Sampai Kursi Itu Berdebu
Di senin pagi setelah libur tengah semester yang panjang, akhirnya kami kembali ke sekolah. seperti biasa, aku datang paling awal ke kelas.
Lorong sekolah yang masih sepi, hanya terdengar suara seretan dari langkah kakiku. Matahari yang belum terlalu tinggi tetapi cahaya keemasannya sudah menyelinap masuk ke dalam kelas melalui jendela jendela.
Aku membuka pintu kelas dengan perlahan, semuanya masih sama.
Papan tulis yang di penuhi tulisan kemarin, deretan kursi yang masih tersusun rapih, dan meja guru yang sedikit berantakan. Namun ada satu hal yang membuatku berhenti sekejap saat memasuki ruangan itu.
Satu kursi di baris kedua dari belakang.
Aku meletakan tas di atas meja, lalu tanpa sadar aku memandangi kursi tersebut.
“Masih kosong juga, ya?” tanya Naswa yang baru tiba di kelas
Aku menoleh menatap naswa
“Iya” jawabku singkat.
Naswa berjalan mendekat dan duduk di sebelah ku.
Padahal sudah hampir satu minggu.
Aku hanya mengangguk dan terdiam.
Tidak ada yang pernah menggunakan nya bahkan memindah kan kursi tersebut. Saat kelas kami harus menata ulang tempat duduk, kursi itu selalu di kembalikan ke posisi semula.
Seolah-olah semua orang sedang menunggu kehadiran untuk seseorang kembali.
Namanya Qilla.
Teman masa kecilku hingga kini duduk di bangku SMA.
Qilla bukan siswi yang paling pintar di kelas, dan bukan juga orang yang banyak bicara. Tetapi ia selalu punya cara agar suasana menjadi lebih ringan.
Kalau aku mendapatkan nilai jelek ia selalu berkata “ngga apa apa, nilai itu Cuma angka, yang penting jangan pernah berhenti untuk berusaha.”
Kalau guru memberikan tigas yang sulit, ia akan berkata “tenang, kalau kita ngga ngerti, berarti kita bisa belajar bareng.”
Lucunya, orang yang sering mengatakan hal-hal seperti itu justru sering lupa mengerjakan tugasnya sendiri.
Kami pernah di hukum berdiri di depan kelas karena menertawakan hal-hal konyol saat jam pelajaran.
“Gara-gara kamu sih!, ketawa keras banget” ucapku
Qilla menahan tawa dan berkata “habisnya lelucon mu payah banget, aku ngga bisa menahan nya”
Aku ikut tertawa meskipun sebenarnya masih merasa kesal.
Begitulah Qilla.
Sederhana, tetapi memori-memori kecil seperti itu selalu meninggalkan sesuatu di ingatan.
Sampai suatu pagi, kursi di sampingku kosong.
Awalnya kami mengira Qilla hanya terlambat.
Jam pertama, tidak datang.
Jam kedua, masih belum datang.
Sampai bel pulang sekolah berbunyi, kursi itu masih saja kosong.
Keesokan harinya, Qilla masih saja belum masuk.
Hari berikutnya pun sama.
Aku mulai bertanya tanya.
“Qilla kenapa ya” tanyaku pada Naswa
Naswa hanya mengangkat bahu
“Kayanya masih sakit deh”
Aku mengangguk. Kupikir Qilla hanya mengalami sakit biasa, karena saat liburan kami berencana untuk bermain bersama tetapi batal dikarenakan kami mendapatkan kabar bahwa Qilla sedang tidak enak badan. Mungkin beberapa hari lagi ia akan mengeluh karena tertinggal banyak sekali pelajaran.
Namun, hari-hari terus berlalu.
Seminggu.
Dua minggu.
Hampir sebulan.
Kursi itu masih saja kosong.
Saat jam siang, wali kelas masuk dan meminta kami untuk tetap tenang.
“Ibu mendapat kabar dari orang tua Qilla bahwa si Qilla sedang menjalani peerawatan, kondisinya membutuhkan waktu untuk pulih, jadi untuk sementara dia belum bisa mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah seperti biasanya”
Aku menatap kursi di sebelahku.
Kelas mendadak sunyi.
Untuk pertama kalinya, aku merasa kalau kosongnya kursi itu bukan sekedar karna seseorang sedang tidak masuk sekolah.
Aku mengeluarkan handphone dan melihat percakapan kami.
Pesan terakhir dariku hanya satu kalimat sederhana “besok masuk ngga?” tanyaku
Pesan itu telah di baca, tapi tidak pernah di balas.
Hari-hari berikutnya, sesekali aku mencoba mengirim dia pesan.
“Semoga lekas sembuh...”
“Tugas kelompok tanpa kamu boring banget”
“Kelas jadi sepi kalo ngga ada kamu”
Tak ada balasan.
