Hidup Algoritma!
Arman belajar tentang kegagalan jauh sebelum ia resmi disebut gagal. Ia mempelajarinya dari cara orang-orang bertanya. Dari nada yang pura-pura peduli, dari senyum yang terlalu cepat menyimpulkan, dari jeda yang menggantung setelah ia menyebut pekerjaannya.
“Sekarang lagi apa?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya selalu terasa seperti pengakuan dosa.
Arman bekerja lepas—kadang proyek desain kecil, kadang menulis konten untuk brand yang bahkan tidak ia gunakan, kadang membantu kenalan yang butuh tenaga murah. Upahnya tidak tetap, jam kerjanya tidak jelas, masa depannya lebih kabur daripada rencana hidup politisi.
Ia hidup, tapi hidupnya tidak sesuai template.
Di usia dua puluh delapan, dunia menganggap template itu sudah wajib.
Ibunya tidak pernah berkata Arman gagal. Ia hanya sering berkata, “Ibu kepikiran.”
Kalimat itu selalu datang di waktu yang tepat: saat makan malam, saat Arman pulang terlambat, saat tetangga baru saja menikahkan anaknya yang lebih muda.
Ayahnya lebih singkat. “Kamu harus lebih serius.”
Serius seperti apa, Arman tidak pernah tahu. Ia sudah serius hidup, serius bertahan, serius mencoba. Tapi dunia punya definisi serius yang lain: tetap, mapan, dan terlihat meyakinkan dari luar.
***
Arman mengenal Naya dari media sosial. Mereka bertemu karena komentar panjang yang jarang muncul di linimasa. Naya tampak berbeda: cerdas, artikulatif, penuh kesadaran diri. Ia bicara tentang kesetaraan, kesehatan mental, dan kemandirian dengan bahasa yang rapi dan percaya diri.
Arman jatuh bukan karena wajahnya, tapi karena keyakinannya. Ia menyukai orang-orang yang tampak tahu ke mana dunia bergerak.
Naya bekerja sebagai content creator. Ia hidup dari kolaborasi, endorsement, dan perhatian. Ia tidak punya jam kerja tetap, tapi penghasilannya stabil. Dunia memaafkan ketidakpastiannya karena ia terlihat berhasil.
Arman menyukai ironi itu, meski ia belum bisa menertawakannya.
Mereka bertemu pertama kali di kafe kecil yang sengaja terlihat sederhana. Beton terbuka, kursi kayu, dan tanaman palsu yang difoto ribuan kali. Naya datang dengan pakaian rapi, aroma parfum mahal, dan ponsel yang tak pernah benar-benar ia letakkan.
Arman datang dengan kemeja yang sudah ia setrika sendiri dan perasaan canggung yang tidak bisa ia sembunyikan.
Percakapan awal berjalan mulus. Film, buku, musik, politik ringan. Naya berbicara dengan percaya diri, Arman mendengarkan dengan kagum. Ia jarang bertemu perempuan yang bicara tanpa ragu dan tanpa minta diselamatkan.
“Aku capek sama relasi yang timpang,” kata Naya suatu kali. “Perempuan itu capek selalu diminta maklum.”
Arman mengangguk. “Aku ngerti.”
Dan ia sungguh mengerti.
Masalahnya muncul pelan-pelan, seperti retak rambut di kaca.
Naya sering menunjukkan video: pasangan muda menikah mewah, laki-laki sukses di usia dua puluhan, potongan motivasi tentang masculine energy dan provider mindset. Semua disampaikan dengan nada sadar zaman, seolah ini bukan pengulangan lama dengan bahasa baru.
“Standar itu penting,” kata Naya suatu malam. “Perempuan berhak memilih yang terbaik.”
Arman mengangguk lagi. Ia sudah terlalu sering mengangguk.
Di kepalanya, angka-angka berputar: biaya hidup, harga sewa, peluang kerja. Ia ingin berkata bahwa standar itu tidak berdiri di ruang hampa. Tapi ia tahu, penjelasan panjang jarang menang melawan keyakinan singkat.
Suatu hari, Naya bertanya dengan nada ringan, “Kamu sebenarnya pengen jadi apa lima tahun lagi?”
Arman terdiam. Bukan karena ia tidak punya mimpi, tapi karena mimpinya tidak instagramable.
“Aku ingin hidup layak,” jawabnya jujur. “Nggak kaya, tapi tenang.”
Naya tersenyum tipis. “Tenang itu relatif.”
Relatif untuk siapa, Arman ingin bertanya. Untuk orang yang punya jaring pengaman, atau untuk orang yang setiap bulan menghitung ulang harapan?
Konflik itu akhirnya pecah pada malam yang tampak biasa.
Mereka duduk di apartemen Naya, lampu temaram, kota terlihat indah dari ketinggian. Naya sedang menggulir ponselnya.
“Kadang aku mikir,” kata Naya tanpa menatap Arman, “perempuan sekarang tuh udah capek ngedidik laki-laki.”
Arman merasa kalimat itu seperti batu kecil yang dilempar ke dada.
