Mon, 05 Oct 2026
Puisi / Ahmad Syakur / Oct 05, 2026

Hal-Hal ini Terjadi Sebelum Cahaya

Hal-Hal ini Terjadi Sebelum Cahaya

 

Dengan menyebut nama Gusti,

Yang tak luput memberkati para musafir

dan kafilah Badui;

Pada wayah cita romansa dalam kamus falsafah Jawa;

Pada gamang para pemuda yang didesak 

kalimat tanya;

Di tengah kacaunya tata ta'zim kepada 

kuasa lalim;

 

Kutuliskan sajak ini kepada cahaya;

Di atas lembar naskah cerita yang 

belum sempat terlaksana;

Dengan tinta yang sama pada pustaka di 

tumpukan berkas “Sia-Sia”;

Kepada alamat masa depan yang masih enggan 

diredupkan;

 

Di antara sajak ini, kutitipkan nasihat para Masyayikh;

“Tuntutlah bekal dari guru-guru terbaik.”

Dari mereka yang menghinakan atas nama 

angkuh keindahan;

Dari jiwa yang mengerdilkan upaya bak 

“Jasa Mendoakan” di Alun-alun Selatan;

Dan segenap mimpi indah yang 

ditangguhkan, mengingat bangun yang mesti didahulukan;

 

Tapi sajak ini tak akan berhenti pada 

majas alegori;

Kutitipkan larik harapan teruntuk cahaya 

yang akan datang;

Menjadi pengingat tuk tak gentar pada tiap 

jalan memutar;

Menjelma bara yang menyala bagi hati yang masih percaya;

 

Maka bilamana waktumu tiba, duhai 

cahaya;

Temui hamba di barisan kepala yang 

menengadah;

Terangilah remang jalan pulang pencarian 

jawaban;

Teduhilah riuh resah, hampar tangisan dan 

perayaan;

Tentang hal-hal yang telah, tengah, dan 

bakal merekah;

Dan tak apa, tuk selamanya,

 

(September 2026)


*

 

Rayuan Tirakat & Laku Hasrat

 

Gemuruh angin menghembus tinggi dedaunan bukit cemara

Menembus kulit tipis Sang Pertapa di atas petilasan singgasananya

Yang fikiran dan jiwanya membentang jauh

Di antara tanah perbatasan tiga distrik

Hingga lembah penyantrian ilmu teluh.

 

Di atas bukit itu, Sang Pertapa mengkhidmatkan duduk dan silanya

Waktu demi waktu, membunuh rugi keramaian dan hegemoni sepi

Atas nama penghambaan kesaktian, dan kemasyhuran

atas langit dan bumi.

 

Diresapinya rayuan keindahan dunia, dalam khusyuk semedi itu

Keindahan yang menjelma, gadis manis dari utara

Dengan peluk hangat penuh harap yang melekat

Dan secicip kidung mendayu untuk menggoyang hati yang layu.

 

Dan dalam pusaran waktu nan berkelindan

Tersingkap rupa lain rayuan keindahan

Ialah sang penari priyayi

Yang melenggang leluasa di muka Sang Pertapa

Dengan lirikan agung dan sunggingan bibir merah

Bagai kelopak dahlia yang tak malu untuk merekah.

 

Tapi di antara fana, cerebrum menggertak amigdala

Untuk gadis dari utara, yang peluk kidungnya bak sepah ilusi tak berarti

Tapi di antara fana, cerebrum menggertak pula

Untuk nona penari, dan fiksi pikat tariannya yang bukan untukmu saja

 

Maka dalam keputusasaan yang jeritannya di ujung kerongkongan

Dan dalam jiwa yang letih akan keindahan semu

Sang Pertapa menghardik tak sungkan, atas setiap wujud pengusik

Dan luka mistika yang ditinggalkan

 

Dan bersamaan hardikan Sang Pertapa, terkuaklah rahasia dunia

Yang terkubur dan tersembunyi di atas langit korespondensi

Bahwa cinta adalah senyawa agung dalam ruang-ruang terselubung

Bahwa cinta adalah moralitas tertinggi bagi tiap jiwa-jiwa sufi

Dan kebenaran, bahwa kamus cinta tak ditemukan pada insan-insan

kebendaan; melainkan makrifat bagi sebagian yang tercerahkan.

 

(April 2024)


*


K O N K L U S I

 

Tak lain seorang pujangga,

Yang dihinakan pengejaran validasi,

Maka begitulah peliknya tugas pujangga,

Menulis ratu pada prasasti, tanpa tahu rimbanya pasti.

 

Dituliskan olehnya sajak-sajak hikayat, nyanyian ratu agung,

Tentang kenaifan manusia paleolithik,

Tentang tonggak revolusi orde baru baru,

Tentang keangkuhan insan-insan perundagi.

 

Dan terhampar pelajaran dalam setiap lembaran,

Bahwa dekat adalah makrifat,

Bahwa harap selalu mengalir dalam tatap,

Bahwa kasih begitu tanpa pamrih.

 

Dan terhampar realita dalam setiap aksara,

Bahwa jiwa selalu tunduk pada strata,

Bahwa bumi kausal berkawan dengan sesal,

Bahwa akhir ialah anak buah takdir.

 

Lantas kini, hikayat telah jatuh ke tangan hari depan,

Bermainnya Ia dengan rentetan kemungkinan,

Dapatlah hikayat menjadi legenda urban,

Dapatlah hikayat usang lagi ditinggalkan.

 

Meski sejatinya pujangga tak menaruh peduli,

Dilemparkan penanya itu ke sumur mati,

Dibiarkan tinta hitam menyusuri lautan konklusi,

Dalam kesunyian, lagi.

 

(Juni 2022)


*

 

R A H A S I A

 

Judulnya rahasia,

Bab hikayat yang belum ditamatkan,

Bab yang pada akhirnya,

Adalah permulaan.

 

Rahasia itu,

Seperti kemana arah kayu yang dijadikan abu,

Hening diacuhkan,

Seperti kemana rintik hujan disembunyikan.

 

Tapi katanya rahasia perihal ruang,

Dimana jarak dijarakkan oleh peluang,

Tapi katanya rahasia perihal waktu,

Dimana sewindu dibunuh kata ambigu.

 

Yang pasti, rahasia adalah teka-teki,

Entah paradoks, entah anomali,

Seperti dialog timbal balik,

Akan ada ya, akan ada tertampik.

 

(Januari 2021)



Penulis: Ahmad Syakur, tinggal di Jogja, memuat beberapa tulisan di media massa digital dan terlibat dalam penulisan beberapa proyek bunga rampai.

Pronesiata

Kami percaya jika semua tulisan layak untuk dibagikan. Tak perlu harus sempurna! Media ini ruang bagi semua yang memiliki karya tulisan.

© pronesiata.id. All Rights Reserved.