Syukur Adbel di Tengah Kerasnya Jakarta
Adbel menatap langit-langit kamar kosannya yang sempit di tengah hiruk-pikuk ibu kota Jakarta, usianya kini menginjak dua puluh lima tahun namun kehidupan terasa berjalan di tempat.
Jam tangan digital Casio A-168 di pergelangannya seolah mengingatkan betapa cepat waktu berlalu ,sebagai pekerja kantoran biasa dengan gaji pas-pasan bertahan hidup di Jakarta adalah perjuangan keras.
Beban mentalnya semakin menumpuk karena pekerjaan yang melelahkan dan tuntutan keluarga.
Tuntutan dari keluarga di kota sebelah seakan menutup mata pada realitas ekonomi saat ini yang serba mahal, percakapan telepon dengan ibunya semalam masih terngiang jelas di telinga Adbel "kamu itu sudah dua puluh lima tahun Bel, kapan mau mulai cicil rumah sendiri dan lekas cari calon istri," tuntut ibunya dengan nada yang membuat dada Adbel terasa sangat sesak dan kesulitan untuk mengambil napas.
Adbel sudah berusaha menjelaskan kondisinya dengan jujur kepada sang ibu, "gaji Adbel baru cukup buat makan sehari-hari dan bayar kosan Bu, boro-boro mau cicil rumah yang harganya sekarang gila-gilaan," jawab Adbel dengan suara bergetar menahan gejolak rasa frustrasi yang mendalam, namun pembelaan itu tidak meredakan ekspektasi keluarganya yang terlanjur tinggi.
Ibunya justru membandingkannya dengan anak tetangga yang terlihat jauh lebih sukses.
"tapi lihat itu si Rian anak Tante Sumi, dia seumuran kamu sudah bisa beli mobil dan kerja enak di luar kota," balas ibunya tanpa ampun ,perbandingan tajam itu perlahan membunuh rasa percaya diri Adbel sebagai laki-laki dewasa ,awalnya Adbel merasa sangat gagal dan tertinggal jauh dari teman-teman masa kuliahnya yang kini terlihat mapan, setiap kali membuka media sosial layar ponselnya selalu dipenuhi dengan pencapaian gemilang orang lain.
Fenomena hyper-flexing di media sosial ini seolah menjadi standar baru yang wajib diikuti oleh anak muda zaman sekarang.
Hal itu sempat membuat mental Adbel jatuh tersungkur dan merasa tidak berguna, namun perlahan akal sehat Adbel mulai bekerja menyaring semua informasi beracun dari dunia maya tersebut, dia sadar betul bahwa hyper-flexing di media sosial seringkali hanyalah sebuah ilusi raksasa yang menipu dan menutupi kenyataan sebenarnya.
Banyak orang memaksakan diri mengambil pinjaman hanya demi sebuah pengakuan sosial yang semu, Adbel menyadari bahwa di tengah kondisi ekonomi yang susah ini bertahan hidup saja sudah merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan.
Memaksakan diri membeli rumah baru di tengah resesi ekonomi seperti ini adalah tindakan bunuh diri finansial, dia sama sekali tidak ingin menjadi korban gengsi yang hanya akan mewariskan tumpukan hutang mencekik leher.
Hari Minggu ini Adbel mengambil keputusan tegas untuk menjauh dari segala hiruk-pikuk tuntutan sosial yang melelahkan jiwanya.
Adbel duduk bersandar di pojok kamarnya sambil memasang headset murah, dia mendengarkan dentuman musik metal favoritnya yang sukses memberikan rasa tenang dan meredam suara-suara sumbang di kepalanya, di pangkuannya terbentang sebuah buku sastra klasik yang selalu berhasil membawanya lari sejenak dari realitas ibu kota yang kejam.
Di sudut kamar kos yang sempit ini Adbel menemukan kedamaian yang tak bisa dibeli dengan segepok uang, dia menyadari bahwa kedamaian sejati justru bersembunyi di balik hal-hal sederhana yang sering dilupakan orang, daripada terus memelihara stres sampai gila lebih baik dia mulai mencoba bersyukur atas apa yang dimilikinya, Adbel sangat bersyukur karena masih memiliki pekerjaan halal dan kesehatan fisik yang prima.
Dia memilih untuk menikmati anugerah kecil seperti seduhan kopi panas yang menemani hari liburnya, kebahagiaan sesungguhnya bukanlah tentang seberapa banyak harta yang dipamerkan melainkan seberapa tenang hati kita menerima takdir.
Biarlah orang lain di luar sana sibuk beradu kekayaan semu dengan aksi hyper-flexing mereka yang melelahkan, Adbel akan tetap teguh berjalan dengan ritmenya sendiri tanpa membiarkan standar hidup orang lain merenggut kebahagiaannya.
Adbel tersenyum tipis menyambut sisa hari Minggunya dengan hati yang kini terasa jauh lebih lapang dan bebas dari belenggu ekspektasi.
Kesunyian di kamar kos itu menjadi saksi bisu tentang pemuda kelas pekerja yang berhasil memenangkan pertarungan melawan kerasnya zaman, dia adalah manusia merdeka yang menolak tunduk pada keserakahan sosial karena hidupnya terlalu berharga untuk sekadar dihabiskan demi validasi semata,
Penulis: Jovi Fernando Setiawan, kelahiran Jepara, adalah penikmat sastra dan musik yang kini menempuh S1 Bahasa Inggris di Universitas Terbuka. Setelah tiga tahun berkarier sebagai Assistant Chief of Store Alfamart, ia kini menjalani peran baru sebagai pemandu wisata di SEKUKUSAN Desa Wisata Lerep, memadukan pengalaman profesional dengan minat belajarnya.