Reorientasi Pembelajaran Seni di Kelas
Jika sebuah kelas
mengajarkan cara menggambar, melukis, bermusik, atau membuat karya seni, maka
guru mengajarkan siswa untuk mengikuti cara-cara tersebut. Keterampilan teknis
ini sering ditemukan di sanggar atau studio seni, dan cara-cara ini merupakan
bagian dari kurikulum pendidikan seni. S
ebagian besar pendidikan seni memang
berfokus pada pengajaran keterampilan teknis dengan pendekatan logis.
Kelas-kelas ini sering menawarkan metode pembelajaran langsung, langkah demi
langkah, dan berbasis ceramah, yang mengajarkan hal-hal seperti perspektif,
bayangan, anatomi, pencahayaan, serta unsur dan prinsip rupa.
Pola pembelajaran
ini lebih menekankan pada sisi intelektual dan logis manusia, yaitu sisi yang
menyukai kategori, aturan, dan proses linear yang telah terbukti efektif.
Mengajar atau mengikuti
kelas yang berfokus pada keterampilan teknis memang lebih mudah, dan kelas
seperti itu sering diminati karena memberikan solusi cepat dan sederhana.
Banyak orang hanya ingin diberi tahu dengan jelas bagaimana melakukan sesuatu
tanpa harus melalui proses panjang atau rumit.
Namun, belajar untuk membentuk
diri, apalagi menciptakan karya seni yang asli dan orisinil, tidaklah
sesederhana itu. Metode pengajaran yang hanya berfokus pada peningkatan
keterampilan teknis tidak akan cukup untuk membantu siswa berkembang menjadi
seorang seniman sejati.
Gaya mengajar ini juga tidak akan mendukung perjalanan
mereka dalam mengenal diri mereka sebagai seorang seniman, yang melibatkan
eksplorasi, eksperimen, dan pengembangan kreativitas.
Memahami Perjalanan
Kreatif Siswa menjadi seniman
Pendidikan seni rupa
bukan hanya tentang mempelajari teknik menggambar atau melukis. Lebih dari itu,
seni adalah perjalanan panjang yang melibatkan penemuan diri, keberanian untuk
bereksperimen, dan kemampuan untuk menerima ketidaksempurnaan.
Setiap pelajaran
seni lebih dari sekadar mengajarkan cara membuat karya seni; ada proses yang
lebih mendalam yang mengarah pada bagaimana seseorang bisa menjadi seniman
sejati.
Namun, bagian ini
tidaklah mudah. Pembelajaran yang terlalu fokus pada keterampilan teknis dan
logika, sementara siswa belum menemukan cara untuk menciptakan seni yang
orisinal dan murni dari dalam diri mereka, justru dapat menghambat perkembangan
dan kemajuan mereka sebagai seniman. Mengandalkan aturan dan teknik tanpa
menyentuh sisi kreatif mereka hanya akan membatasi potensi seni yang bisa
mereka hasilkan.
Dalam konteks ini, siswa
sering kali diajarkan untuk mengikuti aturan dan menyalin hal-hal berdasarkan
logika otak, bukannya menggali sisi kreatif mereka. Kita cenderung mengikuti
aturan dan meniru apa yang sudah ada berdasarkan pemikiran logis.
Namun, seni
yang benar-benar baru dan asli tidak dapat tercipta hanya dengan menggunakan
logika. Untuk itu, kita perlu mengakses sisi lain dari diri kita, yaitu sisi
kreatif dan imajinatif.
Seperti yang diungkapkan oleh Albert Einstein dalam
wawancaranya dengan The Saturday Evening Post pada tahun 1929,
"imajinasi lebih penting daripada pengetahuan, karena pengetahuan
terbatas, sedangkan imajinasi mencakup seluruh dunia, merangsang kemajuan, dan
melahirkan evolusi." Imajinasi memberi kita kemampuan untuk membayangkan
kemungkinan-kemungkinan baru, menginspirasi ide-ide segar yang melampaui
pemahaman kita saat ini, dan membuka jalan bagi kreativitas yang belum
terungkap.
Pembelajaran untuk
menjadi seorang seniman seharusnya tidak hanya fokus pada keterampilan teknis
dan aturan yang logis. Sebaliknya, perhatian perlu beralih ke sisi kreatif
otak, yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menghubungkan hal-hal yang
sebelumnya tampak tidak terkait.
