa Indonesia umumnya menggunakan kata kerja dasar setelah kata kerja modal, sedangkan dalam bahasa Belanda, ketika menggunakan kata kerja modal, maka kata kerja dasarnya diletakkan paling akhir.

Contohnya “Ik zal opendoen de deur”yang seharusnya “Ik zal de deur opendoen”. Bahasa Belanda selalu menggunakan artikel “de” atau “het” sebelum nomina, sedangkan bahasa Indonesia tidak.

Berbeda nasib dengan bahasa Jaksel yang dianggap elit, meskipun banyak perbedaan tata bahasa juga, banyaknya perbedaan tata bahasa tersebut membuat status bahasa Petjoek menjadi bahasa low prestige atau bahasa rendah. Orang Belanda sendiri sulit untuk memahami bahasa Petjoek jika mereka belum pernah belajar bahasa Jawa, Melayu, atau Indonesia.

Pada masa itu, warna kulit serta bahasa sangat berpengaruh terhadap status sosial. Banyak keturunan Indo-Belanda yang berusaha menonjolkan sisi Belanda mereka dengan berbicara bahasa Belanda meskipun tidak sempurna untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak. 

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Fatimah & Niwandhon tahun 2018, sayangnya bahasa Petjoek tidak lagi digunakan sejak Jepang tiba di Nusantara pada tahun 1942 karena pemerintah Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan menggantinya dengan bahasa Jepang.

Tidak banyak peninggalan tentang bahasa Petjoek, karena bahasa Petjoek merupakan bahasa lisan yang dituturkan dari mulut ke mulut sehingga jarang ada sumber tulisan tentang bahasa Petjoek. Namun, ada beberapa kata-kata pendek dari bahasa Petjoek yang masih familiar seperti tjis (cis), wah, kok, lho, en toch, ah, kras (keras).

 

Penulis: Amanda Mayna Windiyani, mahasiswa Aktif Prodi Belanda Universitas Indonesia.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.