Sat, 01 Aug 2026
Esai / Rilo Ramadhanu Purnomo / Aug 01, 2026

Mengapa Nostalgia Menyakitkan?

Seringkali terdengar ungkapan bahwa 2019 merupakan tahun terbaik. Masa ketika hidup masih normal, masa ketika semua yang terjadi itu spesial. Masa yang tidak hanya sekadar berlalu. Begitupun dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni 2018, 2017, dan seterusnya.

Terkadang nostalgia dapat membuat kita teringat akan masa-masa indah yang pernah kita alami. Lebih sering daripada tidak, ingatan mengenai masa lalu cenderung terasa lebih baik dan nyaman daripada yang sebenarnya.

Nostalgia juga bisa menjadi pengingat bahwa kita pernah menjalani hidup dengan sepenuh hati dan membuktikan bahwa kita pernah mengalami sesuatu yang memiliki arti yang dalam bagi kita meskipun saat ini hanya tinggal cerita. 

Saya termasuk orang yang suka bernostalgia, pernah suatu ketika saya mengingat kembali sekaligus merindukan masa saat saya masih seorang siswa sekolah dasar. Rasanya masa itu sungguh menyenangkan, masa ketika tidak ada beban dan yang diketahui hanya main dan makan.

Teringat pula ketika hari Minggu pagi menonton acara televisi yang disiarkan. Doraemon, Keluarga Somat, Upin dan Ipin, Pada Zaman Dahulu, dan berbagai acara televisi lainnya menjadi tontonan wajib di hari Minggu pagi. Duduk anteng sembari makan dan minum.

Selesai menonton televisi dilanjutkan dengan bermain bersama teman-teman. Entah bermain sepakbola, petak umpet, gobak sodor, atau berbagai permainan seru lainnya. Sungguh kenangan yang manis. Namun, seketika saya menyadari bahwa hal itu sudah lama berlalu, tidak dapat saya ulang kembali, dan hanya tinggal cerita.

Ketika memikirkan ini, saya merasa sedikit perasaan perih timbul dalam dada, menggantikan perasaan yang manis dan hangat. Memang benar bahwa itu menyakitkan karena saya tidak akan pernah bisa mengulanginya lagi, tetapi itu manis karena membuktikan bahwa saya pernah menjalani kehidupan yang menyenangkan dan membahagiakan. Lalu, timbul pertanyaan mengapa nostalgia yang manis dan hangat itu bisa menyakitkan?

Sebuah Perasaan Manis, tetapi Juga Perih

Nostalgia berasal dari kata notos yang berarti kembali ke rumah dan algos yang berarti kerinduan yang apabila diartikan secara utuh akan berarti kerinduan untuk kembali ke rumah. Sebuah pengertian yang indah apabila dipahami dengan lebih mendalam.

Setiap orang tentu pernah merasakan nostalgia. Dalam nostalgia, perasaan pada setiap orang terjadi melalui fantasi alami dalam kepala mengenai ingatan masa lalu yang terasa begitu indah yang membuat kita selalu tersenyum.

Salinas & Love (2025) melalui artikelnya yang berjudul “Revisiting the Feels: Why Nostalgia Is Good for the Soul” menjelaskan bahwa nostalgia merupakan emosi yang tercipta dari pertemuan antara pengalaman dan memori.

Bagi masyarakat umum, perasaan nostalgia muncul sebagai sebuah perasaan yang pahit manis (bittersweet) atau yang memantik mereka untuk mengingat sesuatu yang kini telah hilang. Nostalgia merupakan rasa kegembiraan yang berkaitan dengan kesedihan, tetapi secara umum hadir sebagai emosi positif dalam kehidupan manusia. 

Dalam diri seseorang yang melihat nostalgia sebagai refleksi, ia tidak menempatkan dirinya di masa lalu. FioRito & Routledge (2020: 3) menjelaskan bahwa nostalgia dalam bentuk ini memungkinkan manusia untuk mengakses kembali berbagai memori berkesan di masa lalunya dan digunakan untuk membantu dirinya melangkah maju menuju masa depan.