Sisi kreatif ini memungkinkan pola-pola baru
muncul, berimajinasi, bermain dengan ide, dan bereksperimen. Ia juga
mengajarkan untuk menerima ketidakpastian dan tidak terhalang oleh kritik batin
atau ketakutan akan kegagalan.
Melalui kesalahan dan proses yang dijalani,
setiap langkah dalam perjalanan kreatif menjadi lebih bermakna. Sisi kreatif
ini mendorong seseorang untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru,
yang akhirnya menghasilkan karya seni yang benar-benar asli dan unik.
Dengan demikian, tentu
saja, setiap siswa memiliki preferensi dalam cara mereka menggambar. Jika
mereka merasa nyaman dengan cara tersebut, tentu mereka akan melakukannya
dengan cara yang sama. Namun, hal ini tidak berarti cara mereka adalah yang
terbaik untuk orang lain.
Setiap individu itu unik, dan setiap siswa berhak
untuk menciptakan seni dengan cara yang sesuai dengan diri mereka sendiri, yang
mencerminkan keunikan dan ekspresi pribadi mereka.
Siswa berhak mendapatkan
kesempatan untuk menciptakan karya seni mereka sendiri, dan inilah esensi dari
pendidikan yang membebaskan. Guru tidak dapat langsung mengajarkan siswa
bagaimana membuat karya seni, karena setiap individu hanya tahu cara terbaik untuk
mengungkapkan seni mereka sendiri.
Paulo Freire, dalam bukunya Pedagogy of
the Oppressed (1970), mengajarkan bahwa pendidikan yang membebaskan
bukanlah pendidikan yang mengandalkan pengajaran top-down, melainkan lebih pada
memfasilitasi siswa untuk menemukan potensi mereka sendiri. Dalam hal ini,
peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan gaya seni
mereka sendiri, bukan hanya mengajarkan teknik yang harus diikuti.
Dalam konteks pendidikan
seni, ini berarti guru tidak mengajarkan siswa untuk menggambar dengan cara
yang sama seperti dirinya, tetapi mengajarkan siswa untuk menemukan cara mereka
sendiri dalam berkarya. Konsep ini sejalan dengan pemikiran Carl Jung tentang Individuation
(1935), yaitu proses individu untuk mencapai keutuhan diri yang sejati, sebuah
perjalanan untuk menjadi diri sendiri yang unik dan otentik.
Dalam seni, ini
berarti membebaskan diri dari pengaruh eksternal dan menemukan suara kreatif
yang sejati. Proses ini mengharuskan kita untuk berani mengeksplorasi dan
melampaui batasan, yang merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang
seniman. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar teknik, tetapi juga belajar
untuk memahami dan menghargai proses kreatif, yang jauh lebih mendalam dan
berharga daripada hasil akhir.
Saat kita mengikuti pembelajaran
seni, sering kali kita hanya diajarkan teknik-teknik dasar seperti cara
menggambar dengan perspektif yang tepat, cara memadukan warna, atau cara
membuat bayangan yang realistis. Semua ini adalah aspek teknis yang penting
dalam menciptakan karya seni.
Namun, pendidikan seni yang sesungguhnya jauh
lebih dalam daripada sekedar langkah demi langkah yang bisa diajarkan. Menurut Teori
Flow dari Mihaly Csikszentmihalyi (1975), flow adalah keadaan mental
optimal yang dicapai ketika ada keseimbangan antara tantangan dan keterampilan
individu, yang mengarah pada fokus, keterlibatan penuh, dan kenikmatan dalam
melakukan suatu aktivitas.
Dalam kesenian, Pencapaian tertinggi dalam seni
dicapai ketika individu berada dalam kondisi flow, yaitu kondisi mental dimana
seseorang sepenuhnya tenggelam dalam aktivitas kreatif. Flow hanya dapat
dicapai jika individu tidak hanya terfokus pada teknik, tetapi juga sepenuhnya
menikmati proses penciptaan.
Pendidikan seni yang hanya mengajarkan teknik
tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk merasakan pengalaman flow ini,
yang pada gilirannya membatasi potensi kreatif mereka.
