Algoritma Tidak Pernah Mengajar Kesabaran
Beberapa waktu lalu saya meminta mahasiswa membaca satu
artikel ilmiah sebelum perkuliahan dimulai. Artikel itu tidak terlalu panjang,
hanya sekitar dua puluh halaman. Ketika diskusi berlangsung, sebagian mahasiswa
mengaku belum selesai membacanya. Alasannya beragam, seperti terlalu panjang,
sulit dipahami, dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Menariknya, pada hari yang sama mereka dapat menceritakan
berbagai video yang sedang ramai di media sosial. Mereka hafal isi video
berdurasi kurang dari satu menit, mengenali kreatornya, bahkan mengetahui
percakapan yang sedang menjadi tren. Saya tidak sedang menyalahkan mereka. Saya
justru bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya sedang berubah?”
Pertanyaan itu membawa saya pada satu kesadaran sederhana.
Barangkali yang sedang mengalami perubahan bukan kemampuan membaca, melainkan
kemampuan menunggu. Kita hidup di tengah teknologi yang dirancang untuk
mempercepat hampir segala sesuatu. Informasi datang tanpa diminta, jawaban
muncul hanya dalam hitungan detik, dan hiburan tersedia tanpa jeda. Dalam
situasi seperti itu, kesabaran perlahan berubah menjadi sesuatu yang terasa
asing. Padahal, hampir semua proses belajar selalu dimulai dari kesediaan untuk
menunggu.
Ekonom sekaligus peraih Nobel, Herbert A. Simon, telah
mengingatkan sejak 1971 bahwa kelimpahan informasi justru melahirkan kelangkaan
perhatian. Ketika informasi tersedia tanpa batas, perhatian manusia menjadi
sumber daya yang paling langka. Apa yang diperebutkan oleh berbagai platform
digital bukan lagi sekadar pengguna, melainkan waktu dan fokus mereka. Hari ini
gagasan Simon terasa semakin relevan. Kita tidak hanya hidup di tengah banjir
informasi, tetapi juga dalam ekonomi perhatian (attention economy),
ketika setiap aplikasi berlomba mempertahankan mata kita tetap menatap layar
selama mungkin.
Di sinilah algoritma bekerja. Ia mempelajari apa yang kita
sukai, menyajikan apa yang kemungkinan besar akan kita klik, lalu terus
mengulang pola itu. Semakin lama kita bertahan, semakin berhasil sistem
tersebut menjalankan fungsinya. Algoritma memang sangat cerdas menemukan apa
yang menarik perhatian kita. Namun, ada satu hal yang tidak pernah
diajarkannya, yakni kesabaran.
Kesabaran justru lahir dari proses yang sering kali tidak
menarik. Membaca satu bab buku, memahami teori yang rumit, menulis satu halaman
demi satu halaman, mengulang eksperimen yang gagal, atau merevisi naskah
berkali-kali adalah pekerjaan yang jarang memperoleh tepuk tangan. Tidak ada
notifikasi yang muncul setiap kali seseorang berhasil menyelesaikan satu bab
buku. Tidak ada jumlah tayangan yang meningkat ketika seorang mahasiswa
menghabiskan sore hari membaca referensi di perpustakaan. Akan tetapi, justru
di ruang-ruang sunyi seperti itulah pengetahuan bertumbuh.
Filsuf Byung-Chul Han menyebut masyarakat hari ini sebagai
masyarakat yang kehilangan perhatian mendalam (deep attention). Arus
informasi yang datang bertubi-tubi membuat manusia semakin sulit bertahan pada
satu objek dalam waktu yang lama. Kita berpindah dari satu video ke video
berikutnya, dari satu berita ke berita lain, dari satu percakapan ke percakapan
berikutnya, tanpa sempat memberi kesempatan kepada pikiran untuk mencerna apa
yang sebenarnya sedang terjadi.
