Mon, 09 Mar 2026
Cerpen / Riska Khairunnisa Sinaga / Mar 08, 2026

Suara yang Tenggelam


Hidup Aria adalah serangkaian hari yang berlalu tanpa jejak. Di pagi hari, ia bangun dengan enggan, menatap langit-langit kamar yang sama, dan bertanya dalam diam mengapa ia harus melewati hari yang lain. Di luar sana, dunia terus bergerak; suara kendaraan, tawa anak-anak kecil, dan percakapan tetangga yang terdengar samar dari jendela kamarnya. Tapi bagi Aria, suara-suara itu hanyalah latar belakang yang jauh, tidak pernah benar-benar menyentuh dirinya.

Aria adalah gadis berusia tujuh belas tahun yang berbeda dari remaja lainnya. Ia tidak pernah menjadi pusat perhatian, tidak pernah memiliki keberanian untuk berbicara di depan banyak orang, bahkan sekadar menjawab pertanyaan sederhana di kelas sering membuat tubuhnya gemetar. Ia lebih sering berbicara dengan dirinya sendiri, di dalam kepala yang penuh dengan suara yang enggan keluar.

Di sekolah, ia seperti bayangan. Duduk di bangku paling belakang, menghindari tatapan mata teman-temannya, dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menarik perhatian. Jika ada yang memanggil namanya, ia hanya menjawab dengan suara kecil yang hampir tenggelam dalam keramaian. "Aria," katanya, nyaris seperti bisikan. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan keberadaannya, dan itu membuat Aria merasa aman, sekaligus kosong.

Namun, ada luka yang tersembunyi di balik sikap diamnya. Luka yang ia bawa sejak dua tahun lalu, ketika ia menjadi sasaran perundungan dari sekelompok siswa di sekolah. Mereka mengejek penampilannya, caranya berbicara, bahkan cara ia berjalan. Kata-kata kasar mereka menggema di pikirannya, membentuk dinding tebal yang memisahkan dirinya dari dunia luar. Sejak saat itu, Aria memilih diam. Diam adalah temannya, pelindungnya, dan sekaligus penjara baginya.

Setiap malam, ketika semua orang di rumah sudah tidur, Aria akan duduk di sudut kamarnya. Ia menatap jendela yang memperlihatkan langit malam, lalu membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Ia tidak tahu kepada siapa harus berbicara. Bahkan jika ia tahu, ia merasa tidak ada yang benar-benar peduli. Jadi, ia memendam semuanya, rasa sakit, marah, kecewa, dan keputusasaan. Seolah-olah itu semua hanyalah bagian dari dirinya yang harus diterima.

Baginya, hidup tidak memiliki arah. Ia hanya mengikuti arus, berjalan ke mana dunia membawanya, tanpa tujuan, tanpa gairah. Ia merasa seperti perahu kecil yang terombang-ambing di tengah laut luas, tanpa kemudi, tanpa pelabuhan untuk dituju. 

Namun, jauh di dalam hatinya, ada keinginan kecil untuk berubah. Aria tidak tahu dari mana keinginan itu berasal, tapi ia ada di sana, seperti bara kecil yang hampir padam. Ia ingin berbicara, ingin didengar, ingin seseorang mengerti perasaannya. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana mungkin ia bisa membuka diri, jika setiap kali ia mencoba, lidahnya terasa kelu dan dadanya sesak? 

Aria tidak tahu jawabannya yang ia tahu hanyalah satu hal: ia lelah merasa sendirian.

***

Pagi itu, Aria melangkah keluar dari rumah dengan tas punggungnya yang sudah usang. Jalan menuju sekolahnya terasa seperti jalan panjang yang tak berujung. Langkahnya lambat, seperti mencoba menunda waktu hingga bel masuk berbunyi. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah buku catatan kecil. Buku itu bukan untuk mencatat pelajaran, melainkan tempat ia menuangkan segala rasa yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Setibanya di sekolah, Aria langsung menuju kelas tanpa menyapa siapa pun. Ia tahu tak ada yang menunggunya, tak ada yang akan memperhatikan kehadirannya. Di sudut kelas, tempat duduk favoritnya sudah kosong, seperti biasa. Ia selalu memilih tempat itu karena jauh dari pandangan guru, jauh dari perhatian teman-temannya. 

Aria membuka buku catatannya dan berpura-pura sibuk menulis sesuatu. Padahal, ia hanya menggambar garis-garis tak beraturan untuk mengalihkan pikirannya dari suara-suara di sekitar. Tawa teman-temannya terdengar nyaring, tapi bagi Aria, itu seperti suara yang berasal dari dunia lain, sebuah dunia yang tidak pernah ia masuki.

“Aria!” Suara itu datang dari arah pintu. Aria menoleh perlahan. Itu Abby, satu-satunya orang yang secara konsisten mencoba berbicara dengannya. Abby adalah kebalikan dari Aria. Ia ceria, ramah, dan selalu tahu cara memulai percakapan. Tapi ada sesuatu dalam diri Abby yang membuat Aria tidak merasa terancam. Mungkin karena Abby tidak pernah memaksanya untuk berbicara lebih dari yang ia mau.

“Hai, Abby,” jawab Aria pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh keramaian kelas.

“Lagi-lagi di sudut, ya?” Abby duduk di kursi sebelahnya tanpa permisi. “Kamu ini seperti kucing liar. Diam-diam suka menyendiri.”

Aria tersenyum kecil, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Abby terus berbicara, menceritakan sesuatu tentang drama sekolah yang akan digelar bulan depan. Aria hanya mendengarkan, mengangguk sesekali untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikan. Dalam hati, ia bersyukur Abby tidak menuntut jawaban panjang darinya.

Namun, seiring Abby berbicara, Aria merasakan rasa bersalah yang halus menggerogoti dirinya. Ia ingin sekali berbicara lebih banyak, ingin sekali menunjukkan bahwa ia menghargai Abby. Tapi setiap kali ia mencoba membuka mulut, kata-kata itu mati di tenggorokannya. 

“Aria,” kata Abby tiba-tiba, memotong pikirannya. “Kamu baik-baik saja, kan?”

Aria terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi bagi Aria, itu seperti lubang hitam yang siap menyedotnya ke dalam jurang. Ia ingin mengatakan “tidak,” ingin menceritakan semuanya, tentang rasa takut, kesedihan, dan keterasingan yang ia rasakan setiap hari. Tapi, seperti biasa, ia hanya mengangguk. “Aku baik-baik saja,” jawabnya pendek.

Abby menatapnya lama, seolah tahu bahwa Aria sedang berbohong. Tapi ia tidak memaksa. “Kalau ada apa-apa, aku di sini, ya,” katanya sambil tersenyum. “Jangan lupa.”

Aria hanya mengangguk lagi. Dalam hati, ia ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa ia butuh bantuan. Tapi ia tidak tahu bagaimana. Jadi, ia hanya memendam semuanya, seperti yang selalu ia lakukan.

Saat jam pelajaran dimulai, Aria kembali larut dalam pikirannya sendiri. Guru di depan kelas menjelaskan materi, tapi Aria tidak benar-benar mendengarkan. Ia sibuk berbicara dengan dirinya sendiri di dalam hati.  

“Kenapa aku tidak bisa seperti Abby? Kenapa aku tidak bisa berbicara dengan mudah? Kenapa aku selalu merasa seperti ini?”  

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, tanpa jawaban. Ia merasa seperti berada di dalam ruangan penuh kaca, di mana ia bisa melihat dunia luar, tapi tidak pernah bisa menyentuhnya.  

Ketika bel pulang berbunyi, Aria menghela napas lega. Hari itu berakhir, tapi ia tahu esok akan sama saja. Rutinitas yang sama, rasa sakit yang sama, dan keheningan yang sama. Tidak ada yang berubah.

Namun, di ujung pikirannya, ia teringat sesuatu yang Abby katakan: “Aku di sini, ya. Jangan lupa.” Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Aria, ada sedikit kehangatan di dalamnya.

