Mengapa Kita Sulit Meninggalkan Neverland?
"Semua anak tumbuh dewasa, kecuali satu."
Kalimat pembuka dalam novel Peter and Wendy karya J.M. Barrie ini mungkin terdengar sederhana. Namun, lebih dari satu abad kemudian, sosok Peter Pan tetap memiliki makna yang dalam karena ia melambangkan keinginan untuk bertahan di dunia yang terasa aman, bebas dari tanggung jawab, perubahan, dan ketidakpastian. Di balik kisah fantasinya, Peter Pan mengingatkan kita bahwa menjadi dewasa bukanlah proses yang selalu mudah untuk diterima.
Menjadi dewasa berarti menerima bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Berbeda dengan masa kanak-kanak ketika banyak keputusan masih ditentukan oleh orang tua atau lingkungan, memasuki masa dewasa membuat seseorang mulai bertanggung jawab atas arah hidupnya sendiri.
Kita dihadapkan pada berbagai keputusan yang tidak selalu memiliki jawaban benar atau salah, entah itu dalam memilih jurusan kuliah, menentukan arah karier, membangun atau mengakhiri hubungan, menghadapi kegagalan, hingga kita menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Setiap pilihan sering kali berarti melepaskan kemungkinan yang lain, sehingga tidak jarang muncul rasa ragu atau takut mengambil keputusan yang salah.
Di tengah media sosial yang dipenuhi cerita tentang pencapaian orang lain, tekanan-tekanan tersebut sering kali terasa semakin besar.
Melihat teman lulus lebih cepat, memperoleh pekerjaan impian, atau tampak telah menemukan arah hidupnya dapat membuat sebagian dari kita membandingkan diri dan mempertanyakan “apakah aku sudah berada di jalan yang tepat?” Perasaan bingung, takut tertinggal, atau belum benar-benar siap menjadi dewasa pun akhirnya menjadi pengalaman yang tidak asing bagi banyak orang.
Pergulatan inilah yang membuat Farewell, Neverland dari TOMORROW X TOGETHER (TXT) terasa begitu dekat. Lagu ini bukan sekadar tentang mengucapkan selamat tinggal kepada Neverland, tetapi menggambarkan tentang keberanian meninggalkan tempat yang selama ini terasa aman untuk menghadapi kehidupan yang penuh ketidakpastian.
Neverland sebagai Simbol Zona Nyaman
Dalam wawancaranya dengan Weverse Magazine, Yeonjun menjelaskan bahwa Farewell, Neverland ditulis dari sudut pandang seorang anak yang ingin tetap tinggal bersama Peter Pan. Namun, pada akhirnya, ia menyadari bahwa ia harus meninggalkan Neverland agar dapat terus berkembang.
Penjelasan tersebut dapat mengubah cara kita memandang lagu ini. Neverland tidak lagi sekadar sebuah pulau dalam cerita anak-anak, melainkan menjadi metafora bagi berbagai hal yang membuat seseorang enggan melangkah maju.
Hal tersebut tergambarkan pada bait pertama lagu:
Every day is warm, every day is the same season
Boys don't grow up
A kiss from the sun that never sleeps
No one can see the stars
A paradise, full of lies
I wanted to turn a blind eye
Pada awalnya, Neverland digambarkan sebagai tempat yang tampak sempurna. "Every day is warm" dan "every day is the same season" melukiskan dunia tanpa perubahan, tanpa kesulitan, dan tanpa ketidakpastian.
Tidak ada musim yang berganti, tidak ada tuntutan untuk bertumbuh. Lirik ini dapat menggambarkan sosok Peter Pan yang menolak menjadi dewasa, sebagaimana ditegaskan melalui lirik "Boys don't grow up."
Namun, kesempurnaan tersebut perlahan dipertanyakan. Ketika lirik mengatakan "No one can see the stars," dunia yang terlihat indah justru terasa kehilangan sesuatu yang penting. Bintang sering diartikan sebagai simbol harapan, tujuan, atau arah hidup. Neverland memang dipenuhi kenyamanan, tetapi justru tidak memberi ruang bagi seseorang untuk menemukan tujuan baru.
