Kalah Menang
Kalah Menang
masih ingat gelut sesama anak kecil
pada masa kecil
berebut belut, tertangkap tangan dan licin,
dan meloncat cepat
genangan lumpur sawah
di bawah matahari senja
belut masuk lumpur, lalu gelut jadi pilihan
berlumpur-lumpur saling salahkan
beradu merasa jantan
hanya bunyi kentong magrib yang pisahkan
suatu waktu aku kalah, tanpa derita
ketika menang, tak ada jumawa
rasa-rasanya gelut kemarin tak terselesaikan
tapi bukan anak kecil,
tentu mereka bukan anak kecil
bukan masa kecil
hanya serasa berebut belut, licin, meloncat
tak berlumpur-lumpur, tapi tampak kotor
genangan perkara, bertumpuk baru dan lama
seperti di bawah nasib yang senja
tak saling salahkan
tak tunjukkan jantan
siapa kalah, siapa menang, derita, sengsara
tapi semua jumawa
2026
*
Mengapa Kawan Lawan
mengaji samudra pada tubuhmu
pasang naik, pasang surut demikian terbaca
saat jeda mengajakku
bercinta
sebagai kawan, sekaligus lawan
seperti bumi dan langit
tapi matahari tak sepasang bulan
bukan kawan, bukan lawan
dan mengapa harus ada kawan dan lawan
mengajilah pada apa-apa
hingga dasar samudra
membasuh semua
2026
*
Tersasar Pasar
di pasar ternyata kita sama-sama
tersasar. Engkau asyik blusukan, tetapi aku
tercekam dalam interogasi harga cabai,
bawang merah, minyak tanah, gas melon,
dan harga diri
betapa engkau merasa tahu segalanya
terlipat sudah pada saku bajumu
angka-angka menggelembung tahun depan
lumbung suara. Betapa telingaku kini pekak
bunyi alarm berjubelan
kita ternyata sama-sama tidak tahu
betapa kita telah tersasar
kenyataan. Pasar itu, dunia itu,
menggugurkan angan kita
dalam pandang kita sebelah mata
2026
*
Kosong
pada akhirnya yang kau temui
menuju kosong
seusai berebut angka, berderet angka
kelipatan, berlipat-lipat
aritmatika menindih hidupmu
hitungan untung atau rugi, memakan
atau dimakan, angka nol menghantuimu
nol yang bukan kosong
banyak sudah besaran sinyal
simbol dan ikon membawamu pergi
dan lupa jalan pulang
kau berkubang permainan hidupmu
berputar-putar, angka demi angka
pasrahkan celaka atau rejeki, ada atau
tiada, berharap aljabar memanipulasi
berderet-deret angkamu titik niscaya
menuju kosong
kosong yang bukan nol
2026
Penulis: Supali Kasim, tinggal di Indramayu Jawa Barat. Beberapa puisinya pernah di muat di media massa cetak, daring, maupun antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Bisa disapa lewat Fb. Supali Kasim