Wajah Kurikulum Merdeka di Jantung Kota
Sebagai mahasiswa PGSD semester 4 yang sedang menjalani
observasi di salah satu SD Negeri di jantung kota Bone, ekspektasi saya
terhadap Kurikulum Merdeka cukup tinggi. Melalui pengamatan berkala setiap satu
kali seminggu sejak 14 Februari hingga April 2026, saya membayangkan sebuah
ekosistem pendidikan yang dinamis, di mana teknologi dan kemerdekaan belajar
benar-benar hidup melalui pendekatan deep learning. Namun, realita mingguan
yang saya saksikan justru menyuguhkan ironi yang mendalam.
Secara ideal, Kurikulum Merdeka dirancang agar siswa
melewati tiga tahapan esensial dalam belajar: memahami materi secara mendalam,
mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan nyata, dan merefleksikan apa yang
telah dipelajari. Ketiga tahapan ini adalah jantung dari kualitas pembelajaran
yang memerdekakan.
Namun, apa yang saya temukan di lapangan justru sebuah
anomali. Jangankan mencapai tahap refleksi atau aplikasi, tahap memahami pun
sering kali tidak tersentuh karena proses pembelajaran itu sendiri sering kali
tidak terjadi di dalam kelas.
Kesenjangan ini terlihat sangat nyata melalui fenomena kelas
kosong yang justru lebih sering saya temui di kelas bawah. Padahal, kelas bawah
adalah fondasi dasar bagi siswa untuk mengenal dunia literasi dan numerasi.
Sebagai mahasiswa yang tugas utamanya adalah observasi dan bukan mengajar, saya
justru lebih sering diarahkan untuk sekadar mengisi kelas kosong tersebut agar
siswa tidak berkeliaran di lapangan sekolah. Di sana, peran saya berubah
menjadi fasilitator dadakan yang memberikan ice breaking seru-seruan hanya agar
kelas tetap kondusif.
Ini adalah tamparan keras bagi ekspektasi kurikulum baru.
Bagaimana siswa di kelas bawah bisa membangun fondasi untuk memahami,
mengaplikasikan, apalagi merefleksikan ilmu pengetahuan, jika di jam pelajaran
mereka justru tidak mendapatkan proses pembelajaran secara berkelanjutan?
Digitalisasi juga menyisakan catatan tersendiri. Di sekolah
ini, terdapat fasilitas luar biasa berupa TV layar lebar touch screen di kelas
6 yang telah digunakan untuk materi interaktif seperti tata surya dan pendukung
kegiatan Pesantren Kilat.
Namun, di sisi lain, saya juga melihat perangkat
tersebut digunakan siswa untuk memutar lagu di YouTube ketika jam kosong
ataupun menunggu jam pulang. Sementara itu, kontras fasilitas terlihat di kelas
lain di mana perangkat dasar seperti proyektor belum terpasang atau mungkin
memang belum tersedia untuk mendukung digitalisasi pembelajaran harian.
Energi sekolah nampaknya masih banyak terserap pada
rutinitas fisik seperti kerja bakti, shalat bersama, senam, dan upacara.
Aktivitas komunal ini memang sangat baik untuk pembentukan karakter, namun
harus diiringi dengan ketersediaan proses belajar di dalam kelas yang
konsisten.
Kurikulum Merdeka berisiko hanya menjadi nama baru untuk kebiasaan
lama jika tiga tahapan deep learning dikesampingkan demi rutinitas seremonial.
Tentu, sebagai mahasiswa yang hanya datang seminggu sekali,
saya tidak melihat gambaran utuh setiap harinya sebelum atau setelah masa
observasi saya. Namun, potret cuplikan selama dua bulan ini memberikan pesan
yang jelas bahwa kemajuan pendidikan di jantung kota tidak bisa hanya diukur
dari megahnya fasilitas.
Wajah Kurikulum Merdeka di pusat kota Bone saat ini
masih berada dalam persimpangan jalan antara ekspektasi tinggi dengan realita
kelas yang sering kali hampa akan proses belajar. Perangkat teknologi secanggih
apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran seorang guru yang mampu
membimbing siswa melalui tahapan memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan
ilmu pengetahuan.
Penulis: Marsya
Puspita. M, Marsya Puspita M. adalah mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar (UNM) Kampus Bone. Saat ini berdomisili di Bone, Sulawesi Selatan. Selain berkuliah, ia aktif mengikuti perkembangan isu pendidikan dan sosial.