Menjadi seorang seniman,
tidak hanya mempelajari teknik untuk meniru karya orang lain, tetapi yang lebih
penting adalah menemukan cara unik untuk berkreasi. Setiap orang memiliki gaya
dan style seni yang berbeda, dan perjalanan untuk menemukannya adalah hal yang
harus dihargai dalam pendidikan seni.
Perjalanan setiap individu untuk menjadi
seorang seniman itu unik dan berbeda. Jika mencoba mengikuti langkah-langkah
seniman persis, gaya yang ditemukan tidak akan autentik atau sesuai dengan diri
sendiri, melainkan akan mengadopsi gaya seniman tersebut.
Namun, dalam prosesnya,
terdapat faktor-faktor umum seperti potensi, kualitas, dan hambatan universal
yang muncul dalam perjalanan seni setiap individu. Meskipun tidak ada jalan
pintas, pil ajaib, atau sistem tiga langkah rahasia, proses penemuan seni dapat
diajarkan dengan fokus pada faktor-faktor umum tersebut.
Benih-benih kualitas
ini sebenarnya sudah ada dalam diri setiap orang, namun sering kali terlupakan,
hilang, atau terabaikan seiring berjalannya waktu. Hal ini sering terjadi
karena banyak dari kita yang kesulitan mengatasi hambatan-hambatan umum seperti
rasa takut gagal, keraguan diri, atau ketidakmampuan untuk menerima kritik.
Hambatan lainnya termasuk kecenderungan untuk menilai karya seni terlalu cepat,
kesulitan dalam menemukan suara kreatif yang autentik, atau ketergantungan pada
teknik-teknik yang sudah dikenal tanpa berani bereksperimen. Hambatan-hambatan
ini, meskipun wajar, sering kali menghalangi perkembangan kreatif.
Keberanian Dalam
Berkarya
Kebanyakan siswa mulai menilai
karya mereka terlalu cepat dalam perjalanan kreatifnya. Mereka berharap bisa
langsung menghasilkan karya yang brilian dan sempurna. Ketika melihat karya
awal, sering kali mereka membandingkannya dengan karya seniman berpengalaman
yang sudah bertahun-tahun berkarya.
Padahal, perjalanan seorang seniman
membutuhkan waktu, eksperimen, dan kegagalan berkali-kali. Karya-karya tersebut
pun sering diperlihatkan kepada guru, orang tua, atau teman-teman yang kritis,
dan menerima kritik yang keras, samar, atau merusak. Hal ini membuat mereka
khawatir bahwa ide yang dihasilkan tidak cukup bagus dan mereka tidak akan
pernah menjadi seniman.
Karya awal mungkin
terasa canggung dan tidak sempurna, tetapi itu adalah bagian dari proses.
Kesalahan dan kegagalan adalah hal yang tak terhindarkan dalam perjalanan ini.
Perlu dipahami bahwa karya yang buruk dan kesalahan adalah bagian penting dari
proses kreatif.
Kesempurnaan bukanlah tujuan utama, melainkan fokus utama
adalah pada pertumbuhan. Kita harus menerima kenyataan bahwa karya akan terasa
canggung dan mungkin memalukan untuk sementara waktu. Penting untuk siap
membuat kesalahan, memberi kesempatan untuk berkembang, dan yang terpenting,
bersabar dalam setiap langkahnya.
Memang Perjalanan untuk
menjadi seorang seniman tidaklah mulus. Banyak yang mengharapkan untuk langsung
membuat karya yang sempurna sejak awal, namun kenyataannya, karya pertama
sering kali terasa canggung atau bahkan buruk.
Itu adalah bagian dari proses
dan diperlukan pola pikir berkembang seperti diperkenalkan Carol Dweck tentang
The Growth Mindset (2006) berupa keyakinan bahwa kemampuan atau bakat seseorang
dapat terus berkembang melalui usaha, pembelajaran serta ketekunan, dan
individu dengan pola pikir berkembang cenderung melihat tantangan sebagai
peluang, melihat kesalahan dan kegagalan sebagai bagian dari proses
pembelajaran, bukan kegagalan permanen yang kiranya memudahkan seseorang untuk
menerima ketidaksempurnaan dan terus berusaha berkembang. Ini sangat relevan
dalam seni, di mana kesalahan dan kegagalan adalah bagian penting dari
eksperimen dan eksplorasi dalam penciptaan.
