Yang Menengah Tak Sempurna
Yang Menengah Tak Sempurna
Di antara beku dan mendidih,
air memilih menjadi hangat
tak cukup dingin untuk diam,
tak cukup panas untuk berubah.
Barangkali aku pun demikian:
hidup pada suhu yang canggung,
menaruh banyak kemungkinan,
namun tak pernah nyata adanya.
Dan jika kelak ada yang mengingatku,
entah sebagai kehilangan
atau sekadar jeda yang terlewati,
aku harap yang tersisa bukan namaku
melainkan sesuatu
yang diam-diam berubah
setelah kehadiranku.
Sumatra Barat, 2026
*
Termodinamika, "Terima Kasih"
Hawa kehadiranmu membiru muda,
sediakala aku membiru tua yang tak usai
menyimpan titik beku
di balik wajah yang sederhana.
Dunia tak mengubah kau.
Hanya mengirimkan titik cair
yang melebur ke ceruk
yang lama terbengkalai.
Lalu pergi melahap kau.
Sampai jam berseru,
aku masih menemukanmu
pada suhu tertentu dalam entropi ingatan
dan entah yang belum usai itu
adalah hangatmu,
atau aku.
Sumatra Barat, 2026
*
Mekanika Kuantum, "Sulit Jatuh Hati"
Lama terlampau aku,
menjadi amplitudo
Mengembara
di belantara kemungkinan.
Tiap tumbukan
hanyalah fluktuasi;
berkilau sesaat
lalu tercerai dari sinkronisme
oleh jarak dan waktu.
Sementara itu,
hatiku tetap superposisi:
tak sepenuhnya singgah,
tak pula beranjak.
Maka mencintaimu
adalah eksperimen paling ganjil
sebab dari sekian
semesta yang berpendar,
aku masih gagal
meruntuhkan diriku
menjadi "kita".
Sumatra Barat, 2026
*
Listrik Statis, "Aku Rindu"
Namamu kugesekkan
pada kalender yang rapuh;
sejak itu,
muatan menjadi aku
yang berdialek statis.
Jarak menjelma dielektrik
tak membiarkan apa pun bermutasi,
kecuali ruang hampa
yang terus terisolasi.
Malam termakan malam,
petir tumbang menjadi aku;
hanya listrik statis
yang berulang kali bertutur:
"Aku rindu."
Sumatra Barat, 2026
Penulis: Anik Hailaqhari merupakan penyair asal Jambi yang lahir pada tahun 2007. Saat ini, saya berusia 18 tahun dan menyukai sains. Saya menjalani hari dengan menulis dan mempelajari sains.