Garam di Lidah Sani
Sani baru berumur tujuh tahun ketika ia belajar membedakan
rasa asin dari rasa sakit. Di bawah terik yang memanggang sepanjang pesisir,
ladang garam ayahnya hanyalah hamparan putih kusam yang kaku.
Bocah itu tidak
peduli pada uap payau yang membakar ubun-ubunnya; matanya terus menyisir
petakan paling ujung, mencari sebongkah kristal berwarna merah muda. Ayahnya
pernah berbisik bahwa garam merona itu hanya lahir saat air laut sedang menahan
sakit di dasarnya.
Sani percaya, jika ia berhasil menggenggam kristal itu,
batuk darah yang menyumbat tenggorokan ayahnya setiap malam akan mampet
seketika. Ia terlalu kecil untuk tahu bahwa warna merah muda yang mengapung di
hulu sungai bukanlah mukjizat, melainkan sisa pewarna kain yang dimuntahkan
dari pipa bawah tanah pabrik tekstil.
Setiap pagi, sebelum angin fajar membersihkan langit
pesisir, Sani sudah berjalan mengekor di belakang punggung ringkih Pak Rusdi.
Mereka melangkah di atas pematang tanah lempung yang keras dan pecah-pecah.
Di
kanan-kiri mereka, gundukan garam yang baru dikikis berbaris serupa gundukan
makam kecil yang sepi. Pekerjaan itu tidak pernah memberi mereka daging di atas
piring. Di pasar kecamatan, garam hasil garukan tangan Pak Rusdi dihargai lebih
murah daripada sebotol air mineral kota.
Truk-truk besar bermuatan garam impor
dari seberang laut saban musim merapat di gudang pelabuhan hulu, membuat hasil
bumi lokal teronggok membusuk di sudut-sudut barak yang atap sengnya bocor.
"Mengapa orang-orang tidak mau membeli garam kita lagi,
Yah?" tanya Sani suatu sore. Jemari kecilnya yang terkelupas akibat korosi
air asin sibuk menyaring air payau dengan batok kelapa berlubang.
Pak Rusdi terbatuk. Tubuhnya yang kurus kering dan tinggal
bungkus kulit itu terguncang hebat di atas amben bambu serambi. Ia buru-buru
memalingkan muka, membuang ludah kental berwarna merah marun ke sela perakaran
bakau yang mati.
"Orang kota tidak butuh garam pekat dari lumpur, Sani.
Mereka mau yang putih bersih buatan mesin," jawabnya. Suaranya parau,
pendek, dan nyaris habis tertimbun deru ombak laut selatan.
Malapetaka itu datang menjelang draf musim petik berakhir.
Pak Rusdi ambruk tepat di atas petak pertamanya, wajahnya menghadap langsung ke
langit siang yang membara tanpa awan. Di sore yang sama, dua lelaki dari
perwakilan kantor pengembang kawasan industri datang menemani seorang tengkulak
lokal.
Mereka menancapkan sebilah papan kayu pembatas di depan jalan masuk
ladang. Di atas papan itu tertera tulisan yang tidak bisa dibaca Sani, namun ia
tahu artinya buruk dari cara ibunya meraung kencang di ambang pintu gubuk
panggung mereka.
Ladang mereka disita untuk pelunasan utang pupuk, uang sewa
lahan, dan biaya tebusan obat Pak Rusdi di puskesmas yang terus menumpuk.
Seutas tali plastik berwarna kuning melintang di depan pintu gerbang,
memisahkan Sani dari petak-petak "salju" miliknya.
Malamnya, rumah panggung mereka terasa begitu dingin meski
udara pantai sangat menyengat dan pengap oleh bau belerang. Dari balik tirai
kamar yang koyak, Sarni mendengar erangan ayahnya yang kian pendek dan sesak.
Paru-paru lelaki tua itu seperti sedang digerus oleh ribuan serpihan kaca
tajam. Udara di dalam ruangan berbau apek, bercampur aroma minyak angin murahan
yang sudah kedaluwarsa.
Sani membulatkan tekad saat ibunya tertidur kelelahan di
lantai dapur. Dengan langkah mengendap-endap tanpa alas kaki, bocah itu keluar
lewat jendela belakang, membawa sebuah mangkuk semen kecil bekas wadah pakan
ayam.