Seni adalah tentang
eksperimen dan eksplorasi, kita tidak bisa langsung menjadi ahli tanpa melalui
kesalahan dan kegagalan. Ini adalah bagian dari perjalanan yang harus diterima.
Sebagai seorang pemula perlu belajar untuk merayakan setiap karya, tidak peduli
seberapa tidak sempurna itu. Setiap langkah kecil dalam proses penciptaan seni
adalah bagian dari pembelajaran dan pertumbuhan.
Selain itu, tantangan
terbesar bagi siswa sebagai pemula adalah menghadapi kritik. Ketika menghadapi
kritik, Terutama saat karya pertama kali ditunjukkan kepada orang lain.
Kritik
yang datang, meskipun dimaksudkan untuk membantu, sering kali bisa menjadi
beban yang berat jika tidak diberikan dengan cara yang mendukung. Banyak siswa
yang merasa tertekan dan meragukan kemampuan mereka setelah menerima kritik.
Namun,
perjalanan seorang seniman bukan tentang mencapai kesempurnaan dalam setiap
karya. Sebaliknya, tentang keberanian untuk terus mencoba, bereksperimen, dan
tidak takut untuk gagal. Setiap kesalahan adalah pelajaran, dan setiap
kegagalan adalah langkah menuju penemuan gaya seni yang unik. Demikian
pernyataan Henri Matisse salah satu seniman terkenal, dimana Kreativitas
membutuhkan keberanian.
Dalam buku Rollo May, The
Courage to Create (1975) menekankan bahwa tindakan kreatif memerlukan
keberanian untuk menghadapi ketakutan dan keputusasaan, serta mengubahnya
menjadi energi untuk membentuk hidup yang autentik dan bermakna. Ia berpendapat
bahwa keberanian untuk menghadapi kritik dan kegagalan adalah bagian penting
dari proses kreatif.
Proses penciptaan seni penuh ketidakpastian dan tantangan
emosional, Sebagai seniman harus belajar menerima kritik dengan bijak, menggunakannya
untuk tumbuh, dan tidak membiarkan ketakutan akan kegagalan menghalangi
perjalanannya. Hal ini menekankan pentingnya ketahanan mental dalam menghadapi
tantangan-tantangan dalam berkesenian.
Menggali Potensi Seni
Dalam Diri
Untuk menjadi seorang
seniman, kita harus mengembangkan lebih dari sekadar keterampilan teknis.
Adapun beberapa kualitas penting yang perlu dimiliki yaitu keberanian untuk
bereksperimen dan mencoba hal-hal baru, keterbukaan untuk menerima
ketidaksempurnaan dan belajar dari kesalahan, Kreativitas untuk menemukan ide
dan konsep baru dalam karya seni, ketekunan untuk terus berlatih dan
berkomitmen pada proses kreatif, dan kesabaran dalam menerima bahwa hasil yang
memuaskan membutuhkan waktu. Orang dengan pola pikir demikian tidak takut
gagal, melainkan melihatnya sebagai proses penting dan bagian dari perjalanan
kreatif yang harus diterima.
Seniman yang sukses
adalah mereka yang tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga memiliki kemampuan
untuk terus berkembang dan mengekspresikan diri mereka melalui karya seni.
Dengan memiliki kualitas-kualitas tersebut, setiap seniman dapat melewati
rintangan dalam perjalanan mereka dan terus mengeksplorasi potensi kreatif
mereka.
Salah satu faktor kunci dalam perjalanan kreatif adalah dukungan.
Seniman pemula membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk berkembang. Itu bisa
datang dari guru, teman, keluarga, atau komunitas seni yang memberikan dorongan
dan motivasi. Sejalan dengan Lev Vygotsky dalam teori sosio-kulturalnya berpendapat
bahwa perkembangan pembelajaran manusia berakar pada interaksi sosial dan
budaya, bukan semata-mata proses internal individu.
Pembelajaran terbaik
terjadi dalam konseks sosial yang mendukung. Dukungan dari lingkungan, seperti
guru, teman, atau komunitas seni, sangat penting dalam perkembangan kreatif individu.