Meski begitu, aku tetap mengirim nya.
Sampai suatu sore, aku menerima pesan dari ibu Qilla.
Pesan yang sangat singkat.
Qilla belum bisa kembali ke sekolah.
Penyakit yang dideritanya semakin parah dan membuat tubuhnya lemah dan ia harus menjalani perawatan lebih lanjut.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Akhir nya aku menyadari bahwa mungkin Qilla tidak sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali, tetapi sedang berjuang untuk bisa kembali pulih.
Aku ingin menjenguknya, tetapi keadaan tidak memungkinkan.
Aku hanya bisa mengirimkan pesan dan menitipkan salam melalui keluarganya.
Beberapa minggu kemudian,wali kelas kembali masuk ke kelas dengan wajah yang berbeda.
Kelas yang sebelum nya ramai berubah menjadi hening.
Beliau berdiri di depan kelas cukup lama.
“Kita semua sudah berusaha memberikan doa yang terbaik untuk Qilla” katanya perlahan.
Perasaanku langsung tidak enak.
“Namun Tuhan berkehendak lain”
Qilla telah pergi.
Kelas mendadak sunyi.
Bukan karena kami tidak mendoakannya.
Bukan juga karena ia berhenti berjuang.
Aku menundukan kepala.
Tanpa kusadari, penglihatan ku menjadi remang, air mataku mulai jatuh dan membasahi seragam sekolahku.
Aku menatap kursi kosong di sebelahku.
Kursi yang selama ini kupikir hanya sedang menunggu seseorang kembali.
Hari pemakaman Qilla terasa seperti mimpi.
Aku bersama teman teman berdiri di antara orang-orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Bagaimana mungkin seseorang yang beberapa bulan lalu masih duduk di sebelahku dan menghabiskan waktu bersama, bercanda denganku, dan mengeluh tentang tugas, kini hanya tinggal kenangan?
Sejak hari itu, kursi Qilla tetap berada di tempatnya.
Ada seseorang yang bertanya mengapa kami tidak memindahkan nya.
“Buat apa di biarkan kosong seperti itu?” tanya nya.
Aku tidak langsung menjawab.
“Karena tidak semua yang kosong harus segera diisi” kataku akhirnya.
Ia menatapku bingung.
Aku tersenyum tipis.
“Kursi itu mengingatkan kami bahwa pernah ada seseorang yang duduk di sana. Seseorang yang mungkin sudah pergi, tapi kenangannya masih tinggal.”
Tidak ada yang membantah.
Hari demi hari berganti.
Kami mulai memasuki masa-masa akhir sekolah.
Foto kelulusan mulai dipersiapkan, buku kenangan mulai diisi. Nama-nama teman mulai di isi pesan dan harapan.
Aku membuka halaman kosong di buku kenangan ku.
Untuk beberapa saat, aku tidak tahu harus menulis apa.
Lalu aku teringat Qilla.
Aku menulis:
“Untuk teman sebangku ku, terimakasih telah membuat hari-hari sekolahku lebih berarti. Kami mungkin tidak bisa melihatmu kembali di kelas ini, tetapi setiap melihat kursimu, kami tahu bahwa kenangan tidak akan pernah benar benar pergi.
Aku menutup buku itu.
Hari terakhir di sekolah tiba.
Kelas kami dipenuhi tawa dan tangisan. Ada yang berfoto, ada yang saling meminta tanda tangan, dan ada yang saling memberikan hadiah.
Aku berdiri di depan kelas.
Hanya satu kursi yang masih berada di tempatnya.
Kursi Qilla.
Aku mendekat dan menyentuh sandaran nya.
“terimakasih ya Qill” bisikku
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedih saat melihat kursi itu.
Justru aku tersenyum.
Karena pada akhirnya aku mengerti.
Kursi itu bukan tentang seseorang yang pergi.
Kursi itu tentang seseorang yang pernah hadir.
Tentang tawa yang pernah memenuhi kelas.
Tentang persahabatan yang pernah tumbuh.
Tentang seseorang yang pernah berjuang menghadapi penyakit dengan caranya sendiri.
Tentang kebaikan yang tetap hidup, meskipun seseorang itu telas tiada.
Aku mengambil tas dan berjalan ke luar kelas.
Sebelum benar benar pergi, aku sesekali menoleh.
Satu kursi itu masih di sana.
Tak pernah tersisihkan.
Bukan karna kami menunggu Qilla kembali.
Tetapi karena kami tidak ingin melupakan bahwa pernah ada seseorang yang membuat tempat itu berarti.
Dan mungkin, begitulah cara seseorang tetap tinggal.
Bukan dengan tubuhnya.
Melainkan dengan kenangan-kenangan yang ia tinggalkan di hati orang-orang yang pernah mengenalnya.
Penulis: Meisya Putri Widyanata Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.