Rumah Yang Tak Pernah Disinggahi
RUMAH YANG TAK PERNAH DISINGGAHI
Ia hafal letak luka orang-orang,
tahu kapan telinga harus dibuka,
kapan cukup duduk disebelah,
kapan peluk lebih fasih dari nasihat.
Pundaknya jadi tempat singgah.
Rahasia orang dititipkan di sakunya,
dibawa ke mana-mana
tanpa pernah menagih ongkos.
Di sudut yang tak dilewati siapa pun,
keinginannya menumpuk seperti surat
yang batal dikirim.
Lelahnya belum diberi nama.
Dirinya duduk di teras sendiri,
menunggu giliran
yang tak kujung dipanggil.
Mula-mula hanya satu “iya”
yang lahir dengan wajah “tidak”.
Lalu “iya” yang lain, dan yang lain,
sampai mengalah terasa lebih ringan
daripada menjelaskan.
Baik hati berubah menjadi kewajiban.
Ia mengira disayang
berarti selalu ada,
dan tak boleh ada yang kecewa
karenanya.
Tapi tangan yang gemar mengulurkan
sesekali boleh kosong.
Bukan untuk berhenti memberi,
hanya supaya sumurnya
tak kering sebelum haus orang lain usai.
Dan di rumah itu
ada seseorang yang belum pernah
diajak masuk,
tak pernah mengetuk,
tak pandai meminta,
sudah lama sekali
diletakkan paling akhir.
*
CINTA DAN POLITIK
Pengumpulan cinta tak sama seperti pengumpulan data.
Riset membutuhkan jaringan (network),
tetapi cinta membutuhkan waktu.
Tak semua yang terhubung benar-benar dekat,
Sebagaimana tak semua yang disebut rakyat sungguh-sungguh
mendapat tempat.
Para pejuang politik hanya sibuk mengejar
jabatan,
korupsi, anak buah, dan kekuasaan.
Cinta tak membutuhkan semua itu,
ia hanya butuh ketulusan di lubuk hatimu,
lalu diwujudkan nyata tanpa ragu.
Cinta tak tumbuh dari pidato
atau kata-kata yang ditata agar terdengar berwibawa.
Ia tumbuh dari tatapan yang tak berpura-pura,
dari percakapan sederhana yang tak membutuhkan panggung
untuk membuat dua hati saling percaya.
Cinta tak perlu dicatat di atas kertas,
tak pula disahkan oleh tanda tangan
yang sewaktu-waktu kehilangan makna.
Sebab tak semua yang tertulis akan bertahan,
dan tak semua yang terucap
lantas kehilangan arti.
Barangkali suatu hari ingatan memudar,
dan waktu menghapus banyak hal.
Namun cinta tak selalu meminta untuk dikenang,
adakalanya ia cukup pernah singgah,
mengajarkan seseorang tentang kehilangan,
lalu pergi tanpa harus menyisakan kebencian.
Sebab cinta tahu kapan harus singgah dan pergi.
Jangan takut mencintai di tengah dunia
yang gemar menghitung untung dan kerugian.
Meski cinta dan politik kerap berjalan berlawanan,
keduanya sama-sama menguji
apa yang sungguh diperjuangkan.
Politik sering kali memecah belah kebersamaan,
demi ego kelompok dan kepentingan yang sesaat.
Sedangkan cinta justru datang untuk menyatukan,
menyembuhkan luka yang tak sempat dimengerti.
Namun cinta pun tak selalu suci,
sebab manusia bisa menyelipkan ambisi
bahkan di balik kata yang paling tulus untuk dipercayai.
Maka jagalah rasa agar tak kehilangan dirinya sendiri.
Jangan biarkan ia dinilai dengan angka
atau dihargai sebatas apa yang mampu diberi.
Biarlah politik usai dengan segala janji-janjinya,
dengan segala sorak dan perebutan kuasa.
Sebab pada akhirnya,
yang tersisa bukan siapa yang paling berkuasa,
melainkan siapa yang tetap tulus
ketika tak ada lagi yang bisa didapat darinya.
Penulis: Mifta Nur Khasanah, mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta.