Sun, 16 Aug 2026
Cerpen / Jasmine Azzahra Wahyudi / Aug 16, 2026

Lendir Bersuara

"Banyan, semua koran harus dikirimkan. Tak terkecuali kepada satu rumah di atas bukit. Meski kosong, teruslah kau hampiri dan letakkan korannya di depan pintu. Bukan karena apa-apa, yang pasti penghuni rumah sebelumnya telah membayarkan langganan koran selama enam bulan. Jadi penuhilah kewajibanmu."

Setidaknya begitulah perintah bosnya kepada pemuda loper koran sekitar satu minggu yang lalu. Tentu ia tak paham. Namun, sebagai seorang loper koran, tentunya dia hanya mempedulikan bahwa koran langganannya sudah diantarkan sesuai perintah.

Hanya saja, gelitik rasa penasaran itu masih ada. Mengapa penghuninya sudah membayarkan langganan setengah tahun di muka, jika pada akhirnya ia tak pernah berada di rumahnya?

Bahkan di antara rumah-rumah yang berdampingan, hanya rumah di atas bukit itu yang tampak terbangun kokoh sendirian. Dan hanya rumah itulah yang tak pernah menampakkan tuannya sedang beraktivitas. Sama sekali tidak pernah ditemukan cahaya dari dalam, bahkan saat malam hari. 

Awalnya satu hari, dua hari terlewati cukup tenang. 

Berlanjut lima hari kemudian–di suatu pagi, rasa penasaran yang sempat Banyan usahakan tuk diendapkan, pada akhirnya membuncah. 

Meski langit pagi masih menggelap, pemuda loper koran itu giat mengayuh sepeda ontelnya–menyusuri tiap gang. Sesekali ia berpapasan dengan bapak-bapak yang nampaknya baru saja pulang dari surau.

Sampai akhirnya, ia tiba di lokasi rumah bukit itu. 

Di tempat dirinya bekerja, ada aturan untuk tidak melemparkan koran ke rumah-rumah pelanggan. Karenanya, dia pun menghentikan sepedanya dan menyandarkannya ke pagar rumah berlanjut ia keluarkan gulungan koran dari tas kemudian bergerak memasuki pekarangan rumah. 

Banyan sudah berdiri di depan ambang pintu rumah, menatap pintu sejenak–lalu membungkukkan badan untuk meletakkan gulungan koran di atas karpet kaki. 

Namun, ketika pandangannya jatuh menatap gulungan koran yang sudah tergeletak itu. Pupil matanya bergerak ke kanan, lalu kiri dengan begitu perlahan. Mendadak sebuah pertanyaan melesat di pikirannya.

Dengan nadanya yang pelan setengah berbisik–ia bergumam, "Mengapa … tak ada tumpukan koran jika rumah ini selalu kosong?" Dan sesaat seolah angin pagi sedang meniup lehernya, sontak sensasi dingin menjalar ke sekujur tubuhnya.

Ia terpatung. Berpikir sejenak. 

Detik kemudian, ia abaikan ketidaknyamanannya dengan melipur sedikit tertawa tipis seperti sedang menghibur diri. 

"Mungkin selalu ada yang mengambilnya. Tapi, … tetap saja."

Lelaki itu menegakkan tubuhnya kembali. 

Anehnya, biasanya ia hanya akan langsung pergi.

Namun, entah kenapa kali ini matanya benar-benar terfokus memperhatikan tiap sudut lingkungan rumah itu. Ia berjalan mundur sambil mendongakkan kepala–menatap keseluruhan bangunan yang benar-benar seperti tak terlihat ada nafas kehidupan. 

Diperhatikan ulang, kondisi pekarangan rumah yang sama sekali tidak terlihat berserakan dedaunan kering satu pun, seketika loper koran itu dibuat berpikir begitu keras. 

Akan tetapi, percuma ia curiga. Toh yang penting korannya sudah dibayar. Jadilah pemuda itu beranjak dari pekarangan rumah sambil menggelengkan kepalanya.

Hanya saja … begitu menginjakkan kakinya beberapa langkah, terdengar jatuhnya suatu benda—seperti tersenggol oleh sesuatu kemudian terbentur mengenai keramik. Suaranya begitu nyaring, mirip gelas yang pecah. Seketika ia merinding, punggungnya mendingin dan ia bergeming.

Dengan dirinya yang masih terpaku—bahkan kepala pun tak mau bergerak menoleh, sayup-sayup terdengar isakan tangis samar. Makinlah menjadi-jadi dirinya dibuat merinding, kini disertai suhu badan yang sedikit menghangat. Meski langit perlahan mengaburkan warna gelapnya, angin pagi tetap saja membuatnya tak nyaman, memancing hadirnya rasa cemas di dada.  Tanpa dasar apapun, ia menyimpulkan bahwa ada sosok tak kasat mata di sekitarnya.

