Lendir Bersuara
"Banyan, semua koran harus dikirimkan. Tak
terkecuali kepada satu rumah di atas bukit. Meski kosong, teruslah kau hampiri
dan letakkan korannya di depan pintu. Bukan karena apa-apa, yang pasti penghuni
rumah sebelumnya telah membayarkan langganan koran selama enam bulan. Jadi
penuhilah kewajibanmu."
Setidaknya begitulah perintah bosnya kepada pemuda loper
koran sekitar satu minggu yang lalu. Tentu ia tak paham. Namun, sebagai seorang
loper koran, tentunya dia hanya mempedulikan bahwa koran langganannya sudah
diantarkan sesuai perintah.
Hanya saja, gelitik rasa penasaran itu masih ada. Mengapa
penghuninya sudah membayarkan langganan setengah tahun di muka, jika pada
akhirnya ia tak pernah berada di rumahnya?
Bahkan di antara rumah-rumah yang berdampingan, hanya rumah
di atas bukit itu yang tampak terbangun kokoh sendirian. Dan hanya rumah itulah
yang tak pernah menampakkan tuannya sedang beraktivitas. Sama sekali tidak
pernah ditemukan cahaya dari dalam, bahkan saat malam hari.
Awalnya satu hari, dua hari terlewati cukup tenang.
Berlanjut lima hari kemudian–di suatu pagi, rasa penasaran
yang sempat Banyan usahakan tuk diendapkan, pada akhirnya membuncah.
Meski langit pagi masih menggelap, pemuda loper koran itu
giat mengayuh sepeda ontelnya–menyusuri tiap gang. Sesekali ia berpapasan
dengan bapak-bapak yang nampaknya baru saja pulang dari surau.
Sampai akhirnya, ia tiba di lokasi rumah bukit itu.
Di tempat dirinya bekerja, ada aturan untuk tidak
melemparkan koran ke rumah-rumah pelanggan. Karenanya, dia pun menghentikan
sepedanya dan menyandarkannya ke pagar rumah berlanjut ia keluarkan gulungan
koran dari tas kemudian bergerak memasuki pekarangan rumah.
Banyan sudah berdiri di depan ambang pintu rumah, menatap
pintu sejenak–lalu membungkukkan badan untuk meletakkan gulungan koran di atas
karpet kaki.
Namun, ketika pandangannya jatuh menatap gulungan koran yang
sudah tergeletak itu. Pupil matanya bergerak ke kanan, lalu kiri dengan begitu
perlahan. Mendadak sebuah pertanyaan melesat di pikirannya.
Dengan nadanya yang pelan setengah berbisik–ia bergumam,
"Mengapa … tak ada tumpukan koran jika rumah ini selalu kosong?" Dan
sesaat seolah angin pagi sedang meniup lehernya, sontak sensasi dingin menjalar
ke sekujur tubuhnya.
Ia terpatung. Berpikir sejenak.
Detik kemudian, ia abaikan ketidaknyamanannya dengan melipur
sedikit tertawa tipis seperti sedang menghibur diri.
"Mungkin selalu ada yang mengambilnya. Tapi, … tetap
saja."
Lelaki itu menegakkan tubuhnya kembali.
Anehnya, biasanya ia hanya akan langsung pergi.
Namun, entah kenapa kali ini matanya benar-benar terfokus
memperhatikan tiap sudut lingkungan rumah itu. Ia berjalan mundur sambil
mendongakkan kepala–menatap keseluruhan bangunan yang benar-benar seperti tak
terlihat ada nafas kehidupan.
Diperhatikan ulang, kondisi pekarangan rumah yang sama
sekali tidak terlihat berserakan dedaunan kering satu pun, seketika loper koran
itu dibuat berpikir begitu keras.
Akan tetapi, percuma ia curiga. Toh yang penting korannya
sudah dibayar. Jadilah pemuda itu beranjak dari pekarangan rumah sambil
menggelengkan kepalanya.
Hanya saja … begitu menginjakkan kakinya beberapa langkah,
terdengar jatuhnya suatu benda—seperti tersenggol oleh sesuatu kemudian
terbentur mengenai keramik. Suaranya begitu nyaring, mirip gelas yang pecah.
Seketika ia merinding, punggungnya mendingin dan ia bergeming.
Dengan dirinya yang masih terpaku—bahkan kepala pun tak mau
bergerak menoleh, sayup-sayup terdengar isakan tangis samar. Makinlah
menjadi-jadi dirinya dibuat merinding, kini disertai suhu badan yang sedikit
menghangat. Meski langit perlahan mengaburkan warna gelapnya, angin pagi tetap
saja membuatnya tak nyaman, memancing hadirnya rasa cemas di dada. Tanpa
dasar apapun, ia menyimpulkan bahwa ada sosok tak kasat mata di sekitarnya.
Ia ingin lari.
Namun, tampaknya rasa penasarannya lebih besar. Banyan
justru menoleh ke belakang, menatap pintu itu dan diikuti oleh langkah kakinya
yang justru bergerak mendekat hingga kembali berhenti tepat di depan pintu.
Tak ada suara apapun lagi. Ini membuatnya risau.
Ia hendak berbalik badan. Namun–ia mendadak tak bisa
mengendalikan tubuhnya lagi.
Banyan panik.
Ia lihat dirinya sedang meraih gagang pintu, dibukalah
dengan mudahnya, dan menampilkan isi dari rumah itu. Seperti rumah joglo, tak
banyak ruang dan cukup gelap. Banyaknya ventilasi dan jendela ditambah dua daun
pintu—tampaknya tak terlalu mempengaruhi pencahayaan dalam rumah ini.
Detik yang sama, si loper koran tanpa aba-aba mendudukkan
dirinya di sebuah kursi. Sungguh kini Banyan lebih tampak seperti orang
linglung. Tentunya ia masih merasa ngeri, tapi sensasi merinding itu sudah tak
ia rasakan lagi.
Lamat-lamat, di tengah ruangan hampa itu—ada cahaya api
bergerak mendekat. Mata Banyan terbelalak. Api kecil itu lantas berhenti.
Nyatanya sedang menyulutkan diri di sumbu lilin. Berpencarlah cahaya kecilnya,
menyinari tiap sudut di dalam rumah itu.
Sungguh terkesiap pemuda itu.
Belum juga diberi jeda untuk bernapas, muncullah sayup-sayup
suara. Itu bisikan halus yang tak jelas berkata apa. Masih terdengar seperti
gumaman. Sebab was-was, radar atensinya makin tajam. Pupilnya bergerak cepat
kesana-kemari mencari-cari sumber suaranya.
“Seharusnya sedari awal aku menyulut lilin ini.” Seketika
gumaman itu menyeruak. Terdengar milik seorang gadis. Suaranya netral, tak
parau maupun riang. “Maukah engkau mendengarkan ceritaku? Tentang rumah ini,
dan pencahayaan disini?”
Anehnya, badan si loper koran seolah terlepas dari ikatan
rantai. Kontrol yang sempat lepas dari tangannya, kembali ia pegang. Seharusnya
pada kesempatan seperti ini, si loper koran kabur dari rumah mistis ini.
Nyatanya ia hanya berpikir sejenak. Tanpa diatur oleh siapapun lagi, ia
menganggukkan kepala.
Lantas suara itu kembali menyeruak, “Tak pernah sekalipun
aku mengetahui dari mana sebabnya, tahu-tahu aku sudah bersatu bersama lautan.
Di dalamnya, perlawananku sudah tak lagi berpengaruh hingga … mau tak mau—aku
harus menerimanya dalam sesak. Tapi tahukah engkau? Nyatanya tetaplah hampa dan
menyiksa. Bukan kehampaan itu yang kumau.”
Seketika asap yang timbul dari lilin itu–meliuk penuh
teratur hingga menyerupai layaknya sosok gadis sepenuhnya tanpa muka. Jantung
Banyan berdebar begitu kencang, sampai sesak rasanya. Asap itu terlihat
menembus raganya tanpa permisi. Membuat suara pemuda itu tercekat, seolah
dihempaskan paksa oleh seseorang.
Dan mendadak … ia melihat, mendengar serta merasakan sesuatu
yang bukanlah miliknya sendiri.
***
Rumah dinaungi lampu itu tak dijamin aman dari bahaya.
Namun, rumah tanpa lampu lebih membahayakan.
Sebab penghuninya akan merasakan sesak. Laringnya seketika
tercekik. Ia akan kesulitan membedakan arah, mendadak lupa bagaimana
bentuk denah rumahnya sendiri. Bahkan meski ia membuka kelopak mata, di
detik itu pula ia tak yakin bahwa matanya sudah menangkap banyak
objek—sedangkan pandangan itu hanya tak tersorot bias cahaya.
Dan mungkin … situasi seperti itulah yang kini kualami.
Dengan daya pandang pendek seperti ini, masih mungkin bagiku
mengetahui suasana melalui sensorik. Kurasakan hawa panas menyapa di
hadapanku—layaknya angin panas yang sedang menerpa wajahku. Kusadari kontrol
tubuh yang masih sempat kembali di bawah kendaliku, kini diambil alih lagi oleh
suatu sosok.
Pada pandanganku yang terjatuh, gelap tadi perlahan
menghilang seperti kabut yang lenyap dengan lamat-lamat. Ada kakiku, tapi di
depannya pun juga ada kaki milik orang lain. Sepertinya kami sedang duduk
berhadapan.
Hening sempat menyertai, tapi tak lama terdengar ia sedang
menarik napas seolah bersiap berucap sesuatu.
Orang itu mengatakan, “Lilinmu tak pernah memiliki api.
Tolonglah … cari pemantik dan nyalakan api itu pada sumbu milikmu sendiri. Tak
mungkin seseorang tak memiliki pemantik. Jika tak ada, bukankah cukup kau beli
saja?” Nadanya terdengar menuntut.
Tanpa alasan, tanganku kini saling meremaskan diri, disertai
kuku jari yang sedang tergenggam kuat–makin menusuk telapak tangan.
Kukira ia sudah selesai, nyatanya masih berlanjut mengucap,
“Bahkan jika memang banyak yang tak memiliki pemantik, mereka tak segelap itu.
Kenapa kau berlebihan? Apa lagi yang belum aku pahami? Kenapa kau tak pernah
mau menjelaskan? Pada akhirnya menyalahkan semua orang karena tak pernah bisa
memahamimu. Apa yang kau mau?”
Sekejap aku jadi tak bisa membedakan, apakah ini benar-benar
pengalamanku sendiri sebab segalanya terlalu bercampur. Seolah terikat menjadi
satu dengan jiwa ‘sosok itu’. Tak hanya titik air saja yang kurasakan sedang
menyentuh punggung tangan—melainkan deru jantung pun meningkat tak karuan. Rasa
bersalah, kalut, bingung seketika menggerayapi diriku.
Batinku bertanya pada sosok itu: Apa yang membuatmu
seperti ini?
Ia tak menjawab, atau mungkin ia tak bisa bersuara sembari
meminjam tubuhku.
Perlahan suara menuntut tadi mengendap. Berisik dan sensasi
berat di kepala seperti diangkat. Mendadak ringan, hening yg damai. Sampai pada
pemandangan di suatu ruangan yang sama sekali tak kukenali kini memburam,
kemudian detik demi detik pandangan dan pendengaranku menggelap kembali.
Berganti hening yang hampa.
Hawa dingin mendadak mendekap diriku. Sayup-sayup telingaku
menangkap suara rintik air. Lama-kelamaan suaranya makin jelas, dan berisik.
Ditambah terdengar seperti klakson mobil beradu dengan seruan banyak orang. Di
sisi lain, titik-titik air jatuh mengenai puncak kepala, perlahan makin
menghujami diriku hingga membasahi seluruh tubuhku.
Nyatanya hujan sedari tadi sudah mendera.
Aku mendongakkan kepala, kelopak mata terbuka pelan dan
kudapati langit tanpa satu bintang pun.
Pandanganku perlahan turun, menoleh samping, lantas
meluruskan pandangan. Sepanjang jalan di sampingku ini ternyata sedang dipadati
oleh banyaknya kendaraan. Bias cahaya dari sorot lampu mobil, lampu lalu
lintas, lampu jalan maupun lampu dari gedung-gedung tampak mengabur dari
pandanganku.
Dan di antara atensiku yang tersebar acak, muncul sebuah
mobil tepat di sisi kanan.
Sebuah pantulan pun nampak.
Itu ragaku, tapi … aku tak melihat wajahku.
Kepalaku terlihat ketumpahan lumpur. Hitam pekat. Layaknya
cairan aspal yang masih mengental. Anehnya tak berbau. Akan tetapi, teksturnya
seperti lendir, lengket dan benda itu membungkus kepala-ku sepenuhnya. Namun,
apabila benda ini memang menutupi keseluruhan kepala ini–lantas … bagaimana aku
masih bisa melihat segalanya?
Aku memegang wajahku dan kuyakin sensasi lengket itu kini
berpindah ke kedua telapak tangan. Seperti sedang menyentuh air ludah
seseorang. Akan tetapi, tak ada apapun di tangan ini.
Aku kembali menatap kaca mobil. Terlihat jelas lendir itu
bergerak perlahan menetes. Awalnya menggantung, menempel ke dagu, perlahan
merayapi leher–terasa dingin layaknya hewan berdarah dingin sedang
melata–hingga berhenti jatuh tepat di dadaku.
Gila, apa-apaan ini?
"Semua ini mengurungku. Aku tak tahu sejak kapan
memilikinya." Aku mendengar suaranya lagi.
Lepasnya hening, dan kedua kaki pun kembali melanjutkan
perjalanan.
Perlahan transisi yang sebelumnya terjadi, kembali muncul.
Kini penglihatanku dikaburkan. Gelap. Seperti sedang berjalan dalam terowongan
gorong-gorong.
Dengan sabar terus kutunggu.
Tak ada suara apapun, juga belum ada hal yang dapat kulihat.
Namun, aku rasakan telapak kakiku berjalan di atas pasir. Sampai akhirnya
perlahan air terhempas ke arahku, diikuti dengan aku yang sudah bisa melihat
lagi.
Dan benarlah, aku berada di tepi laut.
Aku menoleh kanan, tak ada orang. Begitu juga dengan arah
lain. Saat ini langit sedang kemerahan, jadi hawa perlahan mulai menipis dan
sejujurnya terasa menggigil.
Dan lagi-lagi roh itu mengabaikan alarm suhu tubuhku.
Bukannya bergerak menjauh dari air laut yang makin dingin. Kini tubuhku justru
mendudukkan dirinya dengan bagian bawah badan yang langsung menyentuh dinginnya
air laut.
Bolak-balik diriku terhempas oleh percikan air. Seolah
sedang melambai kepadaku.
Pandanganku jatuh, menatap air.
Disitu masih ada pantulan wajahku yang tertutup oleh lendir.
Mendadak lupa bagaimana seharusnya ekspresiku di situasi seperti saat
ini.
"Apa laut ini ada hubungannya denganmu?" gumamku
tanpa mengharap respon.