Fenomena tersebut tidak hanya memengaruhi cara kita
menggunakan media sosial, tetapi juga cara kita belajar. Laporan OECD
(Organization for Economic Co-operation and Development dalam bahasa Indonesia
dikenal sebagai Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) tentang
pembelajaran di era digital menunjukkan bahwa teknologi membuka akses yang luar
biasa terhadap informasi, tetapi pada saat yang sama meningkatkan risiko
distraksi. Dengan kata lain, kita memiliki lebih banyak bahan untuk dipelajari,
tetapi belum tentu memiliki perhatian yang cukup untuk memahaminya.
Sebagai dosen, saya merasakan perubahan itu secara perlahan.
Mahasiswa hari ini memiliki akses terhadap ribuan artikel ilmiah, buku digital,
video kuliah, hingga perangkat kecerdasan artifisial yang mampu membantu
menjelaskan berbagai konsep. Namun, kelimpahan sumber belajar tidak selalu
berbanding lurus dengan kedalaman belajar. Pengetahuan tetap memerlukan sesuatu
yang tidak bisa digantikan oleh mesin, yakni ketekunan.
Barangkali sebab itu saya selalu merasa sastra masih
memiliki tempat yang penting di tengah zaman digital. Sastra mengajarkan ritme
yang berbeda. Sebuah puisi tidak dapat dipahami hanya dengan sekali membaca.
Novel yang baik tidak dapat diringkas menjadi beberapa kalimat tanpa kehilangan
ruhnya. Cerita pendek yang kuat seringkali justru bekerja setelah halaman
terakhir selesai dibaca. Sastra mengajarkan bahwa makna tidak lahir dari
kecepatan, melainkan dari kesediaan tinggal lebih lama bersama kata-kata.
Pengalaman serupa sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi
pendidikan kita. Di pesantren, seorang santri belajar melalui sorogan dan
bandongan. Prosesnya mungkin tampak lambat dibandingkan berbagai model
pembelajaran modern. Namun, dibalik kelambatan itu terdapat latihan
mendengarkan, mengulang, menghafal, mengoreksi, dan menghormati proses.
Pendidikan tidak hanya memindahkan pengetahuan, tetapi juga membentuk watak.
Salah satu watak yang dibangun adalah kesabaran.
Hari ini, kita sering berbicara tentang pentingnya inovasi
pendidikan. Kita berdiskusi mengenai kecerdasan artifisial, pembelajaran
adaptif, kelas digital, dan berbagai teknologi baru. Semua itu penting. Namun,
ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan, “Apakah teknologi yang kita
gunakan juga mendidik karakter belajar?”
Teknologi mampu mempercepat pencarian informasi. Algoritma
mampu menebak minat kita dengan tingkat akurasi yang mengagumkan. Kecerdasan
artifisial mampu membantu menyusun ringkasan dalam hitungan detik. Akan tetapi,
tidak satu pun di antaranya dapat menggantikan latihan membaca dengan tekun,
berpikir dengan saksama, atau bersabar menghadapi persoalan yang rumit.
Pada akhirnya, pendidikan selalu berbicara tentang manusia.
Dan manusia tidak dibentuk oleh apa yang serba cepat, melainkan oleh apa yang
dikerjakan berulang-ulang dengan kesungguhan. Kita belajar berjalan sebelum
berlari. Kita belajar mengeja sebelum menulis. Kita belajar memahami sebelum
mengajarkan. Semua proses itu memerlukan waktu.
Sebab itu, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukanlah
kekurangan informasi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengembalikan
kemampuan memberi perhatian. Sebab, perhatian yang dipelihara akan melahirkan
ketekunan. Ketekunan akan melahirkan pemahaman. Dan pemahaman yang mendalam
pada akhirnya akan melahirkan kebijaksanaan.
Algoritma mungkin mampu menunjukkan apa yang ingin kita
lihat. Namun, ia tidak pernah mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia yang
sabar. Tugas itulah yang tetap harus dijalankan oleh keluarga, sekolah, kampus,
buku, dan guru. Sebab, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kesabaran
bukan lagi sekadar sikap. Ia telah menjadi bentuk perlawanan yang paling sunyi
sekaligus paling mendasar.
Penulis: Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota
Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang
mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya
telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri
merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.