***

Malam itu, Aria duduk di sudut kamarnya, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali dunia terasa terlalu berat untuk ditanggung. Di luar, angin berhembus lembut, menyentuh jendela kamarnya yang tertutup rapat. Namun, di dalam, hanya ada keheningan dan bayangan gelap yang menyelimuti pikirannya.

Ia menatap buku catatan kecilnya di atas meja. Buku itu penuh dengan coretan-coretan tak berarti, kata-kata yang ia tulis ketika ia tidak tahu kepada siapa harus bercerita. Di salah satu halamannya, ada kalimat yang ia tulis beberapa bulan lalu: 

"Aku ingin berbicara, tapi siapa yang mau mendengarkan?" 

Pertanyaan itu terus terulang di kepalanya. Ia ingin sekali mengungkapkan perasaannya, tapi rasa takut selalu menghentikannya. Ia takut dihakimi, takut ditolak, takut bahwa apa yang ia katakan tidak akan berarti apa-apa bagi siapa pun.

Pikirannya melayang ke masa lalu, ke hari-hari di mana semuanya terasa lebih buruk. Dua tahun lalu, saat ia baru memasuki SMA, Aria adalah gadis yang berbeda. Ia tidak sependiam ini. Ia masih memiliki keberanian untuk berbicara, untuk mencoba berteman. Tapi semuanya berubah ketika sekelompok siswa di kelasnya mulai memperhatikannya, bukan untuk alasan yang baik, melainkan untuk menyakitinya.

Mereka mengejek segala hal tentang dirinya: rambutnya yang kusut, suaranya yang pelan, bahkan cara ia berjalan. Awalnya, Aria mencoba mengabaikannya. Ia berpikir, mungkin mereka akan bosan dan berhenti. Tapi ternyata tidak. Hari demi hari, ejekan itu semakin menjadi-jadi. Mereka menulis hal-hal buruk tentang dirinya di papan tulis, menyembunyikan barang-barangnya, bahkan menyebarkan rumor yang tidak benar tentangnya.

Satu insiden tertentu selalu teringat jelas di benaknya, seolah-olah itu baru terjadi kemarin. Saat itu, ia sedang berjalan di koridor sekolah ketika salah satu dari mereka menjulurkan kakinya untuk menjegalnya. Aria jatuh ke lantai, buku-bukunya berserakan. Alih-alih membantu, mereka tertawa keras, membuat semua orang di sekitar menoleh. Aria hanya bisa menunduk, berusaha menahan air matanya. Tapi ia tahu, wajahnya sudah memerah, dan matanya mulai berkaca-kaca.

Tidak ada yang membelanya. Tidak ada yang menghentikan mereka. Semua orang hanya menonton, seolah-olah itu adalah hiburan semata. Bahkan guru pun tidak pernah benar-benar memperhatikan apa yang terjadi. 

Sejak hari itu, Aria berhenti mencoba. Ia berhenti berbicara, berhenti berusaha untuk berteman. Ia membangun tembok di sekeliling dirinya, berharap bahwa dengan menyembunyikan dirinya, ia akan aman. Tapi kenyataannya, tembok itu tidak melindunginya. Sebaliknya, tembok itu membuatnya merasa semakin terisolasi, semakin sendirian.

"Kenapa mereka melakukan itu?" bisik Aria pada dirinya sendiri malam itu. Suaranya nyaris tidak terdengar, seolah ia takut ada yang mendengarnya. "Apa yang salah denganku?" 

Ia tidak pernah menemukan jawabannya. Bahkan sekarang, ia masih sering bertanya-tanya apakah ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang lain membencinya. Apakah itu caranya berbicara? Atau mungkin caranya berpakaian? Atau mungkin, ia memang tidak cukup baik untuk menjadi bagian dari dunia mereka? 

Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak berusaha menghapusnya. Di tempat ini, di sudut kamarnya yang gelap, ia bisa menangis tanpa takut dihakimi. Tidak ada yang melihat, tidak ada yang mendengar. Hanya ia sendiri, bersama rasa sakit yang terus ia pendam.