Ia ingin lari.

Namun, tampaknya rasa penasarannya lebih besar. Banyan justru menoleh ke belakang, menatap pintu itu dan diikuti oleh langkah kakinya yang justru bergerak mendekat hingga kembali berhenti tepat di depan pintu.

Tak ada suara apapun lagi. Ini membuatnya risau.

Ia hendak berbalik badan. Namun–ia mendadak tak bisa mengendalikan tubuhnya lagi.

Banyan panik. 

Ia lihat dirinya sedang meraih gagang pintu, dibukalah dengan mudahnya, dan menampilkan isi dari rumah itu. Seperti rumah joglo, tak banyak ruang dan cukup gelap. Banyaknya ventilasi dan jendela ditambah dua daun pintu—tampaknya tak terlalu mempengaruhi pencahayaan dalam rumah ini. 

Detik yang sama, si loper koran tanpa aba-aba mendudukkan dirinya di sebuah kursi. Sungguh kini Banyan lebih tampak seperti orang linglung. Tentunya ia masih merasa ngeri, tapi sensasi merinding itu sudah tak ia rasakan lagi.

Lamat-lamat, di tengah ruangan hampa itu—ada cahaya api bergerak mendekat. Mata Banyan terbelalak. Api kecil itu lantas berhenti. Nyatanya sedang menyulutkan diri di sumbu lilin. Berpencarlah cahaya kecilnya, menyinari tiap sudut di dalam rumah itu. 

Sungguh terkesiap pemuda itu.

Belum juga diberi jeda untuk bernapas, muncullah sayup-sayup suara. Itu bisikan halus yang tak jelas berkata apa. Masih terdengar seperti gumaman. Sebab was-was, radar atensinya makin tajam. Pupilnya bergerak cepat kesana-kemari mencari-cari sumber suaranya.

“Seharusnya sedari awal aku menyulut lilin ini.” Seketika gumaman itu menyeruak. Terdengar milik seorang gadis. Suaranya netral, tak parau maupun riang. “Maukah engkau mendengarkan ceritaku? Tentang rumah ini, dan pencahayaan disini?”

Anehnya, badan si loper koran seolah terlepas dari ikatan rantai. Kontrol yang sempat lepas dari tangannya, kembali ia pegang. Seharusnya pada kesempatan seperti ini, si loper koran kabur dari rumah mistis ini. Nyatanya ia hanya berpikir sejenak. Tanpa diatur oleh siapapun lagi, ia menganggukkan kepala.

Lantas suara itu kembali menyeruak, “Tak pernah sekalipun aku mengetahui dari mana sebabnya, tahu-tahu aku sudah bersatu bersama lautan. Di dalamnya, perlawananku sudah tak lagi berpengaruh hingga … mau tak mau—aku harus menerimanya dalam sesak. Tapi tahukah engkau? Nyatanya tetaplah hampa dan menyiksa. Bukan kehampaan itu yang kumau.”

Seketika asap yang timbul dari lilin itu–meliuk penuh teratur hingga menyerupai layaknya sosok gadis sepenuhnya tanpa muka. Jantung Banyan berdebar begitu kencang, sampai sesak rasanya. Asap itu terlihat menembus raganya tanpa permisi. Membuat suara pemuda itu tercekat, seolah dihempaskan paksa oleh seseorang.

Dan mendadak … ia melihat, mendengar serta merasakan sesuatu yang bukanlah miliknya sendiri.

***

Rumah dinaungi lampu itu tak dijamin aman dari bahaya.

Namun, rumah tanpa lampu lebih membahayakan.

Sebab penghuninya akan merasakan sesak. Laringnya seketika tercekik. Ia akan kesulitan membedakan arah, mendadak lupa bagaimana bentuk denah rumahnya sendiri. Bahkan meski ia membuka kelopak mata, di detik itu pula ia tak yakin bahwa matanya sudah menangkap banyak objek—sedangkan pandangan itu hanya tak tersorot bias cahaya.

Dan mungkin … situasi seperti itulah yang kini kualami.

Dengan daya pandang pendek seperti ini, masih mungkin bagiku mengetahui suasana melalui sensorik. Kurasakan hawa panas menyapa di hadapanku—layaknya angin panas yang sedang menerpa wajahku. Kusadari kontrol tubuh yang masih sempat kembali di bawah kendaliku, kini diambil alih lagi oleh suatu sosok.

Pada pandanganku yang terjatuh, gelap tadi perlahan menghilang seperti kabut yang lenyap dengan lamat-lamat. Ada kakiku, tapi di depannya pun juga ada kaki milik orang lain. Sepertinya kami sedang duduk berhadapan.

Hening sempat menyertai, tapi tak lama terdengar ia sedang menarik napas seolah bersiap berucap sesuatu.