Mereka yang melakukan refleksi melalui memori-memori nostalgia disebutkan mempunyai optimisme yang lebih tinggi, kesinambungan diri yang lebih kuat, dan rasa memiliki yang lebih membumi. Penjelasan FioRito & Routledge seirama dengan yang dijelaskan oleh Ramayda Akmal dalam esainya yang berjudul “Politik Nostalgia”.

Dalam esainya dijelaskan bahwa nostalgia merupakan gejala kolektif yang tampaknya melulu mengenai masa lalu, tetapi sebenarnya lebih terikat erat dengan masa kini dan bahkan masa depan.

Apa yang saya rasakan tidak demikian. Alih-alih menggunakan nostalgia untuk melihat kondisi saat ini dan masa depan sekaligus sebagai media refleksi, saya berakhir terjebak dalam masa lalu. Ini membuat saya melihat kehidupan masa lalu sebagai serba-manis, serba-positif, dan jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan kehidupan saat ini.

Artinya, saya hanya mempertimbangkan memori-memori baik untuk tetap bertahan di dalam kehidupan nostalgia yang semu, tetapi mengesampingkan memori-memori yang buruk sebagai refleksi untuk kehidupan saat ini dan masa depan. Selain itu, nostalgia seringkali dijadikan pelampiasan ketika kehidupan masa kini sedang terasa tidak baik-baik saja.

Nostalgia menjadi obat untuk mengobati luka yang dimiliki, tetapi justru luka itu semakin besar karena perasaan akan kerinduan untuk kembali ke masa-masa tertentu tidak terwujud karena waktu sudah berlalu dan yang sudah berlalu itu kini hanya tinggal cerita. Hingga pada akhirnya, saya terjebak dalam perangkap yang bernama nostalgia. 

Rasa perih yang disebabkan nostalgia muncul dari rasa kehilangan akan waktu yang dirasa lebih baik dibandingkan dengan saat ini dan kita tidak menyadarinya. Misalnya, saya merasa kehilangan ketika melihat kembali buku anak-anak dan mainan ketika sedang membersihkan kamar.

Saya merasa sedih mengingat bahwa bocah yang lugu dan pemalu itu kini sudah tumbuh dewasa. Melalui contoh yang saya berikan kita dapat membayangkan bahwa ketika kita menjalani hidup dari tahun ke tahun, kita tidak menyadari bahwa betapa cepatnya waktu berlalu selama ini ketika kita terus tumbuh, dari anak-anak menjadi dewasa hingga nanti akan menjadi lansia. Perasaan rindu untuk kembali menjadi anak-anak itulah yang menyebabkan nostalgia terasa menyakitkan.

Saya atau mungkin para kaum nostalgia cenderung ingin hidup kembali ke masa-masa terindah yang pernah dialami. Perasaan enggan untuk menyadari bahwa masa-masa itu sudah berlalu muncul.

Seperti saya, saya enggan rasanya untuk menyadari bahwa masa anak-anak saya sudah lama dan jauh berlalu, justru keinginan untuk kembali itulah yang semakin kuat, kembali menjadi seorang anak siswa sekolah dasar yang hanya tahu bermain, makan, dan tidur saja.

Sebuah masa yang tidak ada beban dan tanggung jawab yang besar, sungguh berbeda apabila dibandingkan dengan kehidupan masa sekarang yang penuh dengan tanggungan tugas kuliah atau pekerjaan, atau bisa disebabkan oleh rumitnya hubungan pertemanan dan percintaan, ingin kembali ke masa lalu mungkin adalah solusinya.

Ketika berkumpul dan bertukar cerita dengan teman-teman yang lain, menyadarkan saya betapa singkatnya masa-masa itu berlalu. Kisah yang penuh akan canda dan tawa itu kini hanya tinggal cerita saja.

Melalui cerita-cerita itu juga keinginan untuk kembali ke masa-masa tertentu yang dirasa bahagia juga muncul dengan semakin menggebu-gebu. Akan tetapi, untuk kembali lagi ke masa itu adalah sesuatu yang mustahil dan hanya akan selalu menjadi angan-angan.

Artinya, yang menyebabkan mengapa nostalgia itu menyakitkan adalah kita merasa kehilangan waktu yang dirasa lebih baik dan perasaan bahwa keadaan masa lalu dirasa lebih baik dibandingkan dengan keadaan masa kini.