Namun, meskipun rasa sakit itu begitu dalam, ada sesuatu yang lain yang perlahan mulai muncul di dalam dirinya. Sebuah keinginan kecil, hampir tidak terlihat. Ia ingin semuanya berubah. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa terus hidup seperti ini. 

Di sudut pikirannya, ia teringat kata-kata Abby: "Aku di sini, ya. Jangan lupa." Kata-kata itu seperti cahaya kecil di tengah kegelapan yang menyelimutinya. Mungkin, hanya mungkin, ada seseorang yang benar-benar peduli. 

Tapi apakah Aria bisa mempercayainya? Atau, seperti orang lain, Abby juga akan pergi suatu saat nanti?

***

Hari itu hujan turun dengan lembut, meninggalkan jejak-jejak air di jendela kelas. Langit mendung, dan suasana di dalam kelas terasa lebih sunyi dari biasanya. Sebagian besar siswa sibuk berbicara dengan teman-teman mereka, tapi Aria seperti biasa duduk di pojok kelas, tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia menatap kosong ke arah buku catatannya, mencoba mengabaikan suara-suara di sekitarnya.

Abby, yang duduk di bangku depan, menoleh ke arah Aria. Ia memperhatikan gadis itu dengan seksama, seperti seseorang yang mencoba memahami teka-teki rumit. Perlahan, Abby berdiri dan berjalan ke arah Aria. Ia membawa buku catatannya, berpura-pura meminjamkan sesuatu, meskipun sebenarnya ia hanya butuh alasan untuk mendekati Aria.

“Hai, Aria,” sapa Abby sambil duduk di kursi sebelahnya. “Kamu kelihatan... lebih murung dari biasanya. Ada apa?”

Aria mengangkat wajahnya sedikit, menatap Abby dengan mata yang tampak lelah. “Tidak apa-apa,” jawabnya pelan. Suaranya hampir seperti bisikan, seperti ia takut kata-katanya akan terdengar terlalu keras.

Abby menghela napas. Ia tahu jawaban itu tidak jujur. Ia sudah cukup lama mengenal Aria untuk tahu bahwa ada sesuatu yang salah. Tapi Abby juga tahu bahwa Aria bukan tipe orang yang mudah membuka diri. Ia butuh pendekatan yang hati-hati.

“Aria, aku serius,” kata Abby setelah beberapa saat. “Aku tahu kamu bilang ‘tidak apa-apa’, tapi aku bisa lihat kalau kamu sedang memikirkan sesuatu. Kamu tahu kan, aku di sini kalau kamu butuh cerita?”

Aria terdiam. Kata-kata Abby terdengar tulus, tapi rasa takutnya masih terlalu besar. Ia sudah terlalu sering merasa dikhianati oleh dunia, dan ia tidak yakin apakah ia bisa mempercayai seseorang lagi. Dalam hatinya, ada suara yang berkata, "Jangan katakan apa-apa. Jangan biarkan dia tahu. Jika dia tahu, dia akan meninggalkanmu seperti yang lain."

Namun, ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin mencoba. Ia ingin tahu seperti apa rasanya memiliki seseorang yang benar-benar mendengarkan. Tapi bagaimana caranya?

“Aku... tidak tahu harus mulai dari mana,” kata Aria akhirnya. Suaranya bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak tahu bagaimana cara bercerita.”

Abby tersenyum lembut. “Itu tidak apa-apa. Kita tidak perlu terburu-buru. Kamu bisa mulai dari hal kecil, apa saja yang ingin kamu katakan.”

Aria menunduk, memandangi tangannya yang gemetar. Ia mencoba mencari kata-kata, tapi semuanya terasa terlalu sulit. Akhirnya, ia hanya berkata, “Aku lelah.”

Abby menatapnya dengan penuh perhatian. Ia tidak memotong, tidak mencoba memberikan nasihat. Ia hanya mendengarkan, memberikan ruang bagi Aria untuk melanjutkan.

