Mon, 09 Mar 2026
Cerpen / Ahmad Rifqi Syihabuddin / Mar 08, 2026

Aku dan Kau di Malam yang Tenang

Guncangan itu datang lagi malam ini.

Aku tidak benar-benar tahu dari mana asalnya. Mungkin dari televisi tetangga yang terlalu keras memutar berita malam. Mungkin dari video yang tanpa sengaja kau buka di ponselmu. Atau mungkin hanya dari kepalaku sendiri, kepala yang belakangan ini terlalu penuh oleh gambar-gambar kota yang terbakar dan orang-orang yang berlari tanpa tahu harus pergi ke mana.

“Kau dengar?” kataku pelan.

Kau mengangkat kepala dari cangkir teh yang masih mengepulkan uap tipis. Cahaya lampu dapur membuat uap itu terlihat seperti kabut kecil yang malas pergi.

“Apa?”

“Guncangan itu lagi.”

Kau diam sebentar, seperti mencoba memastikan apakah dunia memang sedang bersuara atau hanya imajinasiku yang terlalu jauh berjalan.

“Iya,” katamu akhirnya.

Aneh rasanya. Dunia seperti sedang runtuh di suatu tempat, tetapi di ruang kecil ini semuanya berjalan seperti biasa. Lampu kuning menggantung di atas meja. Jam dinding berdetak malas. Dan seekor kucing tidur meringkuk di kursi dekat jendela.

“Kucing itu tidur lagi,” katamu.

“Yang dekat jendela?”

“Iya. Yang kainnya sudah robek itu.”

Aku menoleh. Kursi itu memang sudah lama rusak. Kain pelapisnya robek di beberapa bagian, dan busa di dalamnya menyembul keluar seperti luka yang dibiarkan terlalu lama terbuka.

“Dia selalu memilih tempat yang rusak,” kataku.

Kau tersenyum tipis.

“Mungkin karena hangat.”

Angin malam menyelinap dari sela jendela yang tidak pernah benar-benar rapat. Tirai bergerak pelan, seperti seseorang yang mengantuk dan hanya setengah sadar.

“Tadi aku lihat berita,” kataku.

Kau menaruh cangkir tehmu di meja.


“Apa lagi?”

“Harga beras naik.”

Kau mengangguk kecil. Tidak terkejut.

“Dan minyak,” tambahku.

Kau memandang ke arah jendela sebentar sebelum berkata,

“Orang-orang di kafe tadi siang membicarakannya seperti cuaca.”

Aku tertawa pendek.

“Memang sekarang perang seperti cuaca,” kataku.

“Terjadi di tempat lain, tapi tetap sampai ke jendela kita.”

Di langit-langit, kipas angin berputar lambat. Sudah lama suaranya tidak halus lagi. Setiap putaran menghasilkan bunyi kecil: krek... krek... krek... seperti sesuatu yang lelah tetapi dipaksa terus bergerak.

“Dengar,” katamu sambil menunjuk ke atas.

“Kipasnya makin berisik.”

Aku mendongak. Bilah-bilah kipas itu berputar malas, mengaduk udara hangat di ruangan.

“Sudah lama begitu,” kataku.

“Harusnya kau perbaiki.”

“Aku akan memperbaikinya.”

Kau menatapku dengan alis sedikit terangkat.

“Kau juga bilang begitu bulan lalu.”

Aku tidak membantah. Memang banyak hal yang pernah kujanjikan dan kemudian tenggelam begitu saja di antara hari-hari yang lewat tanpa terasa.
Kipas itu terus berputar.
krek... krek... krek...

Suara kecil yang sebenarnya tidak penting, tetapi entah bagaimana cukup mengganggu untuk diperhatikan.

“Aneh ya,” katamu pelan.

“Apa?”

Kau menatap keluar jendela. Di luar sana, malam terlihat biasa saja. Tidak ada api. Tidak ada sirene. Tidak ada orang berlari.
Hanya jalan yang sepi dan lampu yang berdiri dengan sabar.

“Orang-orang di sana kehilangan rumah,” katamu perlahan.

“Dan kita di sini cuma kehilangan selera makan.”

Aku tidak langsung menjawab.

Kata-kata itu terasa berat di ruangan kecil ini. Seolah tiba-tiba meja, kursi, dan cangkir teh ikut mendengarnya.
Kucing di kursi rusak itu bergerak sedikit, membuka satu mata, lalu kembali tidur.

“Kadang aku merasa bersalah,” kataku akhirnya.

“Karen??”

Aku mengambil cangkir tehku. Tehnya sudah tidak terlalu hangat.

“Karena kita masih bisa duduk di sini.”

Kipas di langit-langit berputar lagi.
krek... krek... krek...

“Minum teh,” lanjutku pelan.

“Dan mengeluh tentang kipas angin yang berisik.”

Bagikan tulisan ini

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.