“Maksudnya?” tanyanya pelan.
“Ya… capek sama laki-laki yang belum siap,” jawab Naya. “Yang masih nyari diri. Kita kan udah setara. Harusnya laki-laki juga upgrade.”
Arman menarik napas. “Upgrade ke mana?”
“Ke mapan. Ke stabil. Ke dewasa.”
Arman tertawa kecil. Bukan mengejek. Lelah.
“Dewasa versi siapa?” tanyanya.
Percakapan berubah jadi perdebatan yang rapi tapi tajam.
Naya bicara tentang value, tentang choice, tentang self-respect. Arman bicara tentang sistem, tentang konteks, tentang dunia yang tidak lagi menyediakan jalur yang sama untuk semua orang.
“Jangan bawa sistem,” kata Naya, sedikit kesal. “Banyak kok yang bisa.”
“Yang kamu lihat,” jawab Arman. “Yang muncul di layar.”
Naya menatapnya. “Jadi ini salah algoritma?”
Arman menggeleng. “Ini salah kita yang pura-pura nggak dipengaruhi.”
Naya menyilangkan tangan. “Aku cuma mau pasangan yang bisa jadi sandaran.”
Kata sandaran itu berat. Seolah hidup adalah bangunan yang akan runtuh tanpa satu tiang.
“Dan aku?” tanya Arman. “Aku jadi apa?”
“Kamu masih proses,” jawab Naya. “Dan aku nggak mau nunggu terlalu lama.”
Kalimat itu diucapkan tanpa marah, tanpa benci. Justru karena itu ia terasa final.
Di situlah sesuatu di dalam Arman pecah.
“Proses itu bukan alasan,” katanya pelan tapi tegas. “Itu kenyataan.”
Naya terdiam.
“Kamu bilang setara,” lanjut Arman, suaranya mulai bergetar, “tapi tetap ingin aku jadi fondasi. Kamu bicara kebebasan, tapi pakai standar lama dengan istilah baru.”
“Itu pilihan,” bantah Naya.
“Pilihan yang dibentuk pengulangan,” jawab Arman. “Kamu pikir kamu bebas, tapi kamu cuma memilih dari apa yang paling sering kamu lihat.”
Naya berdiri. “Aku nggak mau hidup susah.”
Arman ikut berdiri. “Aku juga.”
Hening.
“Kamu tahu yang paling kejam?” kata Arman akhirnya. “Bukan kamu menolak aku. Tapi kamu menyederhanakan dunia seolah semua ini soal kemauan.”
Naya menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, ia tampak ragu.
“Kalau kamu merasa terbebani,” kata Naya akhirnya, dingin, “mungkin kamu memang belum siap.”
Kalimat itu jatuh seperti palu godam.
Arman tertawa. Kali ini pahit.
“Siap untuk apa?” tanyanya. “Menanggung sistem sendirian? Menjadi solusi untuk dunia yang rusak? Atau memenuhi standar yang disusun dari highlight orang lain?”
Naya membuka mulut, menutupnya lagi.
“Kamu tahu,” lanjut Arman, “aku mau bertanggung jawab. Tapi aku menolak kepalsuan. Aku menolak pura-pura kuat di medan yang tidak adil.”
Sunyi.
Mereka berpisah tanpa drama besar. Tidak ada tangis. Tidak ada makian. Hanya kelelahan yang akhirnya jujur.
Arman pulang berjalan kaki. Kota terasa asing. Lampu-lampu tampak seperti ejekan halus: indah, tapi tidak untuk semua orang.
Di rumah, ia duduk lama dalam gelap. Untuk pertama kalinya, ia berhenti menyalahkan dirinya sepenuhnya.
Beberapa hari kemudian, Arman melihat unggahan Naya.
“Perempuan berhak punya standar. Jangan mau sama laki-laki yang belum siap.”
Ribuan like. Ratusan komentar setuju. Algoritma menyukainya. Narasi sederhana selalu laku.
Arman menatap layar lama-lama. Lalu mematikannya.
Ia menyadari sesuatu yang pahit.
Zaman ini tidak kekurangan wacana kesetaraan. Zaman ini kekurangan keberanian untuk jujur soal ketimpangan yang masih dipelihara.
Hak diperluas,
beban lama tidak dibongkar.
Standar baru diciptakan,
tuntutan lama tidak dihapus.
Dan laki-laki seperti Arman berdiri di tengahnya—diminta kuat, diminta siap, diminta diam.
Suatu pagi, Arman bangun tanpa rasa bersalah yang biasa. Dunia tidak berubah. Sistem tetap kejam. Media sosial tetap berisik.
Tapi di dalam dirinya, ada satu hal yang runtuh: keyakinan bahwa semua ini sepenuhnya salahnya.
Ia mungkin belum cukup bagi dunia.
Tapi dunia juga belum cukup jujur padanya.
Dan untuk pertama kalinya, itu sudah cukup untuk bertahan.
Penulis: Roy Widya Pratama, kadang nulis, kadang mabuk tuhan.