“Aku lelah harus merasa seperti ini setiap hari,” lanjut Aria dengan suara pelan. “Lelah merasa sendirian. Lelah harus berpura-pura baik-baik saja.”

Air mata mulai mengalir di pipinya, tapi Aria tidak peduli. Ia merasa bahwa untuk pertama kalinya, ada seseorang yang benar-benar mendengarkan tanpa menghakiminya. Itu adalah perasaan yang asing baginya, tapi juga menenangkan.

Abby mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Aria dengan lembut. “Kamu tidak sendirian, Aria. Aku di sini. Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan, tapi aku mau mendengarkan. Aku mau membantu.”

Aria menatap Abby dengan mata yang penuh air mata. Ia ingin percaya pada kata-kata itu, ingin percaya bahwa Abby benar-benar peduli. Tapi bagian dirinya yang dipenuhi rasa takut terus berkata bahwa itu hanya sementara. Bahwa pada akhirnya, Abby juga akan pergi.

Namun, untuk pertama kalinya, Aria merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa mencoba membuka diri sedikit demi sedikit. Ia tidak yakin apakah ia bisa mengungkapkan semuanya, tapi ia tahu bahwa ia tidak ingin terus hidup seperti ini.

“Terima kasih,” kata Aria akhirnya, suaranya hampir tidak terdengar. Tapi bagi Abby, itu sudah cukup. Itu adalah langkah kecil, tapi langkah yang berarti.

Hujan di luar mulai reda, dan matahari perlahan muncul di balik awan. Di dalam kelas, Aria merasa ada sedikit kehangatan yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Mungkin, ini adalah awal dari sesuatu yang baru.

***

Seminggu setelah percakapannya dengan Abby, kehidupan Aria tampak berjalan seperti biasa. Ia masih duduk di sudut kelas, menghindari kontak mata dengan siapa pun, dan berbicara hanya jika benar-benar diperlukan. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Kata-kata Abby terus terngiang di pikirannya, seperti nyala lilin kecil di tengah kegelapan. 

"Aku di sini. Aku mau mendengarkan." 

Aria belum tahu bagaimana caranya untuk benar-benar terbuka, tapi setidaknya, ia merasa ada seseorang di dunia ini yang mungkin mengerti. Itu adalah perasaan baru baginya, meskipun ia masih takut untuk sepenuhnya mempercayai.

Hari itu, pelajaran berjalan seperti biasa hingga guru wali kelas mereka, Bu Nur, masuk ke dalam ruangan dengan sebuah pengumuman. 

“Anak-anak, minggu depan kita akan ada presentasi kelompok,” kata Bu Nur sambil tersenyum. “Setiap kelompok akan mempresentasikan tema yang sudah saya bagikan. Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik.”

Aria merasakan perutnya bergejolak. Presentasi. Kata itu saja sudah cukup untuk membuatnya merasa ingin lari dari kelas. Ia tidak pernah menyukai berbicara di depan umum. Bahkan hanya berdiri di depan kelas saja sudah cukup untuk membuatnya gemetar.

Ketika guru mulai membagi kelompok, Aria hanya bisa berharap ia tidak perlu berbicara. Tapi harapannya pupus ketika Bu Nur dengan santai berkata, “Aria, kamu akan menjadi perwakilan kelompokmu untuk menjelaskan hasil diskusi.”

Aria membeku. Dunia seolah berhenti berputar. 

“Bu, saya rasa Aria—” Abby mencoba membela, tapi Bu Nur sudah melanjutkan pembagian kelompok tanpa mendengar protesnya. 

Aria ingin berbicara, ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukannya. Tapi suaranya tidak keluar. Lidahnya terasa berat, dan dadanya mulai sesak. Ia hanya bisa menunduk, berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Tapi itu bukan mimpi.

Hari presentasi tiba lebih cepat dari yang Aria harapkan. Selama seminggu, ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara, tapi setiap kali ia membayangkan berdiri di depan kelas, rasa takutnya semakin besar. Ia bahkan sempat berpikir untuk tidak datang ke sekolah hari itu, tapi Abby meyakinkannya untuk mencoba. 