Orang itu mengatakan, “Lilinmu tak pernah memiliki api. Tolonglah … cari pemantik dan nyalakan api itu pada sumbu milikmu sendiri. Tak mungkin seseorang tak memiliki pemantik. Jika tak ada, bukankah cukup kau beli saja?” Nadanya terdengar menuntut. 

Tanpa alasan, tanganku kini saling meremaskan diri, disertai kuku jari yang sedang tergenggam kuat–makin menusuk telapak tangan. 

Kukira ia sudah selesai, nyatanya masih berlanjut mengucap, “Bahkan jika memang banyak yang tak memiliki pemantik, mereka tak segelap itu. Kenapa kau berlebihan? Apa lagi yang belum aku pahami? Kenapa kau tak pernah mau menjelaskan? Pada akhirnya menyalahkan semua orang karena tak pernah bisa memahamimu. Apa yang kau mau?”

Sekejap aku jadi tak bisa membedakan, apakah ini benar-benar pengalamanku sendiri sebab segalanya terlalu bercampur. Seolah terikat menjadi satu dengan jiwa ‘sosok itu’. Tak hanya titik air saja yang kurasakan sedang menyentuh punggung tangan—melainkan deru jantung pun meningkat tak karuan. Rasa bersalah, kalut, bingung seketika menggerayapi diriku.

Batinku bertanya pada sosok itu: Apa yang membuatmu seperti ini?

Ia tak menjawab, atau mungkin ia tak bisa bersuara sembari meminjam tubuhku.

Perlahan suara menuntut tadi mengendap. Berisik dan sensasi berat di kepala seperti diangkat. Mendadak ringan, hening yg damai. Sampai pada pemandangan di suatu ruangan yang sama sekali tak kukenali kini memburam, kemudian detik demi detik pandangan dan pendengaranku menggelap kembali. 

Berganti hening yang hampa. 

Hawa dingin mendadak mendekap diriku. Sayup-sayup telingaku menangkap suara rintik air. Lama-kelamaan suaranya makin jelas, dan berisik. Ditambah terdengar seperti klakson mobil beradu dengan seruan banyak orang. Di sisi lain, titik-titik air jatuh mengenai puncak kepala, perlahan makin menghujami diriku hingga membasahi seluruh tubuhku.

Nyatanya hujan sedari tadi sudah mendera.  

Aku mendongakkan kepala, kelopak mata terbuka pelan dan kudapati langit tanpa satu bintang pun.

Pandanganku perlahan turun, menoleh samping, lantas meluruskan pandangan. Sepanjang jalan di sampingku ini ternyata sedang dipadati oleh banyaknya kendaraan. Bias cahaya dari sorot lampu mobil, lampu lalu lintas, lampu jalan maupun lampu dari gedung-gedung tampak mengabur dari pandanganku.

Dan di antara atensiku yang tersebar acak, muncul sebuah mobil tepat di sisi kanan. 

 Sebuah pantulan pun nampak.

Itu ragaku, tapi … aku tak melihat wajahku.

Kepalaku terlihat ketumpahan lumpur. Hitam pekat. Layaknya cairan aspal yang masih mengental. Anehnya tak berbau. Akan tetapi, teksturnya seperti lendir, lengket dan benda itu membungkus kepala-ku sepenuhnya. Namun, apabila benda ini memang menutupi keseluruhan kepala ini–lantas … bagaimana aku masih bisa melihat segalanya?

Aku memegang wajahku dan kuyakin sensasi lengket itu kini berpindah ke kedua telapak tangan. Seperti sedang menyentuh air ludah seseorang. Akan tetapi, tak ada apapun di tangan ini. 

Aku kembali menatap kaca mobil. Terlihat jelas lendir itu bergerak perlahan menetes. Awalnya menggantung, menempel ke dagu, perlahan merayapi leher–terasa dingin layaknya hewan berdarah dingin sedang melata–hingga berhenti jatuh tepat di dadaku.

Gila, apa-apaan ini?

"Semua ini mengurungku. Aku tak tahu sejak kapan memilikinya."  Aku mendengar suaranya lagi. 

Lepasnya hening, dan kedua kaki pun kembali melanjutkan perjalanan.

Perlahan transisi yang sebelumnya terjadi, kembali muncul. Kini penglihatanku dikaburkan. Gelap. Seperti sedang berjalan dalam terowongan gorong-gorong.

Dengan sabar terus kutunggu. 

Tak ada suara apapun, juga belum ada hal yang dapat kulihat. Namun, aku rasakan telapak kakiku berjalan di atas pasir. Sampai akhirnya perlahan air terhempas ke arahku, diikuti dengan aku yang sudah bisa melihat lagi.

 Dan benarlah, aku berada di tepi laut. 