Dan sungguh, kali ini aku tak menyangka roh itu akhirnya
menanggapiku. Ia mengatakan, "Saat itu aku berpikir … bagaimana jika
aku mencuci kepalaku dengan berendam di lautan yang dingin ini? Akankah lendir
menjijikkan ini akan ikut terangkat?"
Sejenak aku terdiam.
"Apa saat itu … kau memutuskan untuk memilih
lautan?" tanyaku.
Bukannya kembali meresponku, ia justru membawa badan ini
kembali tegak kemudian berjalan lagi.
Tubuh ini masuk lebih jauh, menyambut dekapan lautan yang
menusuk. Yang perlahan tiap bulir airnya layaknya para serangga yang sedang
menyusup. Perlahan dadaku makin memberat–seperti ada tekanan besar yang terus
menghimpit. Terasa diikat oleh suatu tali dingin.
"Apakah lendir itu pada akhirnya menghilang seperti
yang kau harapkan?" tanyaku tanpa maksud apapun.
Hening.
Di saat yang bersamaan–dadaku panas, hidungku pun panas. Tak
sengaja menghirup air saat berenang di sungai kecil saja sangat perih, apalagi
membiarkan diri dipeluk oleh gerombolan air laut. Rasanya benar-benar seperti
ada banyak objek yang sedang menerobos masuk ke dada, memaksa jantungmu berpacu
lebih kencang.
Sungguh miris. Bahkan tanpa diminta pun, tubuh sendiri
bereaksi mencoba naik ke permukaan kembali.
Dan masih dengan kesadaranku, roh ini seolah memberitahuku
bagaimana rasanya tersiksa perlahan dalam keadaan sadar.
Dengan dada yang masih terasa panas nyata ini, aku masih
mencari-cari sosok itu di balik bayangan pikiranku.
"Apa kau masih bersamaku?" batinku
memanggilnya.
Sayup-sayup terdengar isakan tangis. Suara yang menjadi
pengganti dari respon yang kuharapkan. Nadanya berubah menjadi parau, ia
menjawab, "Aku mengira laut mendekapku dengan hangat, nyatanya laringku
tercekik lebih hebat. Aku ingat rasanya …" Tangisannya makin
mengerang. Jantungku makin terasa sakit mendengarnya, seketika ingin kudekap
roh itu secara nyata. Apalah daya, semua ini hanyalah kenangan yang ia bagi
denganku.
Gadis itu melanjutkan, "Tiap-tiap bagian tubuhku
mencari-cari sesuatu, bergerak menjangkau ke atas–berusaha meraih permukaan
kembali. Pada akhirnya, aku hanya ingin lendir itu tak lagi menggangguku. Aku
hanya ingin sanggup mengunyah. Aku hanya ingin tertidur pulas satu jam saja.
Aku hanya ingin membuka jendela rumah. Dan aku … hanya ingin membersihkan
diri."
Kurasakan semacam peluh mengalir dari kelopak mata, menurun
hingga menggantung di dagu. Dan kusadari bahwa itu bukanlah peluh melainkan air
mata. Sayup-sayup pula suara di sekitarku makin meredam.
Dari jarak pandang
yang perlahan memburam ini, tiap jemariku terlihat bergerak refleks. Keningku
berkerut dalam heran, kusadari bahwa jari itu bergerak sesuai keinginanku.
Lama-kelamaan kelopak mataku memberat, ditambah tak ada lagi suara roh gadis
itu.
Tampaknya kini kendali tubuh sudah kudapatkan kembali,
bibirku dapat bergerak sesuai kontrolku. Aku berucap, "Begitu aku keluar
dari sini, kutitipkan doa untukmu. Maaf untuk semua rasa ini."
Kukira ada keajaiban layaknya yang dipercayai. Namun,
faktanya laut lebih memilih mendekap gadis itu lebih erat. Aku tak tahu, tapi
tampaknya air mataku tak bersatu dengan lautan.
Penulis: Jasmine Azzahra Wahyudi, karyawan swasta di Pasuruan.