Tue, 15 Sep 2026
Puisi / Supali Kasim / Sep 15, 2026

Kalah Menang

Kalah Menang 


masih ingat gelut sesama anak kecil 

pada masa kecil

berebut belut, tertangkap tangan dan licin, 

dan meloncat cepat 

genangan lumpur sawah 

di bawah matahari senja


belut masuk lumpur, lalu gelut jadi pilihan

berlumpur-lumpur saling salahkan

beradu merasa jantan

hanya bunyi kentong magrib yang pisahkan


suatu waktu aku kalah, tanpa derita 

ketika menang, tak ada jumawa 


rasa-rasanya gelut kemarin tak terselesaikan

tapi bukan anak kecil, 

tentu mereka bukan anak kecil

bukan masa kecil

hanya serasa berebut belut, licin, meloncat 

tak berlumpur-lumpur, tapi tampak kotor

genangan perkara, bertumpuk baru dan lama


seperti di bawah nasib yang senja

tak saling salahkan

tak tunjukkan jantan

siapa kalah, siapa menang, derita, sengsara

tapi semua jumawa


2026


*


Mengapa Kawan Lawan


mengaji samudra pada tubuhmu

pasang naik, pasang surut demikian terbaca

saat jeda mengajakku

bercinta

sebagai kawan, sekaligus lawan

seperti bumi dan langit

tapi matahari tak sepasang bulan

bukan kawan, bukan lawan 

dan mengapa harus ada kawan dan lawan


mengajilah pada apa-apa

hingga dasar samudra

membasuh semua


2026


*


Tersasar Pasar


di pasar ternyata kita sama-sama 

tersasar. Engkau asyik blusukan, tetapi aku

tercekam dalam interogasi harga cabai, 

bawang merah, minyak tanah, gas melon, 

dan harga diri 


betapa engkau merasa tahu segalanya

terlipat sudah pada saku bajumu 

angka-angka menggelembung tahun depan

lumbung suara. Betapa telingaku kini pekak

bunyi alarm berjubelan


kita ternyata sama-sama tidak tahu

betapa kita telah tersasar

kenyataan. Pasar itu, dunia itu, 

menggugurkan angan kita

dalam pandang kita sebelah mata


2026


*


Kosong


pada akhirnya yang kau temui 

menuju kosong

seusai berebut angka, berderet angka

kelipatan, berlipat-lipat

aritmatika menindih hidupmu

hitungan untung atau rugi, memakan

atau dimakan, angka nol menghantuimu

nol yang bukan kosong


banyak sudah besaran sinyal 

simbol dan ikon membawamu pergi

dan lupa jalan pulang 

kau berkubang permainan hidupmu 

berputar-putar, angka demi angka

pasrahkan celaka atau rejeki, ada atau

tiada, berharap aljabar memanipulasi 


berderet-deret angkamu titik niscaya 

menuju kosong

kosong yang bukan nol


2026



Penulis: Supali Kasim, tinggal di Indramayu Jawa Barat. Beberapa puisinya pernah di muat di media massa cetak, daring, maupun antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Bisa disapa lewat Fb. Supali Kasim

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.