Aku menoleh kanan, tak ada orang. Begitu juga dengan arah lain. Saat ini langit sedang kemerahan, jadi hawa perlahan mulai menipis dan sejujurnya terasa menggigil.

Dan lagi-lagi roh itu mengabaikan alarm suhu tubuhku. Bukannya bergerak menjauh dari air laut yang makin dingin. Kini tubuhku justru mendudukkan dirinya dengan bagian bawah badan yang langsung menyentuh dinginnya air laut. 

Bolak-balik diriku terhempas oleh percikan air. Seolah sedang melambai kepadaku.

Pandanganku jatuh, menatap air. 

Disitu masih ada pantulan wajahku yang tertutup oleh lendir. Mendadak lupa bagaimana seharusnya ekspresiku di situasi seperti saat ini. 

"Apa laut ini ada hubungannya denganmu?" gumamku tanpa mengharap respon.

Dan sungguh, kali ini aku tak menyangka roh itu akhirnya menanggapiku. Ia mengatakan, "Saat itu aku berpikir … bagaimana jika aku mencuci kepalaku dengan berendam di lautan yang dingin ini? Akankah lendir menjijikkan ini akan ikut terangkat?"

Sejenak aku terdiam.

"Apa saat itu … kau memutuskan untuk memilih lautan?" tanyaku.

Bukannya kembali meresponku, ia justru membawa badan ini kembali tegak kemudian berjalan lagi.

Tubuh ini masuk lebih jauh, menyambut dekapan lautan yang menusuk. Yang perlahan tiap bulir airnya layaknya para serangga yang sedang menyusup. Perlahan dadaku makin memberat–seperti ada tekanan besar yang terus menghimpit. Terasa diikat oleh suatu tali dingin. 

"Apakah lendir itu pada akhirnya menghilang seperti yang kau harapkan?" tanyaku tanpa maksud apapun.

Hening. 

Di saat yang bersamaan–dadaku panas, hidungku pun panas. Tak sengaja menghirup air saat berenang di sungai kecil saja sangat perih, apalagi membiarkan diri dipeluk oleh gerombolan air laut. Rasanya benar-benar seperti ada banyak objek yang sedang menerobos masuk ke dada, memaksa jantungmu berpacu lebih kencang.

Sungguh miris. Bahkan tanpa diminta pun,  tubuh sendiri bereaksi mencoba naik ke permukaan kembali.  

Dan masih dengan kesadaranku, roh ini seolah memberitahuku bagaimana rasanya tersiksa perlahan dalam keadaan sadar.

Dengan dada yang masih terasa panas nyata ini, aku masih mencari-cari sosok itu di balik bayangan pikiranku.

"Apa kau masih bersamaku?" batinku memanggilnya.

Sayup-sayup terdengar isakan tangis. Suara yang menjadi pengganti dari respon yang kuharapkan. Nadanya berubah menjadi parau, ia menjawab, "Aku mengira laut mendekapku dengan hangat, nyatanya laringku tercekik lebih hebat. Aku ingat rasanya …" Tangisannya makin mengerang. Jantungku makin terasa sakit mendengarnya, seketika ingin kudekap roh itu secara nyata. Apalah daya, semua ini hanyalah kenangan yang ia bagi denganku.

Gadis itu melanjutkan, "Tiap-tiap bagian tubuhku mencari-cari sesuatu, bergerak menjangkau ke atas–berusaha meraih permukaan kembali. Pada akhirnya, aku hanya ingin lendir itu tak lagi menggangguku. Aku hanya ingin sanggup mengunyah. Aku hanya ingin tertidur pulas satu jam saja. Aku hanya ingin membuka jendela rumah. Dan aku … hanya ingin membersihkan diri."

Kurasakan semacam peluh mengalir dari kelopak mata, menurun hingga menggantung di dagu. Dan kusadari bahwa itu bukanlah peluh melainkan air mata. Sayup-sayup pula suara di sekitarku makin meredam.

Dari jarak pandang yang perlahan memburam ini, tiap jemariku terlihat bergerak refleks. Keningku berkerut dalam heran, kusadari bahwa jari itu bergerak sesuai keinginanku. Lama-kelamaan kelopak mataku memberat, ditambah tak ada lagi suara roh gadis itu.

Tampaknya kini kendali tubuh sudah kudapatkan kembali, bibirku dapat bergerak sesuai kontrolku. Aku berucap, "Begitu aku keluar dari sini, kutitipkan doa untukmu. Maaf untuk semua rasa ini."

Kukira ada keajaiban layaknya yang dipercayai. Namun, faktanya laut lebih memilih mendekap gadis itu lebih erat. Aku tak tahu, tapi tampaknya air mataku tak bersatu dengan lautan.

 

Penulis: Jasmine Azzahra Wahyudi, karyawan swasta di Pasuruan.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.