Kesadaran itu mencapai puncaknya melalui kalimat "A paradise, full of lies." Neverland ternyata bukan surga yang sesungguhnya, melainkan ilusi yang membuat seseorang enggan meninggalkan zona nyaman.
Menariknya, tokoh “aku” dalam lagu mengakui bahwa ia "wanted to turn a blind eye." Ia sebenarnya menyadari bahwa tempat tersebut tidak lagi membantunya berkembang, tetapi memilih mengabaikan kenyataan karena perubahan terasa jauh lebih menakutkan.
Neverland pada akhirnya dapat dimaknai sebagai berbagai bentuk zona nyaman dalam kehidupan nyata. Ia bisa berupa masa sekolah yang penuh kenangan, rumah yang selalu terasa aman, hubungan yang sulit dilepaskan, pekerjaan yang tidak lagi memberi ruang berkembang, bahkan versi diri yang terus menunda mengambil keputusan karena takut menghadapi masa depan. Dengan kata lain, setiap orang memiliki Neverland yang berbeda-beda.
Mengapa Meninggalkan Neverland Terasa Tidak Mudah?
Jeffrey Jensen Arnett melalui konsep emerging adulthood menjelaskan bahwa usia sekitar 18–25 tahun merupakan masa transisi yang ditandai oleh eksplorasi identitas, berbagai kemungkinan, dan ketidakpastian.
Pada fase ini, banyak individu masih mencari arah pendidikan, karier, hubungan, maupun tujuan hidup sehingga kerap merasa belum benar-benar dewasa (Arnett, 2000). Dari sudut pandang ini, Farewell, Neverland tidak hanya bercerita tentang meninggalkan masa kecil, tetapi juga tentang keberanian melepaskan hal-hal yang terasa akrab untuk menghadapi kehidupan yang belum sepenuhnya pasti.
Pergulatan itu memuncak di bagian chorus:
Neverland, my love, goodbye now
And I'm free falling
Sleep well, everyone
'Til I be calling
No matter where I go
This is no home
Even if I'm afraid, I'm going down
Goodbye, Neverland, my love
Kalimat pertama, "Neverland, my love, goodbye now," langsung memperlihatkan bahwa perpisahan ini bukan dilakukan karena kebencian. Penggunaan frasa my love menunjukkan bahwa tokoh dalam lagu tetap menyayangi Neverland.
Ia pergi bukan karena tempat itu buruk, melainkan karena menyadari bahwa ia tidak bisa terus tinggal di sana. Hal ini mengingatkan bahwa meninggalkan zona nyaman bukan berarti menolak masa lalu, melainkan menerima bahwa setiap fase kehidupan memiliki batas waktunya.
Lirik berikutnya, "And I'm free falling," menjadi salah satu metafora paling kuat dalam lagu ini. Kata jatuh seringkali diartikan sebagai kegagalan atau kehilangan kendali. Namun, di sini maknanya justru terasa berbeda. Tokoh dalam lagu memilih untuk "jatuh" secara sadar.
Sebelumnya, di bagian pre-chorus lagu ini, ia mengungkapkan keinginan untuk terus berada dalam kondisi "endless flying." Terbang tanpa akhir memang terdengar bebas, tetapi juga berarti tidak pernah benar-benar mendarat dan menghadapi kenyataan. Dengan demikian, free falling bukanlah simbol kekalahan, melainkan keberanian melepaskan ilusi demi memasuki kehidupan yang lebih nyata.
Setelah memutuskan pergi dari neverland, lagu tidak langsung menggambarkan akhir yang manis atau kepastian yang menenangkan. Sebaliknya, muncul pengakuan, "No matter where I go, this is no home." Kalimat ini menggambarkan pengalaman yang bisa relate dengan banyak orang yang sedang dalam fase transisi dalam kehidupannya.
Ketika seseorang meninggalkan dunia yang selama ini dikenalnya, ia belum tentu langsung menemukan tempat baru yang terasa seperti rumah. Masa transisi seringkali menghadirkan keadaan “di antara” yaitu berada di antara dua keadaan: tidak lagi menjadi anak-anak, tetapi juga belum sepenuhnya merasa dewasa.