Suasana ladang di sepertiga malam tampak mati kaku. Bau
busuk yang ganjil menyengat hidung Sani, bukan bau amis lumpur laut yang biasa
ia kenal sejak bayi, melainkan bau tajam mirip uap bensin dan cairan pewarna
kain yang pekat.
Di hulu parit pembuangan, beberapa ratus meter dari batas
tanah ulayatnya, sebuah pipa baja raksasa milik pabrik tekstil baru sedang
memuntahkan cairan kental berwarna keunguan ke dalam arus pasang.
Sani melompati tali plastik kuning yang melintang di
pematang. Ia berlari kencang menuju petak paling ujung, tempat air laut
menggenang paling pekat dan hitam. Di bawah sorot lampu senter mainannya yang
cahayanya mulai meredup kekuningan, mata Sani berbinar.
Di dasar petak yang
airnya mengental, sekelompok kristal garam bergumpal rapat. Warnanya bukan
putih semen, melainkan merah muda keunguan yang berkilau pekat diterpa pendar
lampu merkuri dari arah pabrik.
"Garam surga," bisik Sani gembira. Jantungnya
berdegup satu-satu dalam ritme kecemasan yang kaku.
Ia mengikis kristal-kristal itu dengan kuku-kukunya yang
mulai menghitam, mengabaikan rasa perih luar biasa yang mendadak membakar
pori-pori kulit tangannya akibat paparan zat asam pembakar kain.
Sani pulang mengantongi segenggam kristal merah muda itu di
dalam saku celananya. Di dapur yang gelap tanpa pendar lampu, ia melarutkan dua
sendok besar gumpalan itu ke dalam segelas air hangat yang diambil dari teko
aluminium. Cairan itu berubah warna menjadi keruh merona, mengeluarkan uap
tipis yang baunya menyengat hidung.
"Yah, minum ini. Sani sudah menemukan garam merah
mudanya," bisik Sani membangunkan ayahnya yang sepasang matanya sudah
cekung ke dalam.
Pak Rusdi membuka kelopak matanya sedikit. Di bawah temaram
lampu minyak tanah yang berkedip ditiup angin jendela, ia melihat gelas yang
disodorkan anaknya.
Lelaki tua itu tidak lagi memiliki kekuatan untuk berpikir
jernih atau mengenali bau zat kimia yang menguar kuat dari air hangat tersebut.
Yang ia lihat hanyalah binar harapan di mata anak semata manyangnya.
Dengan tangan gemetar yang dipandu oleh telapak tangan Sani,
Pak Rusdi meneguk cairan keruh itu hingga tandas. Sedetik kemudian, tubuhnya
tersentak kaku. Uap kimia yang tajam langsung mengunci saluran pernapasannya
yang memang sudah rusak, memicu kejang tenggorokan yang singkat.
Lelaki tua itu
melepaskan satu helaan napas panjang yang kesat, lalu memejamkan mata kembali,
kali ini dengan tubuh yang mendadak berhenti bergerak.
Sani menaruh gelas kosong itu di atas lantai papan yang
berdebu. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening ayahnya yang mendadak terasa
sedingin es subuh. Saat bibirnya menyentuh kulit sang ayah, sisa cairan ungu
yang menempel di dagu Pak Rusdi tak sengaja tertinggal di ujung lidah Sani.
Sani mengecapnya dalam diam yang kaku. Rasanya tidak hanya
asin laut, tetapi juga getir, pahit, meninggalkan sensasi terbakar yang kesat
di pangkal kerongkongannya.
Di luar gubuk, embun fajar mulai turun membasahi
tumpukan goni, dan Sani terus terdiam di samping tubuh yang telah kaku itu. Ia
menatap telapak tangannya sendiri yang mulai melepuh kemerahan, perlahan
menyadari bahwa ladang garam di sepanjang pesisir mereka telah lama berubah
menjadi kuburan abu yang menolak untuk memberikan kehidupan bagi manusia-manusia
kalah.
Penulis: Dwi Scativana Isnaeni adalah penulis asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul "Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik". Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan. Email: dwi.scativana23@gmail.com