“Aria, aku tahu ini sulit buat kamu,” kata Abby saat mereka berlatih di rumahnya. “Tapi aku akan ada di sana. Kalau kamu merasa gugup, lihat saja ke arahku. Aku akan mendukungmu.” 

Aria mengangguk pelan, meskipun ia masih meragukan kemampuannya sendiri. 

Ketika giliran kelompoknya tiba, Aria berjalan ke depan kelas dengan tangan yang gemetar. Ia memegang kertas kecil dengan poin-poin yang sudah ia tulis, tapi huruf-huruf di atasnya terlihat kabur karena tangannya terlalu bergetar. 

Ia berdiri di depan kelas, menatap wajah teman-temannya yang menunggu. Dadanya terasa sesak, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya. 

“Selamat pagi,” katanya pelan, hampir tidak terdengar. 

Beberapa siswa di belakang mulai berbisik-bisik. Suara mereka terdengar seperti gemuruh di telinga Aria, membuatnya semakin gugup. Ia mencoba melanjutkan, tapi suaranya terhenti di tenggorokan. 

“Tolong pelankan suara kalian,” Abby berkata dengan tegas dari kursinya, menatap teman-temannya dengan tajam. 

Aria mencoba menarik napas dalam-dalam, tapi itu tidak membantu. Matanya mulai berkaca-kaca, dan ia merasa seperti akan runtuh di tempat. 

“Aria, kamu bisa,” kata Abby dari tempat duduknya. Suaranya lembut, tapi penuh keyakinan. 

Aria menatap Abby, dan untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar ada di sisinya. Ia tidak tahu dari mana keberanian itu datang, tapi ia memutuskan untuk mencoba lagi. 

“Aku... aku akan menjelaskan tentang tema kelompok kami,” katanya dengan suara yang sedikit lebih kuat. 

Kata-kata itu keluar dengan susah payah, tapi ia berhasil. Ia melanjutkan presentasinya, meskipun suaranya masih bergetar dan ia harus berhenti beberapa kali untuk menarik napas. Tapi ia tidak menyerah. Ia terus berbicara, dengan mata sesekali melirik ke arah Abby yang tersenyum memberinya semangat. 

Ketika ia selesai, kelas menjadi sunyi. Beberapa detik kemudian, terdengar suara tepuk tangan. Itu dimulai dari Abby, lalu diikuti oleh beberapa siswa lainnya. 

Aria merasa hatinya berdebar kencang, tapi kali ini, itu bukan karena rasa takut. Itu adalah perasaan lega. Ia berhasil melewati sesuatu yang selama ini terasa mustahil baginya. 

Saat ia kembali ke tempat duduknya, Abby menyambutnya dengan senyuman lebar. “Aku tahu kamu bisa,” katanya sambil menepuk bahu Aria. 

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Aria merasa ada secercah harapan. Ia tahu bahwa perjalanan untuk mengatasi rasa takut dan kesendiriannya masih panjang, tapi langkah kecil ini adalah awal yang baik. 

***

Langit sore di kota kecil itu dipenuhi nuansa jingga yang lembut, menciptakan suasana tenang yang hampir terasa seperti pelukan hangat. Aria berjalan perlahan di trotoar menuju rumahnya. Langkahnya ringan, tapi pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian di kelas tadi.

Ia tidak pernah membayangkan dirinya sanggup berdiri di depan kelas dan berbicara, meskipun hanya membaca tulisan sederhana. Suaranya memang bergetar, dan ia tahu beberapa orang mungkin masih menertawakannya di belakang, tapi itu tidak lagi penting. Yang penting adalah ia telah melakukannya, ia telah melangkah keluar dari zona aman yang selama ini membelenggunya.

