Ketika Lonceng Tak Lagi Berbunyi
"Tidak ada yang akan menulis nama kita di papan
pelanggaran hari ini! Hari ini, kita urus tempat ini sendiri!"
Gani berseru parau, suaranya cempreng membelah keheningan
lapangan upacara. Dengan kaos kaki warna-warni yang sengaja dipamerkan dan
ujung kemeja dikeluarkan dari celana, ia berdiri tegak di atas podium pembina.
Langkah sepatunya yang kotor meninggalkan jejak tanah basah di atas beton yang
bersih.
Di sekeliling podium, lima ratus anak berseragam
putih-abu-abu berdiri kaku seperti gerombolan domba yang kehilangan gembala.
Gerbang besi SMA Garuda Mulia bergoyang pelan, berderit kaku ditiup angin Senin
pagi yang membawa debu kering dari pekarangan. Tidak ada lonceng yang
berdentang.
Pos satpam kosong, hanya menyisakan sebuah cangkir kopi dingin yang
dikerumuni semut hitam dan selembar koran lama yang robek di lantai semen.
Kabar tentang ruang tata usaha yang digembok akibat aksi mogok massal seluruh
guru terkait sengketa uang tunjangan daerah sudah beredar lewat pesan singkat
sejak subuh.
Bagi orang-orang necis di kantor dinas, lapangan yang penuh
remaja tanpa pengawasan orang dewasa adalah tanda awal dari sebuah tawuran
massal. Namun, bagi Gani dan sekelompok anak baris belakang, hari itu adalah
hari kemerdekaan di mana angka-angka mati di papan tulis tidak lagi memiliki
taring untuk mengecilkan harga diri mereka.
Kekacauan yang ditakuti orang kota tidak pernah datang
melintasi pagar. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat kulit leher,
anak-anak itu bergerak dengan nalar mereka sendiri yang ganjil.
Rombongan anak yang biasanya tidur di kelas bergerak menuju
bengkel mesin yang pengap oleh bau oli dingin. Mereka membedah mesin genset
sekolah yang sudah mangkrak bertahun-tahun hingga tubuh mereka hitam oleh sisa
jelaga karbon.
Menggunakan petunjuk dari gawai retak yang diletakkan di atas
lantai semen, jemari mereka yang penuh noda hitam memilin ulang kabel dan
membersihkan karburator, bertaruh dengan keringat demi menghidupkan kipas angin
di aula yang sumpek.
Di ruang kesenian yang jendelanya pecah sebelah, sekelompok
murid membuat lingkaran di atas lantai berdebu. Mereka merobek novel grafis
asing, menerjemahkan kalimat-kalimatnya secara patungan dengan umpatan-umpatan
lokal yang kasar namun tepat guna, tanpa perlu dipaksa mencatat teori majas
kaku dari buku paket kementerian.
Bahkan di lapangan tengah, bola sepak
ditendang dengan ritme yang berbeda. Mereka membuat bagan turnamen di atas
tanah gembur menggunakan patahan ranting, menghitung probabilitas kemenangan
dan sudut operan secara mandiri.
Satu bulan kemudian, ketika urusan uang tunjangan di kantor
kabupaten mereda, rombongan guru dan kepala sekolah melangkah masuk melewati
gerbang dengan wajah cemas dan napas memburu. Mereka sudah bersiap melihat
kaca-kaca jendela yang hancur atau coretan kotor di dinding kelas.
Namun, langkah sepatu pantofel mereka mendadak mandek di
selasar barat. Dari arah aula, deru mesin genset terdengar konstan dan halus,
mengirimkan angin sejuk membelah lorong-lorong yang berdebu.
Di bawah pohon
kamboja halaman tengah, sekelompok murid kelas XI sedang duduk melingkar sambil
mendebat buku sosiologi dengan suara lantang tanpa ada satu pun perintah dari
orang dewasa yang memegang rotan penggaris.
Kepala Sekolah tertegun, bibirnya bergetar kaku melihat
ketertiban organik yang berjalan tanpa instruksinya. Namun, ia segera meredam
rasa takjubnya, melangkah cepat menuju podium, lalu resmi meniup mikrofon
pengeras suara yang baru menyala hingga memekikkan bunyi dengung yang nyaring.
"Perhatian seluruh murid! Masuk ke kelas masing-masing
sekarang!" seru Kepala Sekolah kaku, suaranya bergaung memotong diskusi di
bawah pohon kamboja. "Karena genset sudah berfungsi, besok pagi sekolah
akan mengadakan ujian susulan sosiologi tertulis selama tiga jam penuh untuk
mengganti waktu bulan lalu yang hilang. Seluruh kegiatan mandiri di lapangan
dibatalkan dan nama-nama yang tidak berada di dalam kelas lima menit lagi akan
dimasukkan ke dalam catatan pelanggaran berat."
Lima ratus anak itu seketika terdiam. Riuh rendah tawa murni
yang sempat bertunas selama satu bulan langsung lumat, digantikan oleh derit
kaku ratusan pasang sepatu yang kembali berjalan lambat menyusuri koridor
menuju meja-meja kaku mereka yang pengap.
Gani tidak bergerak dari podium. Ia menatap Kepala Sekolah
yang sedang sibuk menyeka keringat di lehernya menggunakan saputangan handuk
kecil yang putih bersih.
"Pak," panggil Gani, suaranya cempreng memotong
deru mesin genset yang sedang berputar halus di belakang aula.
Kepala Sekolah menengok dengan dahi berkerut tebal.
"Apa lagi, Gani? Masuk kelas!"
"Kabel busi gensetnya sengaja saya pasang terbalik
waktu membetulkannya kemarin, Pak. Kalau Bapak paksa menyalakan seluruh lampu
aula lima menit lagi, mesinnya meledak," kata Gani datar.
Ia melompat turun dari undakan podium, merogoh tang potong
karatan dari saku celana belakangnya, lalu berjalan santai melintasi lapangan
menuju kantin, meninggalkan Kepala Sekolah yang seketika berteriak panik
memanggil guru olahraga dan satpam.
Penulis: Dwi Scativana Isnaeni adalah penulis asal Banjarnegara,
tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi.
Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah
satu buku yang telah terbit berjudul "Industrialisasi Budaya: Budaya
Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban
Algoritmik". Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest
Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka,
dan dalam proses penerbitan. Email : dwi.scativana23@gmail.com.
Instagram : @scativana.