Padahal, nostalgia hanya menampilkan yang serba-manis dan yang mungkin kita tidak sadari, jika menengok ke diri sendiri, kita mungkin pernah, atau saat ini masih melihat masa lalu dalam ruang nostalgia yang serba-manis.

Perlu diingat bahwa orang yang bernostalgia cenderung mengingat masa lalunya yang manis saja tanpa menyadari bahwa terdapat kisah getir dan pahit, yang karena pengaruh romantis, membuatnya sirna. Nostalgia adalah sesuatu yang kuat hingga orang-orang kehilangan kemampuannya untuk hidup di masa kini karena mereka lupa bahwa masa itu sudah berlalu dan tidak bisa dikembalikan lagi.

Kita terjebak di masa lalu dan mengidealkan masa lalu seakan-akan itu adalah masa yang sempurna dan tidak tahu bagaimana caranya untuk menikmati atau membangun masa depan. 

Waktu Terus Berlalu 

Pada akhirnya, nostalgia hanyalah sekelebat ingatan atas sebuah masa yang sudah berlalu. Ingatan yang membawa perasaan manis dan hangat, tetapi juga membawa sesuatu yang perih.

Perasaan manis dan hangat yang penuh kenangan bahagia juga berkaitan erat dengan kesedihan, sesuatu yang perih. Nostalgia bisa menyakitkan karena kita merasa telah kehilangan waktu yang menurut kita lebih baik dan kita merasa masa lalu yang telah terjadi dan hanya tinggal cerita itu adalah masa yang lebih baik dibandingkan masa kini.

Di sisi yang lain, nostalgia juga bisa dijadikan sebagai momen untuk lebih mengapresiasi diri. Misal, untuk mengingat sudah seberapa jauh kita telah melangkah, berapa banyak pilihan yang telah kita ambil, dan berapa kali kita berhasil dan gagal. Dapat dikatakan bahwa itu adalah cara untuk mengatasi nostalgia yang menyakitkan.

Hal menarik mengenai nostalgia adalah ia serupa pedang bermata dua. Meskipun ingatan yang muncul di dalam kepala kita sebagian besar adalah ingatan yang positif, tetapi lama-kelamaan ingatan negatif juga akan ikut muncul.

Memang seperti itulah nostalgia, ingatan yang serba-manis, serba-membahagiakan, dan serba-menyenangkan yang dimunculkan dapat membuat seseorang yang bernostalgia terlena hingga rela membuang waktunya hanya untuk merenung—mengingat sesuatu yang telah lama berlalu, sedangkan untuk ingatan yang negatif, meskipun jarang dimunculkan, tetapi sekecil apapun itu dapat langsung mengaburkan lamunan nostalgia seseorang.

Ingatlah bahwa kehidupan tidaklah berhenti hanya karena sesuatunya telah berubah. Hidup bukan hanya mengenai masa lalu, tetapi mengenai perjalanan menuju ke masa depan. Dunia terus menerus berubah dan akan selalu berubah.

Namun, tak dipungkiri nostalgia memanglah sesuatu yang indah dan bukanlah sesuatu yang buruk. Akan tetapi, kenyataan adalah kenyataan, kita tidak bisa hidup selamanya di dalam masa lalu karena masa depan selalu menunggu dan yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah menghargai masa lalu sembari tetap maju ke depan.

Waktu terus berlalu dan kita pun juga begitu. Orang-orang yang suka bernostalgia bukanlah orang gagal. Anggapan ini muncul karena melihat bahwa orang-orang yang suka bernostalgia tidak bisa lepas dari masa lalu dan tidak mampu untuk berpandangan maju menuju ke depan.

Padahal, seiring dengan waktu yang terus berlalu, nostalgia dapat dijadikan sebagai sebuah refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan membuat diri menjadi lebih kuat. Gunakan nostalgia untuk menambah sikap optimisme dalam hidup dan gunakan untuk terus melangkah menuju ke masa depan.

Mari bernostalgia bukan untuk hidup kembali ke masanya, tetapi sebagai pengingat apa hal sederhana yang dapat membuat kita menjalani hidup dengan bahagia.


Penulis: Rilo Ramadhanu Purnomo, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada yang sekarang sedang berdomisili di DIY sembari menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.