Sesampainya di rumah, Aria langsung masuk ke kamar dan menutup pintu. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap buku catatannya yang kini tergeletak di meja. Buku itu telah menjadi saksi bisu dari semua rasa sakit, rasa takut, dan keraguan yang ia alami selama ini. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa buku itu bukan lagi tempat untuk menyembunyikan dirinya. Buku itu adalah pintu keluar, tempat ia mulai mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya.

Aria membuka salah satu halaman kosong dan mulai menulis:

"Hari ini, aku berbicara. Awalnya aku takut, tapi aku melakukannya. Dan ternyata... rasanya tidak seburuk yang aku bayangkan. Aku masih takut, tapi aku ingin mencoba lagi. Mungkin aku tidak harus selalu diam. Mungkin... aku bisa mulai berbicara, sedikit demi sedikit." 

Ia berhenti sejenak, menatap tulisan tangannya yang rapi di atas kertas. Air mata perlahan mengalir di pipinya, tapi kali ini bukan karena rasa sakit. Itu adalah air mata lega, air mata harapan. 

Esok harinya, di sekolah, Aria merasa ada sesuatu yang berbeda. Ia masih berjalan dengan kepala tertunduk, masih memilih tempat duduk di sudut kelas, tapi kali ini, ia tidak merasa sepenuhnya sendirian. Abby, seperti biasa, duduk di dekatnya. Tapi tidak seperti sebelumnya, Aria merasa lebih mudah untuk berbicara dengannya.

“Hai,” sapa Abby dengan senyum cerah. “Kamu kelihatan lebih tenang hari ini.”

Aria mengangguk pelan. “Aku... merasa lebih baik,” jawabnya. Suaranya masih pelan, tapi ada nada kepercayaan diri yang samar di dalamnya.

Abby tersenyum lebih lebar. “Aku senang mendengarnya. Kamu tahu, apa yang kamu lakukan kemarin itu luar biasa. Aku tahu itu sulit, tapi kamu berhasil.”

Aria menunduk, tersipu. “Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya lagi,” katanya jujur.

“Kamu tidak harus langsung melakukannya lagi,” balas Abby. “Yang penting, kamu sudah memulai. Langkah kecil itu penting, Aria. Dan aku yakin kamu bisa melangkah lebih jauh.”

Kata-kata Abby terasa seperti angin sejuk yang menyentuh hati Aria. Ia tidak pernah menganggap dirinya kuat, tapi mungkin, hanya mungkin, ia memiliki kekuatan kecil yang selama ini tidak ia sadari. 

Selama beberapa hari berikutnya, Aria mencoba untuk berbicara lebih banyak. Ia masih sering terdiam, masih sering merasa canggung, tapi ia tidak lagi membiarkan rasa takut sepenuhnya menguasai dirinya. Ia mencoba merespons ketika teman sekelas berbicara padanya, meskipun hanya dengan satu atau dua kata. Ia mencoba tersenyum lebih sering, meskipun itu terasa sulit.

Setiap malam, ia menulis di buku catatannya, mencatat setiap langkah kecil yang ia ambil. Ia menulis tentang interaksi sederhana dengan teman-temannya, tentang bagaimana Abby terus mendukungnya, dan tentang bagaimana ia perlahan mulai merasa bahwa hidupnya memiliki tujuan. 

Pada akhirnya, Aria menyadari bahwa perubahan tidak datang dalam sekejap. Itu adalah proses yang panjang, penuh dengan rintangan dan ketakutan. Tapi selama ia terus mencoba, selama ia memiliki seseorang seperti Abby di sisinya, ia tahu bahwa ia bisa melangkah maju.

Suatu malam, saat ia menutup buku catatannya, Aria menatap langit malam melalui jendela kamarnya. Bintang-bintang bersinar terang, dan bulan purnama menggantung dengan anggun di langit. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Aria merasa bahwa dunia tidak lagi terasa begitu menakutkan. Ada kehangatan kecil di hatinya, seperti bara api yang perlahan mulai menyala.

Ia tersenyum pada dirinya sendiri. Langkah kecil itu berarti. Dan ia siap untuk melangkah lebih jauh.

 


Penulis: Riska Khairunnisa Sinaga, Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Padang.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.