Pica & Generasi Baru Ala Soe Hok Gie
Akhir Desember kemarin, untuk pertama kalinya saya berdiri di titik tertinggi Pulau Sulawesi, Puncak Rante Mario, Pegunungan Latimojong dengan ketinggian 3.478 Meter Di atas Permukaan Laut. Perjalanan kali ini sangat menarik karena Pica turut serta, seorang anak perempuan usia tujuh tahun.
Barangkali timbul pertanyaan di benak kita semua, orang tua gila mana yang mengizinkan anaknya disiksa oleh jalur Latimojong? Jalur terjal, nyaris tegak, penuh akar, bahkan tidak sedikit track harus menggunakan webbing untuk melaluinya.
Empat hari bersama Pica, saya teringat soal Generasi Baru yang dipikirkan oleh Soe Hok Gie. Soe Hok Gie atau akrab disapa Gie barangkali terdengar asing, namun bagi pecinta alam nama tersebut adalah panutan, teladan, dan idola khususnya bagi penulis.
Jejaknya abadi, ia bisa kita temui dalam karyanya: Catatan Seorang Demonstran, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, dll. Salah satu hal menarik tentang Gie adalah pokok pikiran tentang Generasi Baru.
Soe Hok Gie memandang Generasi Baru sebagai harapan perubahan bagi bangsa yang sedang mengalami krisis moral, politik, dan keadilan. Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton atau ikut larut dalam arus kekuasaan yang menyimpang.
Generasi Baru harus berani berpikir kritis, bersikap jujur, dan memiliki keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran, meskipun hal itu berisiko bagi diri sendiri. Gie menekankan bahwa intelektual muda seharusnya tidak mencari keuntungan pribadi atau jabatan, tetapi mengabdikan ilmunya untuk kepentingan rakyat.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan tidak lahir dari sikap apatis dan kompromi, melainkan dari kesadaran, idealisme, dan tindakan nyata. Generasi Baru diharapkan mampu menjaga integritas, menolak ketidakadilan, serta berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.
Manifestasi Generasi Baru
Nafeeza Prilia Randa akrab disapa Feeza, meski saya lebih senang memanggilnya Pica. Usianya masih sangat belia—baru duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.
Di usia seperti itu, kebanyakan anak mungkin menghabiskan libur sekolah dengan bermain boneka, asyik dengan gawai, bermain masak-masakan, atau berjalan-jalan santai bersama keluarga ke tempat yang mudah dijangkau. Namun Pica memilih jalan yang berbeda. Alih-alih bersantai, ia justru ikut mendaki gunung, sebuah aktivitas yang bahkan tak jarang membuat orang dewasa kewalahan.
Sepanjang perjalanan, sejak di atas mobil hingga turun gunung banyak hal yang dipertanyakan oleh Pica. Salah satunya ketika melihat jalan yang tertimbun tanah bekas longsoran, tiba-tiba pertanyaan keluar dari mulut kecilnya.
Kenapa bisa longsor? Semua orang di atas mobil berusaha menjawab pertanyaan Pica agar mudah dipahami. Kujawab, coba perhatikan area sekitarnya, semua sudah gundul. Tidak ada lagi pohon yang mampu menyerap air dan menopang tanah tersebut agar tetap kokoh, karena itu longsor dengan mudah terjadi.
Di Pos 7 jalur pendakian, kami berhenti sejenak untuk memasak makan siang. Sambil menunggu nasi matang dan aroma masakan mulai tercium, kami mengganjal perut dengan beberapa camilan sederhana. Saya sempat memberikan camilan itu kepada Pica, disertai pesan singkat agar bungkusnya tidak dibuang sembarangan.
Yang membuat saya tersenyum, Pica tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia justru menepuk pelan kantong celananya yang sudah penuh oleh sampah, lalu menatapku dengan senyum tipis.
Seolah ingin berkata, “Tenang, sebelum om mengingatkan pun, itu sudah saya lakukan.” Sebuah respons sederhana, tapi cukup memberi makna tentang kepedulian kecil yang seringkali luput diperhatikan.
Selama berada di gunung, menurut ayahnya yang turut dalam perjalanan, Pica menunjukkan sisi diri yang berbeda. Ia menjadi lebih mandiri dan sigap.
Pica ikut terlibat memasak untuk memenuhi kebutuhan tim—hal sederhana, tetapi penuh makna. Menariknya, kegiatan seperti ini justru jarang, bahkan hampir tidak pernah ia lakukan ketika berada di rumah. Gunung menjadi ruang belajar baginya, tempat ia tumbuh lebih berani dan bertanggung jawab.
Pada titik ini, semua pertanyaannya yang polos, keberaniannya melangkah, serta rasa tanggung jawab yang ia tunjukkan sepanjang perjalanan—di usianya yang masih sangat belia—membuat saya teringat pada gagasan Generasi Baru yang pernah diharapkan oleh Gie.
Generasi yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga berani mengalami, belajar langsung dari kehidupan, dan bertanggung jawab atas setiap langkah yang diambil.
Pada akhirnya saya paham, orang tuanya bukanlah orang yang nekat apalagi “gila”. Justru di sanalah letak cara mendidik mereka. Pica tidak disiksa, tidak dipaksa melampaui batasnya. Ia diajak belajar langsung dari alam, dari perjalanan, dari kebersamaan—tanpa harus sepenuhnya menggantungkan harapan pada ruang persegi yang kita sebut sekolah.
Pengalaman mengajarkan bahwa belajar tidak selalu terjadi di bangku kelas. Ia bisa hadir di mana saja, dan dari siapa saja.
Generasi baru hanya akan tumbuh jika orang tua berani terlibat dan mendukung proses tumbuh kembang anak-anaknya secara utuh. Generasi yang kelak tidak hanya cerdas, tetapi juga berani, peduli, dan mampu membawa bangsa ini kembali pada porosnya.
Penulis: Muhajirin, Aktif di Green Youth Celebes - turut serta mengkampanyekan berbagai isu lingkungan.