Meski demikian, lagu ini tidak berakhir dengan keputusasaan. Justru melalui lirik "Even if I'm afraid, I'm going down," tokoh dalam lagu mengakui bahwa rasa takut tetap ada. Lagu ini tidak pernah mengatakan bahwa berani berarti tidak takut. Sebaliknya, rasa takut diterima sebagai bagian alami dari proses bertumbuh, di mana seseorang tetap mencoba melangkah meskipun ketakutan itu belum sepenuhnya hilang.
Pandangan tersebut dapat dikaitkan dengan filsafat eksistensialisme. Jean-Paul Sartre melalui gagasan existence precedes essence berpendapat bahwa manusia tidak dilahirkan dengan identitas yang telah ditentukan, melainkan membentuk dirinya melalui pilihan dan tanggung jawab yang diambil sepanjang hidup (Sartre, 1946). Perspektif ini kembali dipertegas pada bait kedua lagu.
Trying to spit out that cruel lie
To the paradise of irresponsible dreams
I'll say my last goodbye
My Peter Pan
Lirik tersebut menggambarkan momen ketika tokoh dalam lagu akhirnya menolak ilusi yang selama ini diyakininya. Neverland disebut sebagai "the paradise of irresponsible dreams", sebuah surga yang memungkinkan seseorang terus bermimpi tanpa harus menghadapi konsekuensi dari kenyataan.
Perpisahan yang diucapkan kepada "My Peter Pan" pun terasa simbolis. Ia bukan hanya meninggalkan sebuah tempat, tetapi juga melepaskan bagian dari dirinya yang selama ini ingin terus menghindari kedewasaan.
Keputusan itu kemudian dipertegas dalam lirik:
Running above the air
At full speed toward the ground
Time to fall, it's time
Tidak ada lagi keinginan untuk terus terbang. Sebaliknya, tokoh dalam lagu menyadari bahwa sudah tiba waktunya untuk "jatuh". Dalam perspektif Sartre, momen ini menggambarkan keberanian mengambil pilihan. Manusia memang tidak dapat menghindari kebebasannya untuk memilih, dan bahkan menunda keputusan pun tetap merupakan sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi.
Lagu ini pun menunjukkan bahwa bertumbuh bukan berarti melupakan masa kecil atau menghapus semua kenangan indah. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman itulah yang menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan berikutnya.
Mungkin, itulah yang membuat Farewell, Neverland terasa begitu dekat dengan banyak pendengar. Lagu ini tidak menawarkan jawaban atas semua kegelisahan tentang masa depan, juga tidak mengatakan bahwa menjadi dewasa akan selalu mudah. Sebaliknya, ia mengakui bahwa meninggalkan sesuatu yang selama ini terasa akrab memang bukan proses yang sederhana.
Namun, seperti yang digambarkan melalui perjalanan meninggalkan Neverland, menjadi dewasa bukan berarti menunggu hingga rasa takut menghilang.
Menjadi dewasa adalah keberanian untuk tetap melangkah, mengambil pilihan, dan menerima ketidakpastian sebagai bagian dari kehidupan. Pada akhirnya, Neverland bukanlah tempat untuk ditinggali selamanya, melainkan ruang yang mempersiapkan kita sebelum berani menghadapi dunia yang sesungguhnya.
Referensi:
Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.5.469
Barrie, J. M. (1911). Peter Pan and Wendy. Hodder & Stoughton.
Crowell, S. (2020). Jean-Paul Sartre. In E. N. Zalta (Ed.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Summer 2020 ed.). Stanford University. https://plato.stanford.edu/entries/sartre/
Genius English Translations. (n.d.). TOMORROW X TOGETHER – Farewell, Neverland (English translation). Genius. https://genius.com/Genius-english-translations-tomorrow-x-together-farewell-neverland-english-translation-lyrics
Sartre, J.-P. (1946). Existentialism is a humanism (P. Mairet, Trans.). https://www.marxists.org/reference/archive/sartre/works/exist/sartre.htm
Weverse Magazine. (2023, February 6). YEONJUN: “I never want to forget that I can’t take anything for granted”. https://magazine.weverse.io/article/view/643?lang=en
Penulis: Izzatya qudsy Maulida, mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.