Selain itu, Umpan balik konstruktif dan mendengarkan dorongan positif sangat
penting membantu siswa sebagai pemula dalam mengembangkan keterampilan dan
membangun rasa percaya diri dalam proses berkaryanya.
Dalam hal ini, patut
diperhatikan bahwa dukungan dari lingkungan, Pemula membutuhkan dorongan dan
penghargaan atas usaha mereka, bukan hanya penilaian yang kritis. Mereka perlu
mendengar, "Kenapa tidak?" atau "Coba saja, itu bisa
bekerja!" Alih-alih terjebak dalam kritik yang merusak, mereka harus mendapatkan
dorongan untuk terus berkreasi dan berkembang.
Seniman yang merasa dihargai dan
didorong akan lebih mungkin untuk terus mengeksplorasi dan mengembangkan
kemampuan mereka. Tanpa dukungan ini, banyak yang akan terhenti di tengah jalan
dan merasa mereka tidak cukup baik.
Setiap seniman memiliki
perjalanan unik untuk menemukan gaya mereka sendiri. Tidak ada formula yang
pasti untuk mencapainya. Itu adalah sesuatu yang ditemukan melalui eksplorasi,
eksperimen, dan kesalahan.
Gaya seni yang dikembangkan adalah cerminan dari
siapa seseorang sebagai individu, apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dialami.
Jangan terlalu khawatir untuk meniru seniman lain atau mengikuti tren yang ada.
Apa yang penting adalah menemukan cara unik untuk mengungkapkan ide dan emosi
melalui seni. Ini adalah perjalanan yang memerlukan waktu, namun dengan
komitmen dan dedikasi, gaya seni yang otentik akan terwujud.
Namun, dalam perjalanan
ini, banyak siswa sebagai pemula yang terjebak dalam cara belajar yang lebih
logis dan teknis karena kelas yang mengajarkan bagaimana cara menggambar atau
melukis berdasarkan aturan dan langkah-langkah yang sudah terbukti efektif, tetapi hal tersebut hanya bagian dari perjalanan.
Ketika masih berada di awal
perjalanan dalam berkesenian, mencoba untuk mengikuti aturan tersebut bisa
menjadi hambatan. Apa yang lebih penting adalah belajar untuk mendengarkan
suara kreatif kita sendiri, mengeksplorasi ide-ide baru, dan tidak takut untuk
membuat kesalahan sebab seni bukan hanya tentang mengikuti aturan, tetapi
tentang berani mengambil langkah baru dan menemukan cara baru untuk
mengekspresikan diri.
Hadapi tantangan dan temukan diri
untuk mencapai potensi penuh sebagai seniman dengan keberanian untuk menantang
diri sendiri, mengeksplorasi, mencoba hal baru, dan menerima bahwa kesalahan
adalah bagian dari perjalanan.
Tidak ada cara pasti untuk mencapainya, bagian ini adalah sesuatu yang tidak bisa
diajarkan oleh siapapun. Hanya individu itu sendiri yang bisa menemukan dan
mengembangkan gaya seni mereka. Menggali potensi kreatif membutuhkan waktu,
latihan, dan keberanian untuk terus mencoba. Dengan dukungan yang tepat dan
komitmen untuk terus berkembang, gaya seni unik akan mulai terwujud, yang
mencerminkan siapa diri sebagai seorang seniman.
Demikianlah, menjadi seorang
seniman sejati adalah tentang perjalanan panjang untuk menemukan siapa diri
sebagai kreator, yang melibatkan keberanian untuk mengeksplorasi, kesabaran
untuk belajar dari kegagalan, dan ketekunan untuk terus berkembang.
Dalam pendidikan seni, pembelajaran
seharusnya tidak hanya berfokus pada pengajaran teknikalitas semata. Guru perlu
membantu siswa menemukan kreativitas mereka, mendukung mereka melewati
tantangan, dan merayakan setiap langkah kecil dalam perjalanan mereka. Ketika
seni dipahami sebagai sebuah perjalanan, bukan hanya tujuan akhir, potensi
sejati sebagai seniman akan terbuka.
Penulis: Galang Mario, mahasiswa passarjana Pendidikan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.